Saturday, October 5, 2013

MEMORANDUM BEKU


LALU KITA saling diam. Tak ada yang terlontar, kecuali tatapan. Duduk di ruang tengah dengan makan malam yang sudah dingin, kau memilih masuk kamar.

                                                                           ***

Kaumemilih untuk menempelkan jejak-jejak kaki pada salju yang kian merapat di sepanjang aspal. Mulutmu takjarang mengepulkan embun tanda kau sangat kedinginan. Sedang disini saya baru mulai menggigil. Sambil menulis sebuah pesan singkat di beberapa kertas, rupanya saya lupa mematikan pemanggang roti. Dan lagi-lagi masih tentang kau dengan jaket kulit yang sayaberi setahun lalu. Apa masih kaukenakan? Baiklah. Saya mulai cerita bangsat ini dengan kehangatan penuh paksaan. Sambil berendam di bak mandi, takpeduli bebutir yang mulai menyelinap di kutang saya. Makin lama makin penuh seisi rumah ini. Mereka menempel di ventilasi,dinding kamar kita,patung kuda di depan latar rumah dan mereka semakin banyak. Saya kelimpungan. Bagaimana bisa, sedang saya sudah merasa sangat hangat. Bukan dengan kau. Cuma saya, sendiri…. Coba lihat, Sayang. Rupanya bekas sarapan tadi pagi mulai berkerak. Kaupun tak kunjung datang. Padahal saya berusaha menutup jendela rapat-rapat. Saya beranjak ke dapur, mencoba membuat sup hangat barangkali kau ingin pulang dan memakannya. Juga menidurkan saya. Seperti malam-malam sebelumnya. Duapuluh empat jam, sudah. Saya simpulkan kau takmau kembali. Saya gerah, bukan karena suhu. Melainkan dengan kau, juga kita. Pagi hari ketika tetangga sebelah sedang akur dengan keluarga mereka, saya iseng  duduk memandangi mereka sambil minum secangkir kopi. Takbiasanya saya keluar rumah. Cuma bisa nyinyir, apalagi jika ditanya “suamimu mana?”.  Kaumenyetir ugal-ugalan, padahal sudah saya katakana pulang saja. Kau amat sangat kedinginan. Menabrak seluruh kandang milik juragan ternak, kautertawa terbahak-bahak. Saya disini masih meringkuk di dekat perapian, menunggu kaupulang. Supnya sudah basi. Juga sudah dingin tercampur darah dari kelingking saat saya memotong kentang, kesukaanmu bukan? Sudah tiga malam saya taktidur, hanya untuk menunggu kau. Saya merasa menjadi istri yang sudah gila bahkan para tetangga mengira saya sudah mati di dalam rumah dan kita sudah bercerai. Tetiba saya ingat dengan beberapa lembar kertas untuk kau, saya bergegas ke kamar dan sempat-sempatnya saya melirik bingkai foto amat besar. Foto perkawinan kita. Kertaskertas itu terselip di tumpukkan celana dalammu yang rupanya sengaja tak sayacuci, hanya untuk mengenang kau. Itu cara saya, taksalah bukan? Lantas kadar cinta duapuluh tahun lalu, sesempit ini kaudustakan? Bertubi-tubi layaknya istri simpanan saya juga ingin terlihat elegan. Dengan gaun perkawinan pertama kali, saya kenakan. Saya bergincu dan tersenyum bahagia layaknya saya akan berangkat ke gereja untuk dikawini kau. Menari-nari di dalam kamar, berbicara sendiri sedang saya takmampu lagi menahan dingin. Lelah sudah paling ujung menahan dingin menahan kantuk bahkan menahan kau untuk pergi. Bahkan rupanya kenyataanpun lebih enggan untuk menahanmu. Saya mengencangkan sanggul, menatap cermin sambil tersenyum. Padahal dapur sangat berantakan dan keran kamar mandi mulai rusak. Keluar rumah tengah malam, dengan gaun saya. Dan kau….kembali ke rumah tanpa permisi. Membaca, membolak-balik kertas isi pesan saya kemudian pergi. Ternyata selama ini kau bermalam di perkampungan para pelacur. Oh, saya 
tidak lebih menghangatkan kau ketimbang mereka. Selebihnya tentang luka adalah mencintaimu ketika gugur tiba. Selamat hari perkawinan.
                                                                                                                                                                                                                                                             
                                                                                                          Rawamangun, 5 Oktober