Wednesday, September 25, 2013

Tetralogi Senja

Beberapa langkah dari tempatku beristirahat, terdengar jejak langkah yang semakin mendekat. Aku merasa tak biasa dengan langkah yang semakin lama semakin dekat menuju ke arahku.
Ternyata, kamu bersama istri barumu………………………………..
                                                            ***
Kapal pesiar itu menjadi penghantar perpisahan kami. Padahal masih ada 2 malaikat yang harus kami rawat sampai mereka berubah menjadi bidadari, bagaimana bisa? Aku dan pangeranku tlah merencanakannya sejak kemarin, kemarin ketika kami masih baru menjadi sepasang ajal. Tuhan pun memutuskan sampai batas titik akhir laut memudar, Aku menangis menatapi bayang-bayang diriku sendiri.
Aku suka senja, setidaknya Ia adalah perbatasan mengapa kami bertemu. Mengapa kami hidup bersama sampai kini sampai esok sampai senja kembali sampai aku mati. Tetapi senja-lah yang memisahkanku juga, senja-lah yang beri jawaban atasku, senja-lah yang membuatku hidupku hancur detik itu juga.
“Kamu ingat? Pasir-pasir ini adalah saksi kita. Mungkin hanya Aku saja wanita di dunia ini yang ingin di akad hanya pada senja datang. Aku ingin merasakan temaram! Aku ingin menjadi bayang-bayang di pantai ini atau bahkan Aku ingin terus ada di qalbumu sampai Aku mati nanti…..” Celotehku pada tumpukkan kertas-kertas yang Ku simpan 13 tahun lalu.
Kemudian tak lama, hidupku terkikis oleh harapanku untuk hidup. Aku mulai lemah, Aku lebih banyak membuang-buang waktuku hanya karna penyakitku sendiri.
“Tuhan…..tolong sampai Dia kembali…Ku mohon Tuhan” Rintihku dalam batin.
Kedua malaikatku, ku titipkan kedua orang tuaku. Mereka masih terlalu lugu untuk ini, Aku hanya tidak ingin menjadi Ibu yang gagal. Setiap senja, Aku habiskan menatapi ujung air laut sampai kapal itu kembali. Ya! Sampai kembali. Bahkan tanpa Ku sadari, hidupku semakin ringkih. Apa penyebabnya? takdir Tuhan rupanya…
Senja manis di bebutir pasir lembut. Lengkap dengan temaramnya…
“Semercik angin, Ku mohon cepat kembalikan asa yang tlah lama ku ukir dibatas hidupku”, Aku tiba-tiba bergores pada penaku.
“…………Lalu apa yang sudah ku capai selama ini? Apa aku harus menunjukkan keputusasaanku? Apa tetap berjalan melambai sampai pada titik rindu? Arrrrrrrgh aku sudah sayup rupanya. Aku bergerus pada reruntuhan emosiku sendiri………………….” Lanjutku pada lembar-lembarku.
Ku toleh kembali lingkaran indah yang melingkar pada jari manisku. Rasanya ingin ku ikutesertakan ke syurga nanti, Ya! Aku biarkan sampai Aku tergerus ajal. Tiba-tiba pikiranku kembali berkecambuk keadaan kedua malaikatku. Mereka akan menjadi apa nanti? Aku termangu, langit pun ikut termangu.
                                               
