Monday, December 22, 2014

Kepada teman-teman SMA,

            Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian, jadi bacalah ini sejenak. Saya tahu kalian sekarang mungkin sedang sibuk dengan makalah-makalah atau esai tentang mata kuliah, maafkan saya jika saya lancang karena mengambil waktu kalian itu.
            Yang pertama, saya rindu kalian.
            Dulu saya pikir teman-teman di kampus lebih menyenangkan, lebih ingin mengajari saya, lebih meluangkan waktu untuk makan bekal bersama. Tapi setelah satu semester ini, saya rasa hipotesis saya dulu salah. Tidak ada yang meluangkan waktunya sebentar untuk itu. Individualitas, kata senior. Saya benarkan itu. Apapun yang terjadi di kampus sekarang hanya sekadar mengikuti kelas, menjalankan organisasi, dan mengerjakan paper. Hal-hal seperti membicarakan teman yang bolos bahkan tidak sempat saya lakukan.
            Saya pun ingin bertemu.
            Menyesuaikan jadwal libur tidak semudah dulu. Ada masa ketika kita pergi ke kantin ketika tidak ada guru, berjalan-jalan ketika akhir pekan, menginap di suatu tempat; secara bersama-sama tanpa memikirkan siapa yang tidak bisa hadir kala itu. Saya tahu ini seperti drama, tapi kuliah di tempat yang berbeda membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika saya libur, kalian ada jadwal belajar. Ketika kalian libur, saya harus rapat.
            Jadi, harus apa saya selain menuliskan ini?
            Saya merindukan kalian dan saya ingin kita segera dipertemukan. Untuk sekadar membahas teman yang sudah sarjana, mungkin?

Salam,

Nada Meita dan Dianovka

Bogor, Desember 2014

            REUNIAN (yang akan Datang)
oleh: Nada Meita

Bergeming di hadapnya. Meluruh airmata saya. Rubuh tubuh. Ingin menampar seluruh ingatan yang ternyata belum lalu, belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh bertabrakan dengan saya punya airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali menelan ludah ternyata panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin bicara dan ucapkan “terima kasih sebatas singgah.”

Asing. Meninggalkan kampus dan seisinya. Enggan membuat saya menjadi barang paling ketiadaan. Dalam mereka duduk di kenamaan, apalah saya hanya lilitan koran yang tersangkut di ban tukang becak. Setiap mata kuliah setiap pertemuan dosen setiap obrolan di sudut kampus bahkan dedaunan di pinggir selokan, seraya berkata kepada saya “kembalilah pada dosa. Bukan terus menjalani kemauan.” Dosa apa sebenarnya yang dimaksud si daun?

Sesempat saya duduk di lorong kampus. Terkadang, ada yang inginnya digoda. Ada yang inginnya sejujur menuntut ilmu atau bahkan ada yang ingin dicampakkan oleh dirinya sendiri; menahun kedua. Setiap hari puisi-puisi diciptakan di sini. Entah dari hati atau sekedar tulisan basa-basi. Mereka yang katanya mengerti kata-kata dan mengindahkannya, justru di mata saya merekalah yang menghancurkan estetika. Dan saya masih mematung sepuluh langkah dari sini. Di sini masadepan akan bersulang: dimulai atau pengakhiran. Layaknya sebuah masadepan siapalah yang tak ingin menatanya dengan apik? Tentu, bukan tidak mungkin akan disisihi oleh masa depan sendiri.

Digelontor begitu saja. Dan masih tentang airmata. Dan masih tentang masa depan juga segala pertemuan-pertemuan yang sungguh tak diinginkan. Setiap hari kertas-kertas menumpuk di meja dosen, di belakang dose nada asisten dosen yang malu-malu melempar angkuh; sebetulnya saya sudah memahaminya. Di tiap tumpuan, kaki-kaki tidak melandaskannya pada do’a. Ujungnya berkah tidak menyampaikannya pada alam dan tidak sampailah mengaminkan bersama. Sudilah kiranya menengok setulis-tulisnya abad yang belum berakhir begini. Canda, tawa, pesta, bahkan main perempuan. Di sini katanya adalah tempat segala masa depan diampu.

Tepuk tangan pertama, akan datang pada baju toga yang kebesaran. Juga bunga-bunga pemberian, di genggaman. Setebal apa masa depan akan dibawa pulang atau mendulang kesuksesan? Atau dibawa hanya sampai tahap pernikahan? Semua ini akan menemukan jawaban, ke depan. Ya, ke depan dari tubuh yang sedari mematung di lobi kampus. Anak dan suami, bersama mobil-mobil mewah akan dibawa saya, begitu dalam dada. Lain hal dengan yang sedulu-dulu tidak ingin menjadi guru. Hanya asal-asalan atau ternyata tersesat disendirinya pilihan.

“Terima kasih, Reza.” Ucap saya hati-hati pada pria yang kini berdasi. Masih bergeming di tempat saya berdiri, saya lihat pria itu mendekat. Langkah kakinya mantap.

“Untuk apa, Vika?” katanya sambil melihat mata saya. Saya tidak ingat mengapa mata itu begitu teduh sedari dulu, membuat saya ingin bersemayam saja di dalamnya. Tapi saya sadar, pria bermata teduh itu hanya meninggalkan goresan pada hati saya.

“Untuk hal-hal yang kamu ajarkan kepada saya. Apapun itu. Dan, selamat atas gelar sarjanamu,”

Pria itu semakin  mendekat dan dalam gerakan singkat, ia memeluk saya. Saya pernah merasakan ini beberapa tahun yang lalu sebelum saya memutuskan untuk berhenti. Rangkulannya masih membuat saya menjadi jatuh dalam tubuhnya. Menjadi utuh; menjadi luluh. Astaga, mengapa seperti ini?

“Maaf.” Hanya itu yang saya dengar dari mulutnya, sedetik kemudian Reza melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan saya lagi. Dunia saya dibawa bersama langkah kakinya. Saya lihat dia tersenyum kepada wanita itu; Alika.

