Pernah Jatuh Cinta
Lain
soal perihal hidup yang memaknai keintiman sebuah pertemuan. Di kedai kopi, di
pameran sastra, di debat kampus, di pementasan teater atau bahkan di ujung
panggung usai pembacaan puisi. Semua bahagia. Tertawa, lantas menjadi airmata.
Bahkan tulisan ini rupanya sangat tidak mahir untuk saya menulisnya. Banyak hal
yang seharusnya tidak ditulis atau terlewatkan untuk ditulis atau bahkan tidak
pantas untuk ditulis.
Mengalir dalam otak, saya
berpura-pura ragu untuk sekedar bertemu. Kedua, ketiga sampai menginjak
pertemuan ketujuh yang belum kesampaian sekarang. Orang bilang, hujan selalu
membawa romantis di genggamannya setelah kita mengenang seseorang atau sedang
mengenang seseorang atau bahkan melihat seseorang bersama lain perempuan dalam
sebuah pelukan. Siapa perantara bahagia? Kita sering menjelma lupa, sering
beradu rindu terlalu menggebu. Lupa terlalu tidak tahu diri hanya untuk
mengapa kita harus berbahagia?
Menyalahi oranglain yang terusir dalam
benak, memenjara dalam perangkap kita sendiri. Lantas apa sudi menyalahi diri
sendiri? Orang-orang kian bijak ditulisannya setelah kehilangan, padahal kita
tidak pernah sadar bahwa diam-diam bahagia sedang mengintai: Belum Jatuh Cinta.
Bersambung….(1)
Tulisan
ini teruntuk kita yang masih menyalahi sebuah kepergian. Itu artinya, dirimu
belum jatuh lebih dari cinta.
Bekasi, Maret
2014
No comments:
Post a Comment