Wednesday, August 20, 2014

SEROJA

sementara kangen melulu sanggup

di batas ruang, kita sejendela.

seseguk kian mengatup

,pun.



seumpama bunga di gurun waktu.

mengitari rak-rak buku.

biar kukatakan dediammu.




/mencintaimu seujung kuku/








: Buat DK




Bertemu ramadhan.
Sekiranya membuat saya enggan,
Bukan karna tidak membaca sebuah tulisan.
Tapi,
 mencabik serindu kerinduan.



          Sya’ban di koskosan, sebagai anak rantauan.
          Bersama kawankawan,
          Kehujanan dan kelaparan.
                             Pesan singkat dari mama      
                                                                   Juga ayah.


“nak, jangan lupa yasinan.” kata beliau
                                                                                             

                                                                               

Bekasi, 30 Juni 

Menahun Kedua untuk Sastra

Dua tahun pada sastra, membuat saya terus bercucuran airmata. Kemana masa depan akan dibawa? Di kolong persahabatan mungkin saya sudah dianggap enggan. Bagaimana bertemu mereka yang tinggal hitungan babak? Rasanya lemas dan belum sembuh betul mengingat kejadian dua semester lalu. Menghindar jelas kegemaran saya, duduk di kelas dengan bisu tanpa kalimatkalimat bahkan takada ilmu yang bisa saya serap untuk kehausan tiga tahun lalu. Siasia betul hidup selama ini, tanpa kebahagiaan yang sisanya milik oranglain—mereka menganggap diri mereka tidak pernah bahagia, padahal sebetulnya ada saya yang lebih tidak bahagia.

Pesan-pesan yang secara tidak  langsung menyampaikan rasa kangen. Nyinyir setiap hari walau tak secara bersitatap, atau dari sisasisa makanan dan minuman di kantin saya bisa rasakan siapa yang memeluk saya lewat perbincangan mereka. Kalau berandai-andai semudah tiga tahun lalu, tidak mempunyai ambisi keras pasti tak akan begini jadinya… pasti. Sebab hanya menulispun saya sudah merasa enggan apalagi menjalaninya sampai semester ke delapan. Apa kabar uang transferan dan yang pernah menjuluki saya kampungan? Apakah mereka akan menjadi ilmuwan dan saya hanya cecunguk yang terus berdalih tanpa alasan? Ke mana arti teman? Ke mana arti percintaan? Ke mana semua ini tanpa akhiran-akhiran? Berpasrah diri saya tahu bukan hal yang paling muskil. Mengenal orangorang baru pun menurut saya bukan pelarian dari cerita-cerita lalu sebab semua akan digelontori begitu saja dan saya tetap akan sendiri lagi, sampai kapanpun.

          Lihatlah kekasih yang saya punyai akhir-akhir ini. Ia berhasil membungkam semua pilu dalam dada tapi apa daya semua sembunyi di palung airmata. Ia tidak mengetahuinya, sungguh tidak akan mengetahuinya. Beruntunglah Allah mempertemukan saya dengannya, lelaki yang tidak biasa dengan saya yang sudah tidak biasa di mata yang lain. Selalu begitu. Menemukan orang berbeda, dianggap berbeda dan habis itu berkesudahan begitu saja. Tidak ada pengingkaran di dalam sini. Tidak. Hanya karna patriarki di kepala feminis saya, kecurigaan hingga ketraumaan entah harus dibayar mahal pakai apa.

Saya seperti teroris di negeri sendiri, di dunia yang saya ingini. Sedang tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya melainkan diri sendiri. Nyenyak pun tidak bisa memercayai tidur di atas kasur yang mempertemukannya. Ada saja bahkan banyak sekali penghalang yang menjejali saya, begitu saja. Mengalir tanpa diderasi arus. Melihat begitu banyak media yang mendukung para penulis dengan komunitas mereka, lalu apa saya yang hanya hidup meloncat pinak tanpa tujuan. Seperti musafir kehausan lalu pergi tanpa celoteh kepada oase. Tidak ada yang memercayai saya. Dikira, kisah Tan Malaka atau filsuf Sartre sudah berada pada jamannya. Ternyata terjadi pada saya juga, semodern ini. Dilandasi do’a dan keengganan yang semakin kuat, menuntut ilmu dengan sebagian besar mereka yang menjadikan saya boomerang saya ingin memajukan kaki ke belakang bukan melarikan diri terus ke depan. Ini bukan jawaban yang bukan-bukan……

17 Juli, Bekasi
Pernah Jatuh Cinta

Terkadang, bahagia selalu memiliki kaki untuk memilih kemana ia pergi. Selalu jatuh cinta perihal mata yang pertama. Apakah kita pernah merindukan hal-hal yang belum pernah terjadi dalam hidup kita? Dan Allah telah akan menjadikan itu sesuatu yang jadi entah di tepat usia ke berapa.

Lain soal perihal hidup yang memaknai keintiman sebuah pertemuan. Di kedai kopi, di pameran sastra, di debat kampus, di pementasan teater atau bahkan di ujung panggung usai pembacaan puisi. Semua bahagia. Tertawa, lantas menjadi airmata. Bahkan tulisan ini rupanya sangat tidak mahir untuk saya menulisnya. Banyak hal yang seharusnya tidak ditulis atau terlewatkan untuk ditulis atau bahkan tidak pantas untuk ditulis.

            Mengalir dalam otak, saya berpura-pura ragu untuk sekedar bertemu. Kedua, ketiga sampai menginjak pertemuan ketujuh yang belum kesampaian sekarang. Orang bilang, hujan selalu membawa romantis di genggamannya setelah kita mengenang seseorang atau sedang mengenang seseorang atau bahkan melihat seseorang bersama lain perempuan dalam sebuah pelukan. Siapa perantara bahagia? Kita sering menjelma lupa, sering beradu rindu terlalu menggebu. Lupa terlalu tidak tahu diri hanya untuk mengapa kita harus berbahagia?

Menyalahi oranglain yang terusir dalam benak, memenjara dalam perangkap kita sendiri. Lantas apa sudi menyalahi diri sendiri? Orang-orang kian bijak ditulisannya setelah kehilangan, padahal kita tidak pernah sadar bahwa diam-diam bahagia sedang mengintai: Belum Jatuh Cinta.

Bersambung….(1)

        Tulisan ini teruntuk kita yang masih menyalahi sebuah kepergian. Itu artinya, dirimu belum jatuh lebih dari cinta.

                                                                                                            Bekasi, Maret 2014