Ingin rasanya menampar seluruh ingatan yang ternyata belum lalu, belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh bertabrakan dengan saya punya airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali menelan ludah ternyata panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin bicara dan ucapkan “terima kasih sebatas singgah.”



Bogor, 18 Desember 2014

Cerpen ini versi pertama "Reuni (yang akan datang)" ditulis pertama kali oleh Dianovka Kusumastuty.

Wednesday, October 1, 2014

Bekasi dalam Kenangan




Salam kenangan.

1998, Cibitung-Bekasi. Ayah membeli rumah di sini. Aku yang baru lulus sebuah taman kanak-kanak di Kebon Nanas, Jakarta Timur dan saat itu sedang diwisuda tanpa orangtua. Ya. Ayah sedang bekerja dan Mama sibuk menata barang-barang untuk diangkut sedemikian rupa untuk kami sekeluarga pindah rumah. Sebenarnya tak rela meninggalkan Jakarta, tempat kelahiranku. Di sini sudah banyak teman dari kecil apalagi dididik dan diasuh oleh kakek-nenek karena kedua orangtua sibuk bekerja. Disaat semua bahagia karena didampingi orangtua saat diwisuda, kecuali aku yang hanya berdandan ala kadarnya, dibantu Ibu Guru tercinta. Usai wisuda, sore kami berangkat ke Cibitung. Mendengar namanya saja saya sudah sangat asing. Ayah memilih sebuah perumahan yang belum terlalu ramai bahkan hanya beberapa yang baru berpenghuni karena perumahan ini baru selesai dan masih harus dibangun kembali.

     Perumahan Bekasi Regensi 2, disini rumah baru kami. Tetangga bisa dihitung dengan jari. Aku, yang sewaktu itu masih menjadi anak tunggal dan sangat bosan di rumah. Umurku belum mencukupi karena lulus TK terlalu dini. Sepi. Sangat sepi. Hanya beberapa yang baru kami kenal. Ah ya, dari logat berbicara disini pun aneh. Aku selalu tertawa geli bersama Mama kalau ada yang berkata 'Het deh bocah ora danta pisan' 'bagenin bae' 'bocah mablang ya mpok' dsb. Lucu sekali. Apalagi kalau ada nenek-nenek 'ngangon' kambing lewat di depan rumah kami. Logatnya selalu begitu. Tidak Beliau saja, ada juga tukang sayur dengan teriakkan khasnya 'mpok nyayur mpok lah ini kita udah bawa sayuran banyak inih' apalagi kalau menawarkan dagangannya sambil masuk ke dalam rumah 'yeuila mpok rumahnya gede bangat da ah inih kita copot sendal duluyak tar ubinnya kotor.' Haduh, sungguh lucu. Seiring waktu, keluarga kami pun lekas akrab dengan para tetangga. Bahkan kami lebih dari disebut layaknya keluarga. Cibitung, 2000 aku mulai bersekolah di SDN Wanasari 12 dan Mama baru melahirkan adik lelaki aku beberapa bulan lalu. Karena perumahan kami pada waktu itu masih terlalu angker dan sangat sepi, bahkan harus melewati kali yang begitu seram dan bersebrangan langsung dengan sebuah kampung. Di sekolah, ternyata tidak hanya aku saja yang bukan warga asli Bekasi. Dan setelah lulus SD aku mempunyai impian untuk melanjutkan ke salah satu SMP Negeri favorit di Tambun Selatan, SMPN 1 TamSel. Apalah takdir berkata enggan, aku tergeser dengan mereka yang menyogok. Padahal, aku merasa mampu dan bisa ketika menjalani tes tulis serta pencapaian nilai-nilaiku semasa SD. Ayah tentu kecewa denganku. Ia, hampir menyekolahkanku di salah satu sekolah swasta islam di Tambun. Tetapi Mama berusaha menyekolahkanku di negeri bagaimanapun caranya. Singkat cerita, Mama menemukan salah satu SMP Negeri di kecamatan Cibitung yang memang masih membutuhkan siswa. Spontan aku sangat gembira karena sekolah yang masih negeri tanpa tes.

     Ternyata, sekolah yang akan aku tempati adalah sekolah di lokasi terpencil jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Apalagi, kehidupan di perumahan sudah mulai ramai pada waktu itu. Harus 2x naik angkot untuk menuju ke sana. Yap. SMPN 3 Cibitung tepatnya di Desa Kertamukti. Sekolahnya ternyata masih menumpang dengan SD. Aku sungguh malu. Sebab, dahulu aku bersekolah di SDN yang bertaraf nasional juga teman-teman yang mayoritas bukan warga asli Bekasi. Tapi disini? Hampir rasanya tidak mau bersekolah di sini. Sekolah di kampung dengan teman-teman yang mayoritas tak ku kenal. Ada beberapa teman SD juga satu perumahan denganku dan sekarang pun satu SMP. Hanya beberapa. Kemana-mana kami bersama bahkan sempat terjadi konflik pertemanan ketika kami sedang membeli jajan, sekelompok geng terkenal dan mereka asli Bekasi pada waktu itu berkata "ih pegih yuk ada bocah perumahan ora mau begaul ama kita. sombong." Aduh, siapa juga yang nggak mau bergaul dengan kalian, kita cuma takut. pun, bahasa mereka nggak sepenuhnya kami tahu maknanya apa, kataku dalam hati. Soal makanan pun jujur aku sempat jijik karena didominasi oleh petai dan jengkol yang di rumah tidak pernah mama masak. Baunya sangat menyengat membuatku kadang tidak nafsu makan ketika jam istirahat berlangsung. Di tahun kedua bersekolah di sini, aku dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua OSIS. Rasanya senang cuma agak sedikit takut jika mengatur tingkah laku mereka yang aku anggap berbeda denganku dan beberapa teman lainnya (yang tinggal di perumahan juga). Semua tlah dilewati. Menjenguk teman sakit, berdiskusi soal pelajaran dan organisasi, tegur sapa, senda gurau, dan semua perihal adaptasiku kini mulai luntur dengan mereka. Ternyata, di balik itu semua, aku jadi tahu soal bagaimana sisi lain dari Bekasi dari mereka yang ternyata warga asli sini. Dari cara berpikir, logat, kesenian hingga jenis makanan. Terkadang, kita selalu tidak mau ingin tahu soal kehidupan yang sama sekali berbeda jauh dengan kita. Padahal, itu merupakan pengalaman berharga yang takkan datang di lain kedua. Kesederhanaan mereka, selalu kuingat sampai detik ini. Bahkan, hanya untuk belajar mengetik (TIK) pun kami harus jauh ke SMPN 1 Tambelang (sungguh ini sangat jauh, padahal jarak rumahku  ke SMPN 3 Cibitung sudah kuanggap paling jauh), hanya karena sekolah kami tidak memadai dari segi fasilitas. Padahal, dulu sewaktu SD ketika ingin TIK bisa segera mengunjungi ruang komputer. Atau ketika di rumah, langsung saja menyalakan komputer yang Ayah belikan baru beberapa bulan lalu untukku. Lagi-lagi aku belajar bagaimana susahnya untuk hidup dan jauh dari keramaian. Ya, sekolahku dua kali menumpang di SD yang berbeda. Kedua, di salah satu SD di kampung Pisang Batu. Sekolah yang kami harus lewati sebuah kali CBL (Cibitung Batas Laut) dan setiap berangkat ke sekolah, aku harus berjubel dengan para ‘mpok-mpok’ dengan bau beraneka rupa lantaran mereka usai pulang dari pasar atau sekedar keliling berjualan. 2008, SMPN 3 Cibitung resmi memiliki gedung sendiri.

