Wednesday, August 20, 2014

Pernah Jatuh Cinta

Terkadang, bahagia selalu memiliki kaki untuk memilih kemana ia pergi. Selalu jatuh cinta perihal mata yang pertama. Apakah kita pernah merindukan hal-hal yang belum pernah terjadi dalam hidup kita? Dan Allah telah akan menjadikan itu sesuatu yang jadi entah di tepat usia ke berapa.

Lain soal perihal hidup yang memaknai keintiman sebuah pertemuan. Di kedai kopi, di pameran sastra, di debat kampus, di pementasan teater atau bahkan di ujung panggung usai pembacaan puisi. Semua bahagia. Tertawa, lantas menjadi airmata. Bahkan tulisan ini rupanya sangat tidak mahir untuk saya menulisnya. Banyak hal yang seharusnya tidak ditulis atau terlewatkan untuk ditulis atau bahkan tidak pantas untuk ditulis.

            Mengalir dalam otak, saya berpura-pura ragu untuk sekedar bertemu. Kedua, ketiga sampai menginjak pertemuan ketujuh yang belum kesampaian sekarang. Orang bilang, hujan selalu membawa romantis di genggamannya setelah kita mengenang seseorang atau sedang mengenang seseorang atau bahkan melihat seseorang bersama lain perempuan dalam sebuah pelukan. Siapa perantara bahagia? Kita sering menjelma lupa, sering beradu rindu terlalu menggebu. Lupa terlalu tidak tahu diri hanya untuk mengapa kita harus berbahagia?

Menyalahi oranglain yang terusir dalam benak, memenjara dalam perangkap kita sendiri. Lantas apa sudi menyalahi diri sendiri? Orang-orang kian bijak ditulisannya setelah kehilangan, padahal kita tidak pernah sadar bahwa diam-diam bahagia sedang mengintai: Belum Jatuh Cinta.

Bersambung….(1)

        Tulisan ini teruntuk kita yang masih menyalahi sebuah kepergian. Itu artinya, dirimu belum jatuh lebih dari cinta.

                                                                                                            Bekasi, Maret 2014

No comments:

Post a Comment