Dua
tahun pada sastra, membuat saya terus bercucuran airmata. Kemana masa depan
akan dibawa? Di kolong persahabatan mungkin saya sudah dianggap enggan.
Bagaimana bertemu mereka yang tinggal hitungan babak? Rasanya lemas dan belum
sembuh betul mengingat kejadian dua semester lalu. Menghindar jelas kegemaran
saya, duduk di kelas dengan bisu tanpa kalimatkalimat bahkan takada ilmu yang
bisa saya serap untuk kehausan tiga tahun lalu. Siasia betul hidup selama ini,
tanpa kebahagiaan yang sisanya milik oranglain—mereka menganggap diri mereka
tidak pernah bahagia, padahal sebetulnya ada saya yang lebih tidak bahagia.
Pesan-pesan
yang secara tidaklangsung menyampaikan
rasa kangen. Nyinyir setiap hari walau tak secara bersitatap, atau dari
sisasisa makanan dan minuman di kantin saya bisa rasakan siapa yang memeluk
saya lewat perbincangan mereka. Kalau berandai-andai semudah tiga tahun lalu,
tidak mempunyai ambisi keras pasti tak akan begini jadinya… pasti. Sebab hanya
menulispun saya sudah merasa enggan apalagi menjalaninya sampai semester ke
delapan. Apa kabar uang transferan dan yang pernah menjuluki saya kampungan?
Apakah mereka akan menjadi ilmuwan dan saya hanya cecunguk yang terus berdalih
tanpa alasan? Ke mana arti teman? Ke mana arti percintaan? Ke mana semua ini
tanpa akhiran-akhiran? Berpasrah diri saya tahu bukan hal yang paling muskil.
Mengenal orangorang baru pun menurut saya bukan pelarian dari cerita-cerita
lalu sebab semua akan digelontori begitu saja dan saya tetap akan sendiri lagi,
sampai kapanpun.
Lihatlah kekasih yang saya punyai
akhir-akhir ini. Ia berhasil membungkam semua pilu dalam dada tapi apa daya
semua sembunyi di palung airmata. Ia tidak mengetahuinya, sungguh tidak akan
mengetahuinya. Beruntunglah Allah mempertemukan saya dengannya, lelaki yang
tidak biasa dengan saya yang sudah tidak biasa di mata yang lain. Selalu
begitu. Menemukan orang berbeda, dianggap berbeda dan habis itu berkesudahan
begitu saja. Tidak ada pengingkaran di dalam sini. Tidak. Hanya karna patriarki
di kepala feminis saya, kecurigaan hingga ketraumaan entah harus dibayar mahal
pakai apa.
Saya
seperti teroris di negeri sendiri, di dunia yang saya ingini. Sedang tidak ada
lagi orang yang bisa dipercaya melainkan diri sendiri. Nyenyak pun tidak bisa
memercayai tidur di atas kasur yang mempertemukannya. Ada saja bahkan banyak
sekali penghalang yang menjejali saya, begitu saja. Mengalir tanpa diderasi
arus. Melihat begitu banyak media yang mendukung para penulis dengan komunitas
mereka, lalu apa saya yang hanya hidup meloncat pinak tanpa tujuan. Seperti
musafir kehausan lalu pergi tanpa celoteh kepada oase. Tidak ada yang
memercayai saya. Dikira, kisah Tan Malaka atau filsuf Sartre sudah berada pada
jamannya. Ternyata terjadi pada saya juga, semodern ini. Dilandasi do’a dan
keengganan yang semakin kuat, menuntut ilmu dengan sebagian besar mereka yang
menjadikan saya boomerang saya ingin memajukan kaki ke belakang bukan melarikan
diri terus ke depan. Ini bukan jawaban yang bukan-bukan……
17
Juli, Bekasi
Pernah Jatuh Cinta
Terkadang,
bahagia selalu memiliki kaki untuk memilih kemana ia pergi. Selalu jatuh cinta
perihal mata yang pertama. Apakah kita pernah merindukan hal-hal yang belum
pernah terjadi dalam hidup kita? Dan Allah telah akan menjadikan itu sesuatu
yang jadi entah di tepat usia ke berapa.
Lain
soal perihal hidup yang memaknai keintiman sebuah pertemuan. Di kedai kopi, di
pameran sastra, di debat kampus, di pementasan teater atau bahkan di ujung
panggung usai pembacaan puisi. Semua bahagia. Tertawa, lantas menjadi airmata.
Bahkan tulisan ini rupanya sangat tidak mahir untuk saya menulisnya. Banyak hal
yang seharusnya tidak ditulis atau terlewatkan untuk ditulis atau bahkan tidak
pantas untuk ditulis.
Mengalir dalam otak, saya
berpura-pura ragu untuk sekedar bertemu. Kedua, ketiga sampai menginjak
pertemuan ketujuh yang belum kesampaian sekarang. Orang bilang, hujan selalu
membawa romantis di genggamannya setelah kita mengenang seseorang atau sedang
mengenang seseorang atau bahkan melihat seseorang bersama lain perempuan dalam
sebuah pelukan. Siapa perantara bahagia? Kita sering menjelma lupa, sering
beradu rindu terlalu menggebu. Lupa terlalu tidak tahu diri hanya untuk
mengapa kita harus berbahagia?
Menyalahi oranglain yang terusir dalam
benak, memenjara dalam perangkap kita sendiri. Lantas apa sudi menyalahi diri
sendiri? Orang-orang kian bijak ditulisannya setelah kehilangan, padahal kita
tidak pernah sadar bahwa diam-diam bahagia sedang mengintai: Belum Jatuh Cinta.
Bersambung….(1)
Tulisan
ini teruntuk kita yang masih menyalahi sebuah kepergian. Itu artinya, dirimu
belum jatuh lebih dari cinta.