     Awalnya, ketika aku belum mengetahui dimana gedung baru sekolah sendiri, nyatanya terkaget-kaget karena setelah aku melihatnya, sekolah yang dihimpit kanan-kiri-depan-belakang sawah semuanya. Sungguh indah sekolahku. Belum lagi, ketika ingin menuju ke sekolah harus berjalan kaki masuk ke dalamnya walaupun dekat dengan jalan raya. Selama SMP, aku mengikuti perlombaan di salah satu SMA di daerah kota Bekasi. Sebagai SMP yang hanya berada di kawasan perkampungan, aku dan teman-teman berusaha dengan kemampuan yang kami bisa dalam bidang PMR. Ya, walaupun kami datang berbondong-bondong hanya dengan koasi yang kami sewa secara bersama. Tidak ada keminderan dalam diri ini, hanya saja sering kuingat temanku bilang ‘Set da ah, ini kolaan bagus pisan ya Pik. Kolaan kita kapan begini inih?’ aku tertawa geli mendengar logat temanku. Lucu sekali. Ingatanku setiap pulang sekolah, teman-teman yang lelaki selalu menaiki bagian atas koasi. Kelucuanku jatuh pada ingatan ketika sedang jajan. Sekolah kami tidak mempunya kantin, setiap hari kami jajan di rumah salah satu warga yang membuka warung. Ketika aku ingin mengambil suatu jajanan dan kesusahan mengambilnya, sang Ibu/mpok mereka biasa memanggilnya--Ibu warung berkata, ‘Neng, dibetot bae Neng dibetot.’ Karena aku tidak mengerti apa artinya, aku tidak menggubrisnya. Si Ibu menertawakan aku, dan kembali berkata, ‘Lu orang perumahan ora ngarti betot yak? Betot itu artinya tarik. Daritadi gue pan bilang betot bae Neng….’ Aku terdiam sangat malu disusul tawa teman-teman yang juga sedang jajan disitu. Ah, ya satu lagi. Soal penamaan di kampung tersebut sangatlah unik. Ada yang bernama Pisang Batu, Ceger, Bulak Kunyit, Kedaung dan beberapa lagi yang aku sudah agak lupa. Tetapi, tidak melupakan kenangan di dalamnya. Dan aku sangat bersyukur betul sebab bersekolah di kampung rupanya membuat kesederhanaan tidak bisa dibayar mahal begitu saja. Juga pelajaran berharga kesetiaan sesame kawan. Cibitung, 2002. Banjir besar melanda Bekasi, termasuk perumahan kami. Ya, semua disapu habis oleh banjir. Tak ada yang tersisa pada waktu itu rumah kami belum direnovasi, masih BTN asli. Setiap kali turun hujan, perumahan kami selalu dilanda banjir. Atau mungkin karena terlalu dekat dengan kali pembuangan sampah dan anehnya terkadang di antara gang lainnya, gang rumah kami-lah yang paling khusyu terendam air bah.

