Wednesday, August 20, 2014

Menahun Kedua untuk Sastra

Dua tahun pada sastra, membuat saya terus bercucuran airmata. Kemana masa depan akan dibawa? Di kolong persahabatan mungkin saya sudah dianggap enggan. Bagaimana bertemu mereka yang tinggal hitungan babak? Rasanya lemas dan belum sembuh betul mengingat kejadian dua semester lalu. Menghindar jelas kegemaran saya, duduk di kelas dengan bisu tanpa kalimatkalimat bahkan takada ilmu yang bisa saya serap untuk kehausan tiga tahun lalu. Siasia betul hidup selama ini, tanpa kebahagiaan yang sisanya milik oranglain—mereka menganggap diri mereka tidak pernah bahagia, padahal sebetulnya ada saya yang lebih tidak bahagia.

Pesan-pesan yang secara tidak  langsung menyampaikan rasa kangen. Nyinyir setiap hari walau tak secara bersitatap, atau dari sisasisa makanan dan minuman di kantin saya bisa rasakan siapa yang memeluk saya lewat perbincangan mereka. Kalau berandai-andai semudah tiga tahun lalu, tidak mempunyai ambisi keras pasti tak akan begini jadinya… pasti. Sebab hanya menulispun saya sudah merasa enggan apalagi menjalaninya sampai semester ke delapan. Apa kabar uang transferan dan yang pernah menjuluki saya kampungan? Apakah mereka akan menjadi ilmuwan dan saya hanya cecunguk yang terus berdalih tanpa alasan? Ke mana arti teman? Ke mana arti percintaan? Ke mana semua ini tanpa akhiran-akhiran? Berpasrah diri saya tahu bukan hal yang paling muskil. Mengenal orangorang baru pun menurut saya bukan pelarian dari cerita-cerita lalu sebab semua akan digelontori begitu saja dan saya tetap akan sendiri lagi, sampai kapanpun.

          Lihatlah kekasih yang saya punyai akhir-akhir ini. Ia berhasil membungkam semua pilu dalam dada tapi apa daya semua sembunyi di palung airmata. Ia tidak mengetahuinya, sungguh tidak akan mengetahuinya. Beruntunglah Allah mempertemukan saya dengannya, lelaki yang tidak biasa dengan saya yang sudah tidak biasa di mata yang lain. Selalu begitu. Menemukan orang berbeda, dianggap berbeda dan habis itu berkesudahan begitu saja. Tidak ada pengingkaran di dalam sini. Tidak. Hanya karna patriarki di kepala feminis saya, kecurigaan hingga ketraumaan entah harus dibayar mahal pakai apa.

Saya seperti teroris di negeri sendiri, di dunia yang saya ingini. Sedang tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya melainkan diri sendiri. Nyenyak pun tidak bisa memercayai tidur di atas kasur yang mempertemukannya. Ada saja bahkan banyak sekali penghalang yang menjejali saya, begitu saja. Mengalir tanpa diderasi arus. Melihat begitu banyak media yang mendukung para penulis dengan komunitas mereka, lalu apa saya yang hanya hidup meloncat pinak tanpa tujuan. Seperti musafir kehausan lalu pergi tanpa celoteh kepada oase. Tidak ada yang memercayai saya. Dikira, kisah Tan Malaka atau filsuf Sartre sudah berada pada jamannya. Ternyata terjadi pada saya juga, semodern ini. Dilandasi do’a dan keengganan yang semakin kuat, menuntut ilmu dengan sebagian besar mereka yang menjadikan saya boomerang saya ingin memajukan kaki ke belakang bukan melarikan diri terus ke depan. Ini bukan jawaban yang bukan-bukan……

17 Juli, Bekasi

1 comment:

  1. bingung mau bilang apa. tapi yg pasti semangat ya kaka sastrawati :"") ku tunggu karyamu.

    ReplyDelete