Monday, September 8, 2014

KEPADAMU


Kepada Haikal,
            Terkantuk-kantuk sudah aku menulis surat ini untukmu. Sudah hampir tengah malam sehingga aku tak dapat memejamkan mataku, yang ada justru kamu. Jadi, kubiarkan saja diriku menuntaskan rindu.
            Mari kita mulai dari, kamu apa kabar, Haikal? Lama sekali rasanya tidak menanyakan kabarmu. Ya, semenjak kamu memutuskan untuk pergi ke Westrn dan melanjutkan sekolahmu, aku tidak mencoba lagi menghubungimu. Terlalu sakit rasanya ketika tahu orang yang kau cintai diam-diam harus pergi dari jangkauanmu. Maafkan aku: jika kau menganggap aku pengecut.
            Aku baik-baik saja jika kamu ingin tahu. Indonesia masih sama dengan kemacetannya. Tidak banyak yang berubah selama kamu pergi. Aku melanjutkan pendidikanku di Depok sekarang –di salah satu universitas impianku. Sudah semester lima dan kemarin aku baru menerima IPK. Sedangkan kamu, bagaimana denganmu?
            Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan disini, Haikal. Jarak kita terlalu jauh (setidaknya bagiku) sehingga hanya sesekali saja aku bercerita panjang lebar. Semoga kamu berkenan membalasnya.
            Haikal, aku jatuh cinta padamu.
            Aku lupa sejak kapan sadar akan hal itu. Ini mungkin terlalu cepat, tapi sungguh, aku selalu merindukanmu. Merindukan saat-saat kita mengerjakan tugas bersama, menemani kamu seharian di laboratorium fisika, atau melihatmu tertawa. Sebut aku klise. Terserah. Tapi itulah yang aku rasakan. Kamu pasti pernah jatuh cinta juga kan, Haikal? Lama aku memendam hal ini dan baru kuucapkan sekarang.
            Haikal, aku menyesal.
            Kenapa kamu pergi begitu cepat –bahkan sebelum aku memberikan hadiah perpisahan kepadamu? Sebuah kecupan, misalnya? Selepas dari peristiwa di bandara itu, aku ingin menyatakan bahwa aku jatuh cinta padamu. Tapi belum sempat aku berbicara tentang perasaanku, kamu beritahu aku terlebih dahulu tentang mimpi-mimpi kamu. Dulu aku bungkam karena tidak ingin menjadi penghalang untuk itu. Namun sekarang aku sadar, seharusnya aku menyatakannya. Setidaknya walaupun kamu tidak bisa membalas perasaanku, aku sudah berusaha jujur padamu. Seharusnya tidak aku pendam rasa ini sendirian. Sampai sekarang.
            Haikal, aku akan menikah.
            Ini hal terakhir yang akan aku ceritakan. Maafkan aku jika baru mengabarimu. Aku akan menikah, Haikal. Dengan Farhan –laki-laki yang dahulu kamu benci karena terlalu ambisius. Dulu dia sekampus denganku. Sekarang sudah mendapat gelar sarjana. Semenjak kamu pergi, Farhan terus mendekatiku. Awalnya hanya sekadar hubungan antara senior dan junior, tapi lama-kelamaan Farhan semakin ambisius. Tak perlu kuceritakan bagaimana ambisiusnya dia, kamu pasti ingat tentang kerja kerasnya meraih juara olimpiade matematika tingkat nasional dulu, bukan? Ya, ketika itu Farhan melakukannya kepadaku.
            Aku tetap mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik aku menuntaskan suratku ini. Besok lusa Farhan akan datang. Ayah akan melepaskan aku kepadanya. Kamu bisa datang, Haikal? Minimal untuk melepas rinduku padamu.
            Aku mencintaimu, Haikal. Mungkin sampai detik ini.
Salam,
Adisti.

Bogor, 26 Agustus 2014.
NB: kak Vika, tolong dibuat bagian narasinya. Kalau bisa, pakai balasan dari Haikal ya. Judulnya juga bisa diganti sih hehehehe.

***


Balasan Pertama


Yang pernah dicinta…

Western, August

“….Saya sudah membaca suratmu, Adisti. Tigabelas hari lalu setelah suratmu sampai, kuletakkan di atas almari supaya tak ketahuan isteri. Kalimatmu sungguh apik. Bahkan, saya rasanya ingin melebihi seluruh jujurmu bahwasannya sebelum Farhan membawamu ke gerbang pernikahan, saya sudah lama menyimpan seribu harapan: Kepadamu. Disini, sudah terkumpul puisi-puisi yang saya tulis kala senggang di sudut kota. Tentangmu Adisti. Saya tak ingin banyak berkata-kata lewat surat balasan ini. Sebab, saya hanya ingin berlama-lama memandang wajahmu saja –tanpa luruh kedalam topik bicara. Adisti, percayalah bahwa Farhan hanya sampai gerbang pernikahan, bukan linikala kebahagiaan. Tidak banyak, kan? Jangan sering menangisi saya. Kita sudah sama-sama sudah menapaki bahagia walaupun tidak dengan yang dicinta. Tetapi kamu: yang pernah dicinta.”


Mencintaimu sekedar perlu,

Haikal





Bekasi, 31 Agustus 2014




Balasan Kedua

Sampai

Jatuh aku kemarin sore. Ternyata, menahun kangenmu terbalas sudah dengan kubalas surat ini. Adisti, kamukah ini? Aku sangat rindu sekali. Dulu, rasanya aku ingin mengajakmu kawin lari. Bagaimana sakitnya mencintai dan tidak bisa memiliki?

Kata orang, mencintai tak harus memiliki. Apa kamu juga demikian halnya, Dis? Aku merasa bodoh membalas suratmu dengan pertanyaan. Seharusnya, balasan ini menjadikanmu kelegaan niscaya kamu bahagia disana walaupun dengan suamimu.

          Suratmu sampai padaku, Adisti. Cintamu sudah mengamar semenjak kuliah. Sayangnya aku kalah telak oleh Farhan. Mencintai isteri yang bukan kehendak sendiri, justru menyimpanmu; isteri oranglain. Aku memang tak sepandai kamu yang mahir menyusun kata, padahal hanya sekedar menyampaikan kangen. Juga proses perjalananmu menuju aku. Hanya suratmu yang sampai. . Tidak perasaanmu untuk kita. Apalagi kamu. Aku bisa apa? Lagi-lagi aku bertanya, maafkan aku. Aku hanya bisa memohon maaf. Aku sudah mengantuk, Dis. Pekerjaan kantor hari ini dan taklupa dua buah puisi tentangmu, Adisti…. Kuharap kita bisa bertemu, Kita dengan anak-anak kita.



 ( Lalu melipatnya, menyelipkannya ke saku celana)




“Isteriku masih terjaga, Adisti… sampai jumpa di surat tersembunyi selanjutnya.”




Peluk cium,



Haikal


                                                                                                           

Rawamangun, 9 September 2014 23:27 WIB