     Tahun demi tahun sudah kami lewati sekeluarga, dan banjir terparah setelah 2002 menimpa kami di th 2012 dan th 2013. Rumah kami kini sudah direnovasi, bahkan tangga di depan rumah kami sangat tinggi untuk mengantisipasi terjadinya banjir lagi. Terakhir dilanda banjir, di ruang tamu setinggi paha orang dewasa. Apa kabar di luar? Setinggi leher orang dewasa. masyaAllah sungguh nikmat tinggal di Cibitung ini. Dulu, aku sangat malu ketika ditanya teman-teman di Jakarta 'sekarang tinggal di mana?' Jawabku, 'Cibitung.' Mereka kembali bertanya, 'Di mana tuh?' Lantas aku hanya terdiam. Juga teman-teman SD-ku dahulu bertanya 'sekarang SMP di mana Vik?' aku cuma menjawab 'SMP gue mah pelosok. Kalian pasti nggak ada yang tahu' sontak mereka meyorak dan menertawaiku terbahak-bahak. Ya sudah, bagiku sudah biasa diperolok hanya karena tinggal di Cibitung ini. Aku dan adik-adik kelasku semasa SMK pernah diundang menonton pementasan teater Arah dimana isinya mengenai pertunjukan rakyat khas Bekasi dipimpin oleh Bang Ical dimana Beliau adalah pelatih teater kami semasa SMK. Mengapa Ia mengadakan pementasan tidak di gedung teater? Agar, teater dan seni bisa lebih dekat ke penonton, begitu ujarnya. Pementasan ini gratis dan menyuguhkan beberapa kesenian tradisional khas Bekasi seperti lenong yang menggunakan logat Bekasi serta menyelipkan beberapa jenis makanan khas Bekasi yang alhasil mengundang tawa selama kami menontonnya dan sebuah tari topeng Bekasi yang dibawakan oleh seorang penari tradisional yang masih sangat belia. Disuguhkan pula silat khas Bekasi yang mana merupakan bagian dari komunitas asli Bekasi. Di Bekasi ini, aku mulai mengikuti komunitas Malam Puisi Bekasi (MPB) sejak 2013. Juga salah satu komunitas bahasa yakni Fakta Bahasa Bekasi, atau komunitas lainnya di Bekasi yang ternyata sekarang pemuda-pemudi Bekasi cenderung kreatif menyalurkannya ke dalam bentuk hal positif melalui komunitas tersebut. Bahkan, bisa dilihat jika malam minggu tiba, di tempat strategis seperti Alun-alun Kota Bekasi sangat ramai dipenuhi oleh berbagai komunitas baik dari bidang seni hingga pecinta binatang. Kembali ke ceritaku, Ayahku bekerja di Jakarta Utara, jika berangkat ke kantor harus pukul lima pagi. Dahulu, belum mempunyai kendaraan dan sangat jarang angkutan umum. Alhasil, Ayah sering naik becak yang setia menunggu di depan perumahan kami. Pemandangan itu sudah tidak adalagi. Ya, becak sudah tergeser dengan motor anak-anak muda yang ugal-ugalan atau nongkrong di kedai makanan. Bergaul dengan banyak teman yang tidak hanya dari Cibitung, usut punya usut dari dahulu yang terkenal gaul adalah anak-anak daerah Tambun. Entah dari segi ekonomi, fasilitas yang mereka punyai lebih lengkap seperti kedai makanan atau baju atau pelayanan publik. Pasar Induk Cibitung, dahulu sangat bersih dan rapi apalagi masih ada satu supermarket di sana. Kini, jika melewatinya pasti disuguhi bau sayur-mayur yang sudah membusuk ditambah tidak terlihat lagi aspal di dalam pasar yang dahulu dangat bersih kini tertumpuk sayur dan kotoran yang sangat becek. Sangat bau. Ditambah jika melewatinya ketika hujan tiba. Jangan harap kamu bisa lancar melewatinya dan tidak terlilit sayuran pada ban-ban kendaraanmu. Ya itulah. Justru pasar induk Cibitung menjadi patokan untuk menuju ke rumah. 'pasar induk masuk dalam udah nanti lewatin rel KA lurus terus sampai ketemu perumahan bekasi regensi 2 sebelah kanan' pasti begitu. Sebuah rel KA Cibitung yang selalu kami sebrangi, juga banyak menelan korban. Entah karena kelalaian petugas serta ketiadaan fasilitas yang sangat minim, petugas yang tidak berpengalaman serta kecerobohan pengguna jalan yang terus menerobos selama kereta belum melintas padahal sudah ada bunyi peringatan dan batas pawang diturunkan. Lalu siapakah yang patut disalahkan?


     Cibitung.... terlalu banyak cerita, kenang serta suka-duka. SMK, bersekolah di salah satu SMK Negeri nomor 2 di Kab. Bekasi yang berlokasi di Cikarang yang kebanyakan orang menyebutnya kota industri. Bahkan jujur saja, aku baru mengetahui bahwa Cikarang adalah ibukota dari Kabupaten Bekasi. Tiga tahun mengenal Cikarang, juga sempat magang di salah satu perusahaan elektro di kawasan International Egypt membuatku masih belum mengenal Cikarang. Yang aku tahu hanya cukup sampai SGC. Ya, SGC disebut-sebut mal terbesar di Bekasi, entahlah. Sentra grosir paling ciamik di Bekasi. Cuma Bekasi yang menyuguhi mal sebagai pusat perbelanjaan di tengah-tengah kerumunan pasar. Mengenal Bekasi yang belum mahir rupanya, Tambun 2012 aku bersama kedua guru Bahasa Indonesia dari SMK turut menghadiri workshop sastra di Gedung Juang Tambun Selatan. Karena aku menggandrungi sastra, maka beliau-beliau ini mengajak aku untuk menyalurkan bakatku di bidang sastra dan bertujuan untuk mengenal teman-teman dari sekolah lain dan guru-guru se-Kabupaten Bekasi. Di gedung peninggalan Belanda yang sudah usang namun masih terlihat kokoh dan selalu mengeluarkan bau kotoran kelelawar ini, kami semua kedatangan salah satu penulis sastra senior di Indonesia, salah satu sastrawan. Dua hari menjalani workshop hingga membentuk kelompok musikalisasi puisi. Di sana, puisiku berkesempatan terpilih dan membacakan puisi kembali bersama rekan-rekan kelompok walaupun kita semua berbeda sekolah. Hadir pula Budayawan pantun Bekasi, Kong (aku lupa namanya). Kami diajarkan bahwa seni melalui pantun bisa saja dibuat menggunakan bahasa Bekasi, tak perlu malu dengan budaya sendiri. Beliau memberikan materi ‘situn’ yaitu puisi dan pantun. Selama workshop, aku pelan-pelan mengamati gedung juang bahkan sempat ke bagian belakang yang rupanya mempunyai sebuah sumur tua. Gedung yang akhirnya dijadikan lambang dan saksi perjuangan Kabupaten Bekasi ini rupanya menjerit untuk ditangani tidak hanya dipakai untuk sesekali dibanggakan dengan wilayah lain. Aku duduk tepat di belakang Bupati Bekasi pada waktu itu, Pak Sa'aduddin, yang turut membuka acara workshop ini. Dimeriahkan pula oleh padus Teater Korek dari Universitas Islam 45 Bekasi (perguruan tinggi kepunyaan Bekasi). Sempat membacakan puisi dan teater di Pemda, pada waktu itu diundang ekstrakurikuler kami untuk pentas di sana. Sempat pula bertengkar dengan para kakak panitia lomba baca puisi tingkat SMA se-Kota Bekasi karena mereka tidak mendahulukan sekolah kami yang memang satu-satunya yang berasal dari Kabupaten Bekasi dan alhamdulillah mendapatkan juara 3 bahkan diusir karena kesalahpahaman teknis pada waktu itu. Itulah perjuangan. Menjadi anak kabupaten yang minim fasilitas. Kabupaten yang tercinta, sudilah kiranya ternyata kita (yang katanya) mempunyai seorang Bupati yang masa bakti hampir beberapa tahun lagi. Juga melalui ajang duta pariwisata semoga kabupaten Bekasi tetap menjadi kabupaten yang masih ada budaya tertinggal baik belum/sudah diketahui dan bagaimana pula pintar dalam hal menjaga. Dan kini, Kota Bekasi menjadi lambang dalam pusat perbelanjaan kota. Sebut saja Mega Bekasi, BCP dan MM yang mereka saling berhadapan. Juga sekarang yang sedang naik daun adalah SMB (Summarecon Mall Bekasi) tempat nongkrongnya anak muda Bekasi. Tinggal di Kota ataupun Kabupaten, layaknya dua perbedaan yang menyaut diri kami adalah satu: Bekasi. 2014 karena dukungan orangtua dan teman-temanku mengikuti ajang Abang Mpok Kabupaten Bekasi. Ketika audisi pun hampir salah kostum dan belum ada persiapan dalam pendaftaran. Aku, menjawab beberapa pertanyaan juri.


