Kepada Haikal,
Terkantuk-kantuk sudah aku menulis surat ini untukmu.
Sudah hampir tengah malam sehingga aku tak dapat memejamkan mataku, yang ada
justru kamu. Jadi, kubiarkan saja diriku menuntaskan rindu.
Mari kita mulai dari, kamu apa kabar, Haikal? Lama sekali
rasanya tidak menanyakan kabarmu. Ya, semenjak kamu memutuskan untuk pergi ke
Westrn dan melanjutkan sekolahmu, aku tidak mencoba lagi menghubungimu. Terlalu
sakit rasanya ketika tahu orang yang kau cintai diam-diam harus pergi dari
jangkauanmu. Maafkan aku: jika kau menganggap aku pengecut.
Aku baik-baik saja jika kamu ingin tahu. Indonesia masih
sama dengan kemacetannya. Tidak banyak yang berubah selama kamu pergi. Aku
melanjutkan pendidikanku di Depok sekarang –di salah satu universitas impianku.
Sudah semester lima dan kemarin aku baru menerima IPK. Sedangkan kamu,
bagaimana denganmu?
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan disini, Haikal.
Jarak kita terlalu jauh (setidaknya bagiku) sehingga hanya sesekali saja aku
bercerita panjang lebar. Semoga kamu berkenan membalasnya.
Haikal, aku jatuh cinta padamu.
Aku lupa sejak kapan sadar akan hal itu. Ini mungkin
terlalu cepat, tapi sungguh, aku selalu merindukanmu. Merindukan saat-saat kita
mengerjakan tugas bersama, menemani kamu seharian di laboratorium fisika, atau
melihatmu tertawa. Sebut aku klise. Terserah. Tapi itulah yang aku rasakan.
Kamu pasti pernah jatuh cinta juga kan, Haikal? Lama aku memendam hal ini dan
baru kuucapkan sekarang.
Haikal, aku menyesal.
Kenapa kamu pergi begitu cepat –bahkan sebelum aku
memberikan hadiah perpisahan kepadamu? Sebuah kecupan, misalnya? Selepas dari
peristiwa di bandara itu, aku ingin menyatakan bahwa aku jatuh cinta padamu.
Tapi belum sempat aku berbicara tentang perasaanku, kamu beritahu aku terlebih
dahulu tentang mimpi-mimpi kamu. Dulu aku bungkam karena tidak ingin menjadi
penghalang untuk itu. Namun sekarang aku sadar, seharusnya aku menyatakannya.
Setidaknya walaupun kamu tidak bisa membalas perasaanku, aku sudah berusaha
jujur padamu. Seharusnya tidak aku pendam rasa ini sendirian. Sampai sekarang.
Haikal, aku akan menikah.
Ini hal terakhir yang akan aku ceritakan. Maafkan aku
jika baru mengabarimu. Aku akan menikah, Haikal. Dengan Farhan –laki-laki yang
dahulu kamu benci karena terlalu ambisius. Dulu dia sekampus denganku. Sekarang
sudah mendapat gelar sarjana. Semenjak kamu pergi, Farhan terus mendekatiku.
Awalnya hanya sekadar hubungan antara senior dan junior, tapi lama-kelamaan
Farhan semakin ambisius. Tak perlu kuceritakan bagaimana ambisiusnya dia, kamu
pasti ingat tentang kerja kerasnya meraih juara olimpiade matematika tingkat
nasional dulu, bukan? Ya, ketika itu Farhan melakukannya kepadaku.
Aku tetap mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik aku
menuntaskan suratku ini. Besok lusa Farhan akan datang. Ayah akan melepaskan
aku kepadanya. Kamu bisa datang, Haikal? Minimal untuk melepas rinduku padamu.
Aku mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik ini.
Salam,
Adisti.
Bogor,
26 Agustus 2014.
NB:
kak Vika, tolong dibuat bagian narasinya. Kalau bisa, pakai balasan dari Haikal
ya. Judulnya juga bisa diganti sih hehehehe.
***
Balasan Pertama
Yang pernah dicinta…
Western,
August
“….Saya sudah membaca suratmu, Adisti.
Tigabelas hari lalu setelah suratmu sampai, kuletakkan di atas almari supaya
tak ketahuan isteri. Kalimatmu sungguh apik. Bahkan, saya rasanya ingin
melebihi seluruh jujurmu bahwasannya sebelum Farhan membawamu ke gerbang
pernikahan, saya sudah lama menyimpan seribu harapan: Kepadamu. Disini, sudah
terkumpul puisi-puisi yang saya tulis kala senggang di sudut kota. Tentangmu
Adisti. Saya tak ingin banyak berkata-kata lewat surat balasan ini. Sebab, saya
hanya ingin berlama-lama memandang wajahmu saja –tanpa luruh kedalam topik
bicara. Adisti, percayalah bahwa Farhan hanya sampai gerbang pernikahan, bukan
linikala kebahagiaan. Tidak banyak, kan? Jangan sering menangisi saya. Kita
sudah sama-sama sudah menapaki bahagia walaupun tidak dengan yang dicinta.
Tetapi kamu: yang pernah dicinta.”
Mencintaimu sekedar perlu,
Haikal
Bekasi, 31 Agustus 2014
Balasan Kedua
Sampai
Jatuh aku kemarin sore. Ternyata,
menahun kangenmu terbalas sudah dengan kubalas surat ini. Adisti, kamukah ini?
Aku sangat rindu sekali. Dulu, rasanya aku ingin mengajakmu kawin lari.
Bagaimana sakitnya mencintai dan tidak bisa memiliki?
Kata orang, mencintai tak harus
memiliki. Apa kamu juga demikian halnya, Dis? Aku merasa bodoh membalas suratmu
dengan pertanyaan. Seharusnya, balasan ini menjadikanmu kelegaan niscaya kamu
bahagia disana walaupun dengan suamimu.
Suratmu
sampai padaku, Adisti. Cintamu sudah mengamar semenjak kuliah. Sayangnya aku
kalah telak oleh Farhan. Mencintai isteri yang bukan kehendak sendiri, justru
menyimpanmu; isteri oranglain. Aku memang tak sepandai kamu yang mahir menyusun
kata, padahal hanya sekedar menyampaikan kangen. Juga proses perjalananmu
menuju aku. Hanya suratmu yang sampai. . Tidak perasaanmu untuk kita. Apalagi
kamu. Aku bisa apa? Lagi-lagi aku bertanya, maafkan aku. Aku hanya bisa memohon
maaf. Aku sudah mengantuk, Dis. Pekerjaan kantor hari ini dan taklupa dua buah
puisi tentangmu, Adisti…. Kuharap kita bisa bertemu, Kita dengan anak-anak
kita.
“Isteriku
masih terjaga, Adisti… sampai jumpa di surat tersembunyi selanjutnya.”
Peluk cium,
Haikal
Rawamangun,
9 September 2014 23:27 WIB