LALU KITA saling
diam. Tak ada yang terlontar, kecuali tatapan. Duduk di ruang tengah dengan makan
malam yang sudah dingin, kau memilih masuk kamar.
***
Kaumemilih untuk
menempelkan jejak-jejak kaki pada salju yang kian merapat di sepanjang aspal.
Mulutmu takjarang mengepulkan embun tanda kau sangat kedinginan. Sedang disini saya
baru mulai menggigil. Sambil menulis sebuah pesan singkat di beberapa kertas,
rupanya saya lupa mematikan pemanggang roti. Dan lagi-lagi masih tentang kau
dengan jaket kulit yang sayaberi setahun lalu. Apa masih kaukenakan? Baiklah.
Saya mulai cerita bangsat ini dengan kehangatan penuh paksaan. Sambil berendam
di bak mandi, takpeduli bebutir yang mulai menyelinap di kutang saya. Makin
lama makin penuh seisi rumah ini. Mereka menempel di ventilasi,dinding kamar
kita,patung kuda di depan latar rumah dan mereka semakin banyak. Saya
kelimpungan. Bagaimana bisa, sedang saya sudah merasa sangat hangat. Bukan
dengan kau. Cuma saya, sendiri…. Coba lihat, Sayang. Rupanya bekas sarapan tadi
pagi mulai berkerak. Kaupun tak kunjung datang. Padahal saya berusaha menutup
jendela rapat-rapat. Saya beranjak ke dapur, mencoba membuat sup hangat
barangkali kau ingin pulang dan memakannya. Juga menidurkan saya. Seperti
malam-malam sebelumnya. Duapuluh empat jam, sudah. Saya simpulkan kau takmau
kembali. Saya gerah, bukan karena suhu. Melainkan dengan kau, juga kita. Pagi
hari ketika tetangga sebelah sedang akur dengan keluarga mereka, saya iseng duduk memandangi mereka sambil minum secangkir
kopi. Takbiasanya saya keluar rumah. Cuma bisa nyinyir, apalagi jika ditanya “suamimu
mana?”. Kaumenyetir ugal-ugalan, padahal
sudah saya katakana pulang saja. Kau amat sangat kedinginan. Menabrak seluruh
kandang milik juragan ternak, kautertawa terbahak-bahak. Saya disini masih
meringkuk di dekat perapian, menunggu kaupulang. Supnya sudah basi. Juga sudah
dingin tercampur darah dari kelingking saat saya memotong kentang, kesukaanmu
bukan? Sudah tiga malam saya taktidur, hanya untuk menunggu kau. Saya merasa
menjadi istri yang sudah gila bahkan para tetangga mengira saya sudah mati di
dalam rumah dan kita sudah bercerai. Tetiba saya ingat dengan beberapa lembar
kertas untuk kau, saya bergegas ke kamar dan sempat-sempatnya saya melirik
bingkai foto amat besar. Foto perkawinan kita. Kertaskertas itu terselip di
tumpukkan celana dalammu yang rupanya sengaja tak sayacuci, hanya untuk
mengenang kau. Itu cara saya, taksalah bukan? Lantas kadar cinta duapuluh tahun
lalu, sesempit ini kaudustakan? Bertubi-tubi layaknya istri simpanan saya juga
ingin terlihat elegan. Dengan gaun perkawinan pertama kali, saya kenakan. Saya
bergincu dan tersenyum bahagia layaknya saya akan berangkat ke gereja untuk
dikawini kau. Menari-nari di dalam kamar, berbicara sendiri sedang saya
takmampu lagi menahan dingin. Lelah sudah paling ujung menahan dingin menahan
kantuk bahkan menahan kau untuk pergi. Bahkan rupanya kenyataanpun lebih enggan
untuk menahanmu. Saya mengencangkan sanggul, menatap cermin sambil tersenyum.
Padahal dapur sangat berantakan dan keran kamar mandi mulai rusak. Keluar rumah
tengah malam, dengan gaun saya. Dan kau….kembali ke rumah tanpa permisi.
Membaca, membolak-balik kertas isi pesan saya kemudian pergi. Ternyata selama
ini kau bermalam di perkampungan para pelacur. Oh, saya
tidak lebih
menghangatkan kau ketimbang mereka. Selebihnya tentang luka adalah mencintaimu
ketika gugur tiba. Selamat hari perkawinan.
Rawamangun, 5
Oktober