   Bernyanyi dan membaca puisi pun aku lakui. Lolos bersama peserta dari wilayah 5 dengan audisi ke tahap semifinal, aku rasa ini bukan ajang main-main. 8 Juni Hotel Grand Zuri---dihantar kedua orangtua dan berakhir hanya pada tahap semifinal dan ikut berbahagia kepada teman-teman seperjuangan lolos hingga tahap final. Semua yang kujalani adalah bagian mempelajari Bekasi, tidak hanya mendadak ketika ditanyakan oleh juri. Sejak 1998. Kini, menjalani kuliah di semester lima salah satu Universitas Negeri di Jakarta, membuatku tidak merasa minder menjadi 'bocah' Kabupaten. Jika ditanya kawan kampus, 'rumah lo di mana?' 'Cibitung' jawabku 'hah di mana tuh? emang kedeteksi sama google maps?' Dan aku hanya tersenyum simpul menjawabnya dalam hati 'kalian harus tahu, Cibitung, ada tawa duka pengalaman pelajaran berharga hingga kelucuan yang tak terhitung............'

Berikut kata-kata asli Bekasi yang masih kuingat beberapa, selama bersekolah di SMPN 3 Cibitung:
ora = tidak
danta = jelas
tessi = sendok
bangen = biarin
awang = malas
ilok = masa
bae = aja
kecandak = kesampaian
orson = minuman seperti sirup
wadon = perempuan
murun = kali (bukan kali tempat air bermuara)
gawean = kerjaan
betot = tarik
Nde = bibi

Sudah, hanya itu beberapa yang masih kuingat.
"LAH BAGENIN BAE KITAMAH BOCAH CIBITUNG. ORA MASALAH. APAKALIH MASALAH BUAT ELUH? BAGEN GEH RUMAH DI BEKASI ORA DANTA. MANGNAPA?! KE BEKASI, BUDAYA BEKASI KALO BUKAN KITA NYANG BUDAYAIN SIAPA LAGI SIH?"

Mohon maaf apabila ada kekhilafan dalam penyampaian cerita ini, kurang lebih mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Jadi, masih malu menjadi warga Bekasi?:))))



Salam.

Cibitung, 25 Agustus 2014 04:01 WIB


Tulisan ini saya buat sebagai hadiah ulangtahun media @GoBekasi di usia menahun satu pada hari jadi. Terimakasih @GoBekasi karena membuat saya mengingat kembali kenangan di ulu hati. Apa dan siapa dalam mendo’a, selalu membungkus kita dalam semoga. Amin di segala amin. Semangat selalu dalam kembang senyummu, utk para Redaksi staff dan khususnya Pemred Radar Bekasi yang telah mendedikasikan diri utk Bekasi ini. Hangatnya berita yang disampaikan, semoga menjadi kekal dalam ingatan. Aamiin.

PUJANGGA MALAM

Pujangga Malam

Terduduk aku pada bibir trotoar dan ditemani belasan anak jalanan yang kelaparan. Pada genangan bekas hujan tadi sore, aku melihat tulisan-tulisanku abai dihempas kontemporer. Pada paragraf kedua di puisi keenam belas yang kubuat sewaktu SMP, aksaranya luntur. Anak jalanan masih kelaparan. Sedangkan aku, masih mematung menyelesaikan tulisan. Tak tahu sebetulnya aku menulis untuk apa, siapa dan mengapa tulisan ini harus ada.
                “Jangan suka asal menulis puisi, nanti ditolak redaksi,” kata si Isteri. Aku pusing setengah mati. Sebab, tidak ada yang lebih dipikiri selain bagaimana caranya membeli susu untuk bayi kami. Menjadi pemburu berita lalu menyerahkannya kepada editor supaya naik cetak sebetulnya tidak mudah. Sebab lagi, sastra rupanya kurang bisa diandalkan untuk mengganjal perut. Demi kelangsungan hidup, kutanya lagi isteri alasannya mau dijadikan sampai ke pernikahan. Karena, sudah termakan banyak rayuan jawabnya. Rayuanku?
                                                                                                                ***