Tlah ku putuskan untuk meninggalkan senja hari itu. Di kamar, aku hanya meninggalkan beberapa lembar potongan novel yang belum kelar. Hatiku sebenarnya enggan, kasihan anakku nanti. Tapi aku harus egois, ya. Egois. Aku nekat pergi ke negeri manapun supaya aku sembuh. Tanpa suamiku. Aku sudah tidak memikirkan dia. Dia yang seperti apa, dia yang bagaimana keadaannya sekarang atau dia yang sudah bersama siapa sekarang. Pulanglah sayang…..
Sebenarnya aku malas mendengarkan dokter bilang apa, dengan terbata-bata Ia menyebutkan jenis penyakit itu. Ia mengatakan pula kalau aku tidak bisa sembuh, bisa tetapi tidak total. Aku lekas meninggalkan ruangan itu. Ku coba menghubungi pangeranku sepanjang perjalanan pulang. Tidak bisa, sudah biasa. Aku sudah biasa sejak berbulan-bulan lalu. Dan kini aku tak bisa akan terus berlama-lama di rumah Aku tak tega dan harus jawab apa kepada mereka yang ku sebut malaikat.
Seperti biasa, lamunanku terus menjalar ditemani senja. Aku kembali meneruskan tulisan-tulisan ini, padahal aku sudah kehabisan ide. Maka ku percepat alur cerita, aku membiarkan diriku seperti penulis tidak tahu diri. Namun aku marah kepada Tuhan, mengapa Dia tidak bisa mempercepat kisah piluku sekarang? Mempercepat agar Ia kembali atau mempercepat kematianku. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menjadi hambaNya. Aku merasa sedang dibunuh pelan-pelan oleh pangeranku sendiri. 26 Desember 2006 ketika semua dilanda musibah, aku lagi-lagi  diuji oleh Tuhan. Kehilangan malaikat-malaikatku, orang tuaku dan kenangan kita. Sampai sudah bencana menyertaiku dengan lengkap, kamu masih saja enggan pulang. Ada apa?
Dag..Dig..Dug..
Malam itu. Senangnya, kamu yang akan pulang setelah sekian lama. Aku rasanya ingin mencium senja. Tiba-tiba setelah menerima telepon darimu, aku merasa jantungku tidak lagi berdegup. Bahkan sepertinya aku sudah merasa diriku tak hidup. Benar saja, ternyata aku sudah di dalam kubur.
“Ibu ingin menyusul kalian Nak, Ma tunggu aku. Akhirnya…….” Kataku setengah berbisik.
                                                            ***



                                                                                                            Mei 2011

Surat

Lantunan kidung jiwa yang mengalun
Diantara nafasnafas menggebu
Kemudian bibir yang sejenak terdiam
Dijamah suara loncenglonceng rindu yang menggema
Mencipta rangkai nada
Untuk seberkas cinta yang sudah terjalin
Diantara senja
Membakar bekunya darah yang menggumpal
Dan lagi
Ketika senja perlahan memasuki pelupuk mataku
Aku menikmati setiap silaunya
Kepada kamu;
Ku titipkan rindu yang menggebu
Dari semilirnya angin yang masuk
Lewat celah jendela kamarmu





