Beberapa orang mulai dari detik ini sudah menyerah pada angin. Bahkan sampai ada yang tersentak di dasar bumi, hampir mati. Pagi. Delik mata mulai menelusur apa penyebab dari goyahnya kekuatan rayuan dari dalam batin gadis itu; Masih. Deretan alasan tidak pecah satu persatu. Bahkan enggan, lagilagi muncul kata bahkan diantara kami. Bukan pada kami. Sementara, jauh di seberang sana sedang berdiri atau bahkan sudah menerkam atau ingin untuk kami.
Segala ribuan alasan yang dilontarkan pada tabiat dahulu kala, kini ikut goyah pada tabiat itu sendiri. Tenggelam lebih tepatnya. Sandiwarasandiwara oleh lakonlakon yang sengaja ditulis dari tangantangan mereka. Aktornya pun juga. Ini salah, Tuhan?
Letak garis yang ditarik oleh sebuah pena, malam tadi.... mendadak berhenti seperti ajal manusia manakala Izrail tetiba datang ingin kencan. Alasan si masalalu; purapura bahagia bersama kekasih baru. Berharap ada gincu cemburu ditempat yang sama. Kini, rerumput sudah tak bisa lagi diletakkan, kecuali manakali hati sudah goyah dan dari situlah muncul untuk terus mendamba. Pada takdir yang sudah membaik mempertemukan 'kami' maka itu sebab saya pergi.
Saya ingin menjadi Chairil Anwar, menggambarkan sesuatu dengan apa adanya. Tak peduli dengan gaya bahasa yang disuguhkan. Kesimpulan hari ini adalah ketika kita menjalankan dua yang sudah bedebah dipelupuk batin, hanya ada dua pilihan juga. Antara harus menetralkan pikiran dan perasaan, kemudian meninggalkan apa yang sudah lama ingin ditinggalkan. Atau.... terus mengacaukan pikiran dan perasaan sampai pada titik goyah tetapi tetap menjalankan sesuatu yang hanya lari ditempat. Lara.
Mana bisa noda pada kain putih kemudian kamu siram pemutih untuk menghilangkannya tanpa bekas? Teringat pada janji seorang lakilaki paruh baya, apapun yang kita jalani asal tidak untuk mengikat. Pada dasarnya itu. Karena cinta adalah sebuah pasir yang tergenggam pada tangan. Ketika datang menghampiri angin yang ditiup Tuhan cukup kencang, genggamlah. Tapi ingat jangan terlalu kencang. Aku menggambarkan pada skenario Tuhan adalah garis pada pensil di kertas gambar arsitektur pojok sana. Perdebatan penduduk manalagi yang kau rencanakan esok hari? Kisah baru kembali mulai. Itu artinya ada sebuah titik terang tak bisa bertahan. Ah, manajemen hati ini sudah amburadul.