Esok pagi, ini sudah harus menjadi berita yang paling menggegerkan. Gedung yang sudah cukup lama menjadi acuan berbahasa, katanya sementara dipindahkan. Aku membuat berita tersebut dengan semena-mena. Kutulis di sana bahwasannya ini tidak lepas dari para ahli yang menjadi korban politik berdalih. Ingat, ini demi membeli susu untuk bayi kami. Namun beruntunglah aku memperisteri yang tidak terlalu banyak menuntut. Seperti katanya tempo hari, Ia ingin kunikahi lantaran kenyang puisi. Ini agak membuatku bernafas lega. Dan malam ini, masih dengan anak jalanan yang kelaparan aku terbentur satu tulisan (yang tidak bisa kuselesaikan). Entah apa sebabnya, akhir-akhir ini aku sering banyak pikiran. Padahal kukira otakku sudah mau pecah hanya karena sekerdus susu bayi. Aku dan isteri kelaparan sebetulnya tak apa, kita masih punya tetangga. Kutengok kembali tulisanku, sebetulnya darinya aku bisa dapat apalagi selain susu bayi? Kupandangi, kubaca lagi, kueja kembali barangkali ada diksi yang tidak puisi. Bahkan ini bisa jadi membawaku pada jeruji besi. Ah, kupikir hanya barangkali…
Tak seperti siang yang terik, lampu lalu lintas yang jatuh pada merah justru sepi diantri kendaraan. Aku masih belum bisa bergegas dari tulisan ini. Kutengok ke arah anak jalanan, mereka telah diranggas malam yang semakin kuduk. Lalu di sini, akupun masih saja terduduk.

                Guyonan isteriku ada benarnya juga. Jangan asal menulis puisi, katanya. Sambil mengaduk kopi sisa memungut dari pasar Pagi. Maklum, kami ini keluarga yang hanya bertengger pada puisi. Beberapa kali aku mangkir dari redaksi. Ini semua tidak banyak untuk menghasilkan uang, tidak terlalu menjadikan perut kenyang. Tapi lagi-lagi cuma puisi yang paling budi pekerti.

Jaket pemberian mantan pacar sewaktu SMA dulu rupanya tak bisa menghangatkanku malam ini. Sama rupanya seperti yang pernah kami jalani, karena hanya ingin didapati lalu lenyap ditelan birahi. Seharusnya sudah tak kupakai lagi jaket ini. Tapi bisa apa, aku cuma punya ini. Kembali lagi ke persoalan tulisan, apakah Ia bisa menjadi sebungkus makanan atau akan menjadi penolakan yang begitu memalukan? Aku ketar-ketir sebetulnya. Pukul satu pagi. Percayalah, hutang yang paling abadi bukanlah uang melainkan tulisan. Jujur, sudah berapa banyak tulisan yang molor kukerjakan. Jangan tulisan, naskah orang lain pun menumpuk di surat elektronik dan belum sempat kurampungi. Maklum lagi, aku masih memikirkan susu bayi. Kalau hanya permintaan tolong dari seorang teman kupikir tidak apa. Soal menulis, aku memang sangat berada di dalam fantasi pada tengah malam begini. Malam ini kupilih di trotoar. Di depan layar komputer menurutku sudah diambil alih oleh para penulis kancil yang hanya satu-dua tahun terkenal lalu rilis buku. Dengan kertas seadanya, pena dengan tinta hampir habis kucoba selesaikan tulisan:

Malam bertambah dingin,
Dilarung sepi
Pujangga seperti aku ini.
Hanya beberapa bait puisi,
Sebab
Aku ini terus ditikam kata-kata
(yang tak boleh kehabisan kata-kata),
pula.

                                                                                     Rawamangun Muka, 1 Oktober 2014 

Monday, September 8, 2014

KEPADAMU


Kepada Haikal,
            Terkantuk-kantuk sudah aku menulis surat ini untukmu. Sudah hampir tengah malam sehingga aku tak dapat memejamkan mataku, yang ada justru kamu. Jadi, kubiarkan saja diriku menuntaskan rindu.
            Mari kita mulai dari, kamu apa kabar, Haikal? Lama sekali rasanya tidak menanyakan kabarmu. Ya, semenjak kamu memutuskan untuk pergi ke Westrn dan melanjutkan sekolahmu, aku tidak mencoba lagi menghubungimu. Terlalu sakit rasanya ketika tahu orang yang kau cintai diam-diam harus pergi dari jangkauanmu. Maafkan aku: jika kau menganggap aku pengecut.
            Aku baik-baik saja jika kamu ingin tahu. Indonesia masih sama dengan kemacetannya. Tidak banyak yang berubah selama kamu pergi. Aku melanjutkan pendidikanku di Depok sekarang –di salah satu universitas impianku. Sudah semester lima dan kemarin aku baru menerima IPK. Sedangkan kamu, bagaimana denganmu?
            Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan disini, Haikal. Jarak kita terlalu jauh (setidaknya bagiku) sehingga hanya sesekali saja aku bercerita panjang lebar. Semoga kamu berkenan membalasnya.
            Haikal, aku jatuh cinta padamu.
            Aku lupa sejak kapan sadar akan hal itu. Ini mungkin terlalu cepat, tapi sungguh, aku selalu merindukanmu. Merindukan saat-saat kita mengerjakan tugas bersama, menemani kamu seharian di laboratorium fisika, atau melihatmu tertawa. Sebut aku klise. Terserah. Tapi itulah yang aku rasakan. Kamu pasti pernah jatuh cinta juga kan, Haikal? Lama aku memendam hal ini dan baru kuucapkan sekarang.
            Haikal, aku menyesal.
            Kenapa kamu pergi begitu cepat –bahkan sebelum aku memberikan hadiah perpisahan kepadamu? Sebuah kecupan, misalnya? Selepas dari peristiwa di bandara itu, aku ingin menyatakan bahwa aku jatuh cinta padamu. Tapi belum sempat aku berbicara tentang perasaanku, kamu beritahu aku terlebih dahulu tentang mimpi-mimpi kamu. Dulu aku bungkam karena tidak ingin menjadi penghalang untuk itu. Namun sekarang aku sadar, seharusnya aku menyatakannya. Setidaknya walaupun kamu tidak bisa membalas perasaanku, aku sudah berusaha jujur padamu. Seharusnya tidak aku pendam rasa ini sendirian. Sampai sekarang.
            Haikal, aku akan menikah.
            Ini hal terakhir yang akan aku ceritakan. Maafkan aku jika baru mengabarimu. Aku akan menikah, Haikal. Dengan Farhan –laki-laki yang dahulu kamu benci karena terlalu ambisius. Dulu dia sekampus denganku. Sekarang sudah mendapat gelar sarjana. Semenjak kamu pergi, Farhan terus mendekatiku. Awalnya hanya sekadar hubungan antara senior dan junior, tapi lama-kelamaan Farhan semakin ambisius. Tak perlu kuceritakan bagaimana ambisiusnya dia, kamu pasti ingat tentang kerja kerasnya meraih juara olimpiade matematika tingkat nasional dulu, bukan? Ya, ketika itu Farhan melakukannya kepadaku.
            Aku tetap mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik aku menuntaskan suratku ini. Besok lusa Farhan akan datang. Ayah akan melepaskan aku kepadanya. Kamu bisa datang, Haikal? Minimal untuk melepas rinduku padamu.
            Aku mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik ini.
Salam,
Adisti.