22 Januari

Saturday, September 14, 2013

Sudah tiga tahun lamanya, aku terkurung di dalam paksaan yang membuatku ingin cepat-cepat bebas. Dan sudah tiga tahun itu pula, aku menyukai dunia puisi. Entahlah.
          Dalam masa-masa penjara, dari teknologi internet aku pun sering cari tahu tentang perkumpulan yang aku sendiri merasa ingin cepat-cepat bergabung ketika lulus nanti. Bergulat dengan waktu yang sangat mengancam, pada akhirnya aku diizinkan untuk bertemu dengan orang-orang yang biasanya hanya ku perhatikan dari jauh, ya….. lewat internet. Ketika sudah menyandang ‘calon Mahasiswa’ aku pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan orang sekelilingku tentang organisasi kampus yang akan ku ikuti dan tentu saja ku minati, “Bengkel Sastra,”Jawabku pasti.
          Alasanku dengan mantap ingin sekali mengikuti Bengkel Sastra karena aku tlah jatuh cinta kepada sastra dengan cara tiba-tiba, puisi terutama. Ya. Sedari awal aku masuk dunia teknik namun ketika di luar jam pelajaran aku begitu aktif di kegiatan seni peran. Di dalam pelajaran pun, yang paling aku tunggu-tunggu adalah pelajaran Bahasa Indonesia ya walaupun memang seminggu hanya sekali dan hanya dua jam lamanya, tetapi aku begitu menikmati apalagi kalau soal pembahasan kajian puisi.
            Cara ketika aku di gulatkan oleh pilihan yang sangat sulit antara membantah Ayah atau dengan pilihanku namun akan mengecewakan Ayah tentunya. Ketika itu aku mencoba untuk membuktikan dengan berbagai macam cara supaya Ayah percaya dan memperbolehkanku mendalami ilmu sastra di universitas itu, terutama ikut Bengkel Sastra. Sejauh aku menjuarai beberapa lomba baca puisi tingkat sekolah bahkan tingkat pelajar SMA/SMK di daerahku, namun kedua orang tuaku tidak mengetahuinya. Entahlah apa jadinya kalau mereka mengetahuinya……… Belum tentu mereka bangga padaku. Aku meyakinkan dengan nilai-nilaiku disekolah serta keaktifanku diorganisasi yang pernah aku pimpn, kemudian kepada Ibu Guru Bahasa Indonesiaku yang selalu aku ajak untuk berdiskusi masalahku dengan Ayahku, Ia begitu mengerti. Bahkan, Ia pun sempat bertemu dengan Ayahku supaya aku diperbolehkan di sastra.
            Mengapa Ayahku melarangku di sastra? Ayah berpendapat bahwa sastra itu tidak jelas, seperti orang tidak waras dan masa depannya tidak menentu. Artinya, Ayah amat sangat tidak mengizinkanku untuk melanjutkan kuliah bidang sastra. Ia tetap ingin aku menjadi perempuan teknik, seperti apa yang Ia dambakan. Apa yang terjadi denganku? Aku diam saja? Oh tentu tidak. Aku berusaha menjelaskan baik-baik bahwa kuliah sangat berbeda dengan sekolah. Dulu memang aku nurut apa kata Ayah supaya aku di teknik, supaya dunia kerja lebih mudah dan aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, hebatnya itu kata Ayah. Aku juga menjelaskan bahwa bukti-bukti prestasiku di sastra serta aku ikut andil dalam penerbitan salah satu Koran nomor satu di Bekasi, Ayah akhirnya mengalah.
            Siapa-siapa saja yang menentangku selain Ayah? Banyak. Teman-temanku kini di universitas pun agak aneh ketika mengetahui aku dulu lulusan teknik. Belum lagi saudara-saudaraku dan lagi-lagi Ayah pun sempat berkata, “Kak, kamu dulu Ayah sekolahin nggak murah lho. Habis berjuta-juta dan Ayah agak kcewa kamu malah mau ambil sastra”. Aku pun tersenyum menyinyir.
            Dimana tempat pertama kali aku bisa menginjakkan kakiku dengan dunia Bengkel Sastra? Wah, itu sulit dilupakan. Ketika aku selesai wawancara jurusan kemudian aku diajak untuk buka puasa bersama. Aku pun menyetujui. Ku kira entah di tempat mana aku sudah berandai-andai. Ketika aku tlah sampai, Yayasan Lingkar Pena. Ya! Aku pernah melihatnya di internet dahulu. Bunda Helvy! Aku bertemu dengannya! Padahal dahulu aku sangat mengidam-idamkan bertemu dengannya sampai aku memohon di twitter agar aku diucapkan ulang tahun ketika ulang tahunku yang ke-17, ulang tahun yang bertanggal sama seperti anaknya. Aku juga sempat mengikuti lomba baca puisi yang pernah Ia adakan di Youtube. Aku serasa mimpi kala itu. Aku bersama senior-seniorku yang pasti mereka adalah orang-orang hebat tentunya.
            Aku juga berterima kasih kepada Kak Risty Sivareza dan Kak Nilam karena mereka adalah orang yang pertama kali aku kenal di dunia Bengsas. Aku juga merasa beruntung karena kakak-kakak cantik ini tlah baik memberiku banyak cerita agar aku siap menghadapi dunia kampus dan dunia ketika di Bengsas. Terima kasih, Kak!
            Dan kini, waktu trus berjalan hingga aku sampai pada Latihan Alam 4 Bengkel Sastra. Ya, aku kini mengikuti kegiatan Bengkel Sastra. Aku merasa amat sangat nyaman di Bengkel. Bertemu dengan pemain-pemain hebat dan suasana yang membuat ini menjadi sebuah keluarga besar, walaupun aku baru beberapa bulan di Bengkel. Aku bahkan tujuanku kuliah bukan untuk mengikuti mata kuliah tetapi aku ingin Bengsas! Ya! Itu yang ku tunggu-tunggu tiap senja. Allah, terima kasih tlah mengizinkanku untuk tetap pada pilihanku dan juga pada pertemuanku pada orang-orang hebat seperti mereka. Untuk kedua orang tuaku, terutama Ayah…. Aku tidak akan pernah lupa kepada janjiku bahwa aku pada pilihanku namun aku akan membuktikan bahwa sastra bukanlah hal yang negatif untukku bahkan ketika aku mengikuti kegiatan yang masih bernaung pada sastra, Bengkel Sastra.
           