Bogor, 26 Agustus 2014.
NB: kak Vika, tolong dibuat bagian narasinya. Kalau bisa, pakai balasan dari Haikal ya. Judulnya juga bisa diganti sih hehehehe.

***


Balasan Pertama


Yang pernah dicinta…

Western, August

“….Saya sudah membaca suratmu, Adisti. Tigabelas hari lalu setelah suratmu sampai, kuletakkan di atas almari supaya tak ketahuan isteri. Kalimatmu sungguh apik. Bahkan, saya rasanya ingin melebihi seluruh jujurmu bahwasannya sebelum Farhan membawamu ke gerbang pernikahan, saya sudah lama menyimpan seribu harapan: Kepadamu. Disini, sudah terkumpul puisi-puisi yang saya tulis kala senggang di sudut kota. Tentangmu Adisti. Saya tak ingin banyak berkata-kata lewat surat balasan ini. Sebab, saya hanya ingin berlama-lama memandang wajahmu saja –tanpa luruh kedalam topik bicara. Adisti, percayalah bahwa Farhan hanya sampai gerbang pernikahan, bukan linikala kebahagiaan. Tidak banyak, kan? Jangan sering menangisi saya. Kita sudah sama-sama sudah menapaki bahagia walaupun tidak dengan yang dicinta. Tetapi kamu: yang pernah dicinta.”


Mencintaimu sekedar perlu,

Haikal





Bekasi, 31 Agustus 2014




Balasan Kedua

Sampai

Jatuh aku kemarin sore. Ternyata, menahun kangenmu terbalas sudah dengan kubalas surat ini. Adisti, kamukah ini? Aku sangat rindu sekali. Dulu, rasanya aku ingin mengajakmu kawin lari. Bagaimana sakitnya mencintai dan tidak bisa memiliki?

Kata orang, mencintai tak harus memiliki. Apa kamu juga demikian halnya, Dis? Aku merasa bodoh membalas suratmu dengan pertanyaan. Seharusnya, balasan ini menjadikanmu kelegaan niscaya kamu bahagia disana walaupun dengan suamimu.

          Suratmu sampai padaku, Adisti. Cintamu sudah mengamar semenjak kuliah. Sayangnya aku kalah telak oleh Farhan. Mencintai isteri yang bukan kehendak sendiri, justru menyimpanmu; isteri oranglain. Aku memang tak sepandai kamu yang mahir menyusun kata, padahal hanya sekedar menyampaikan kangen. Juga proses perjalananmu menuju aku. Hanya suratmu yang sampai. . Tidak perasaanmu untuk kita. Apalagi kamu. Aku bisa apa? Lagi-lagi aku bertanya, maafkan aku. Aku hanya bisa memohon maaf. Aku sudah mengantuk, Dis. Pekerjaan kantor hari ini dan taklupa dua buah puisi tentangmu, Adisti…. Kuharap kita bisa bertemu, Kita dengan anak-anak kita.



 ( Lalu melipatnya, menyelipkannya ke saku celana)




“Isteriku masih terjaga, Adisti… sampai jumpa di surat tersembunyi selanjutnya.”




Peluk cium,



Haikal


                                                                                                           

Rawamangun, 9 September 2014 23:27 WIB





Wednesday, August 20, 2014

SEROJA

sementara kangen melulu sanggup

di batas ruang, kita sejendela.

seseguk kian mengatup

,pun.



seumpama bunga di gurun waktu.

mengitari rak-rak buku.

biar kukatakan dediammu.




/mencintaimu seujung kuku/








: Buat DK




Bertemu ramadhan.
Sekiranya membuat saya enggan,
Bukan karna tidak membaca sebuah tulisan.
Tapi,
 mencabik serindu kerinduan.



          Sya’ban di koskosan, sebagai anak rantauan.
          Bersama kawankawan,
          Kehujanan dan kelaparan.
                             Pesan singkat dari mama      
                                                                   Juga ayah.


“nak, jangan lupa yasinan.” kata beliau
                                                                                             

                                                                               

Bekasi, 30 Juni 

Menahun Kedua untuk Sastra

Dua tahun pada sastra, membuat saya terus bercucuran airmata. Kemana masa depan akan dibawa? Di kolong persahabatan mungkin saya sudah dianggap enggan. Bagaimana bertemu mereka yang tinggal hitungan babak? Rasanya lemas dan belum sembuh betul mengingat kejadian dua semester lalu. Menghindar jelas kegemaran saya, duduk di kelas dengan bisu tanpa kalimatkalimat bahkan takada ilmu yang bisa saya serap untuk kehausan tiga tahun lalu. Siasia betul hidup selama ini, tanpa kebahagiaan yang sisanya milik oranglain—mereka menganggap diri mereka tidak pernah bahagia, padahal sebetulnya ada saya yang lebih tidak bahagia.

Pesan-pesan yang secara tidak  langsung menyampaikan rasa kangen. Nyinyir setiap hari walau tak secara bersitatap, atau dari sisasisa makanan dan minuman di kantin saya bisa rasakan siapa yang memeluk saya lewat perbincangan mereka. Kalau berandai-andai semudah tiga tahun lalu, tidak mempunyai ambisi keras pasti tak akan begini jadinya… pasti. Sebab hanya menulispun saya sudah merasa enggan apalagi menjalaninya sampai semester ke delapan. Apa kabar uang transferan dan yang pernah menjuluki saya kampungan? Apakah mereka akan menjadi ilmuwan dan saya hanya cecunguk yang terus berdalih tanpa alasan? Ke mana arti teman? Ke mana arti percintaan? Ke mana semua ini tanpa akhiran-akhiran? Berpasrah diri saya tahu bukan hal yang paling muskil. Mengenal orangorang baru pun menurut saya bukan pelarian dari cerita-cerita lalu sebab semua akan digelontori begitu saja dan saya tetap akan sendiri lagi, sampai kapanpun.

          Lihatlah kekasih yang saya punyai akhir-akhir ini. Ia berhasil membungkam semua pilu dalam dada tapi apa daya semua sembunyi di palung airmata. Ia tidak mengetahuinya, sungguh tidak akan mengetahuinya. Beruntunglah Allah mempertemukan saya dengannya, lelaki yang tidak biasa dengan saya yang sudah tidak biasa di mata yang lain. Selalu begitu. Menemukan orang berbeda, dianggap berbeda dan habis itu berkesudahan begitu saja. Tidak ada pengingkaran di dalam sini. Tidak. Hanya karna patriarki di kepala feminis saya, kecurigaan hingga ketraumaan entah harus dibayar mahal pakai apa.

Saya seperti teroris di negeri sendiri, di dunia yang saya ingini. Sedang tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya melainkan diri sendiri. Nyenyak pun tidak bisa memercayai tidur di atas kasur yang mempertemukannya. Ada saja bahkan banyak sekali penghalang yang menjejali saya, begitu saja. Mengalir tanpa diderasi arus. Melihat begitu banyak media yang mendukung para penulis dengan komunitas mereka, lalu apa saya yang hanya hidup meloncat pinak tanpa tujuan. Seperti musafir kehausan lalu pergi tanpa celoteh kepada oase. Tidak ada yang memercayai saya. Dikira, kisah Tan Malaka atau filsuf Sartre sudah berada pada jamannya. Ternyata terjadi pada saya juga, semodern ini. Dilandasi do’a dan keengganan yang semakin kuat, menuntut ilmu dengan sebagian besar mereka yang menjadikan saya boomerang saya ingin memajukan kaki ke belakang bukan melarikan diri terus ke depan. Ini bukan jawaban yang bukan-bukan……

17 Juli, Bekasi
Pernah Jatuh Cinta

Terkadang, bahagia selalu memiliki kaki untuk memilih kemana ia pergi. Selalu jatuh cinta perihal mata yang pertama. Apakah kita pernah merindukan hal-hal yang belum pernah terjadi dalam hidup kita? Dan Allah telah akan menjadikan itu sesuatu yang jadi entah di tepat usia ke berapa.

Lain soal perihal hidup yang memaknai keintiman sebuah pertemuan. Di kedai kopi, di pameran sastra, di debat kampus, di pementasan teater atau bahkan di ujung panggung usai pembacaan puisi. Semua bahagia. Tertawa, lantas menjadi airmata. Bahkan tulisan ini rupanya sangat tidak mahir untuk saya menulisnya. Banyak hal yang seharusnya tidak ditulis atau terlewatkan untuk ditulis atau bahkan tidak pantas untuk ditulis.

            Mengalir dalam otak, saya berpura-pura ragu untuk sekedar bertemu. Kedua, ketiga sampai menginjak pertemuan ketujuh yang belum kesampaian sekarang. Orang bilang, hujan selalu membawa romantis di genggamannya setelah kita mengenang seseorang atau sedang mengenang seseorang atau bahkan melihat seseorang bersama lain perempuan dalam sebuah pelukan. Siapa perantara bahagia? Kita sering menjelma lupa, sering beradu rindu terlalu menggebu. Lupa terlalu tidak tahu diri hanya untuk mengapa kita harus berbahagia?

Menyalahi oranglain yang terusir dalam benak, memenjara dalam perangkap kita sendiri. Lantas apa sudi menyalahi diri sendiri? Orang-orang kian bijak ditulisannya setelah kehilangan, padahal kita tidak pernah sadar bahwa diam-diam bahagia sedang mengintai: Belum Jatuh Cinta.

Bersambung….(1)

        Tulisan ini teruntuk kita yang masih menyalahi sebuah kepergian. Itu artinya, dirimu belum jatuh lebih dari cinta.

                                                                                                            Bekasi, Maret 2014

Sunday, May 25, 2014

Perempuan dalam Gamang


                                    ; Kepada AL

Meja kantor
Jam dinding
Jilbabku berpeluh
Airmata tak ubah mengering
Kamu, di mana?
Berkabarlah.
Pulanglah.
Ini dua puluhlima ke delapan belasku.



                 Mas, terimakasih si mawar
                 Juga kuekue ini dan ucapan di latar rumah.
                 Tiga puluhsatu di tahun ke tiga, lekaslah ke Jerman.
                  : Eln.


Apalah do'ado'a ini?
Tanpamu juga kita.
Semakin ku hunus
dengan kata 'perpisahan'
makin tak goyah
aku dalam pasrah.
Bagiku...
suksesmu adalah
Aminku di lima tahun ke depan.
Juga apalah arti teman,
sebab-belasan masih di ejaan.
terima kasih
Yang terkasih.

                                                                                    Cibitung, 25 Mei 2014


Puisi ini untuk Agnes Liemanda, adikku yang berulang tahun ke-18. Semoga, pesan-pesanku&puisi ini menjadi momok di delapanbelas selanjutnya. Hanya ini kado dari aku ya Nes. Sedihmu, adalah karyamu. Selamat ulang tahun!:)

Wednesday, April 9, 2014

Penjaja Senja



Sore,

seperti biasa membawa macam rupa senja.

kepada yang terhormat
seseorang,
menulislah.



kata orang, melihatnya lebih indah di pesisir.
semakin nyiur.
kupahami kau
makin ngelantur.


Bumi, adakah yang lebih merah dari langit senja?
sesepeda di pepasir
tenggelam ombak dengan cangkangnya.
lalu, bayangmu ikut tenggelam
digulung rapi menuju temaram.