Kamis, 8 November 2012 23:07 WIB
Dianovka Kusumastuty-1G Sastra Indonesia
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012

SEBUAH KALENG



terselip di peron enam
melambai-lambai seperti
ingin dipungut
nyaring sekali
disusul harum
bekas minuman
sebuah kaleng
bekas ditenggak pemabuk ujung gang
mendadak kereta menampar dengan laju
yang sangat
bisa dibilang kencang
terlempar jauh dari stasiun
tempat sebelumnya
seminggu yang lalu

sebuah kaleng
tanpa nama












Oktober 2012

(buat FF)

Kamu berdiri

dihadapan kami

kemudian mengurai rambut

menyisir-nyisir lembut

sebentar melirik ke arahku

lirik lagi lalu tersenyum

'Allahu akbar'

kamu menyebutnya

sambil menguap

ternyata...

                                                                                             kamu ingin teh hangat




29 Mei, Teater Terbuka.
Disini. Kami tertahan oleh hujan. Bilik-bilik yang mulai basah. Tanah yang mulai merekah. Tawa yang makin sumringah. Ada dua pasang mata yang semakin tajam memandangi. Kemudian terdiam. Ternyata kami diperhatikan dengan seksama. Terdiam. Ada kalut diselimuti malam. Ada saja yang heran. Ketika langkah kian memudar. Lagi-lagi tertahan oleh hujan. Apa salah cemburu? Cemburu yang membabi buta, kata orang itu perumpamaan. Ketus lain kali aku benar-benar takingin menyapa lagi. Padahal nekat, sebentar aku melirik. Kemana? Ternyata ada. Sedang mengumpat, sebentar mengulir senyum. Indah namun pasi.

                   Larung pada embun, taklagi semu pada enggan yang ku namai sosok; Tuan




Aku terus mencibir pada sesuatu yang bernama rindu. Lagi. Kau bilang lagi, semalam aku ingat. Apa ini namanya? Coba beritahu... Aku....



Juni,2012.

HALAMAN BUKU

Dari buku
                Tanpa kulit muka
                Tanpa kulit belakang
inilah
                selembar halamannya
                dibuka tangan matahari pagi
                setelah jari telunjuknya
                sempat dijilat embun


Jangan tanya
                mana halaman sebelumnya
               

Inilah    
                selembar halaman baru
                terang karena sorot lampu neon


                                Apa bisamu
                                                hanya
                                                menatap
                                                saja?

                                               
                                                ***

Alangkah hiruk-pikuknya halaman ini
Pawai menjerit-jerit
Semua meneriakkan mimpi missal manusia
Arak-arakan pamflet
                bergerak dan bergerak terus
                huruf-huruf besar berjingkrak-jingkrak
                dari kuburan ke kuburan
Mereka semua mengaku bernama mimpi
                                mimpi kita sekalian, teriak mereka
                                termasuk mimpiku konon

Tapi kukenal mimpiku
Yang ini semua
                jelas
                                                : bukan!