REUNIAN (yang akan Datang)
oleh: Nada Meita
Bergeming di hadapnya. Meluruh airmata
saya. Rubuh tubuh. Ingin menampar seluruh ingatan yang ternyata belum lalu,
belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh bertabrakan dengan saya punya
airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali menelan ludah ternyata
panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin bicara dan ucapkan
“terima kasih sebatas singgah.”
Asing. Meninggalkan kampus dan seisinya.
Enggan membuat saya menjadi barang paling ketiadaan. Dalam mereka duduk di
kenamaan, apalah saya hanya lilitan koran yang tersangkut di ban tukang becak.
Setiap mata kuliah setiap pertemuan dosen setiap obrolan di sudut kampus bahkan
dedaunan di pinggir selokan, seraya berkata kepada saya “kembalilah pada dosa.
Bukan terus menjalani kemauan.” Dosa apa
sebenarnya yang dimaksud si daun?
Sesempat saya duduk di lorong kampus.
Terkadang, ada yang inginnya digoda. Ada yang inginnya sejujur menuntut ilmu
atau bahkan ada yang ingin dicampakkan oleh dirinya sendiri; menahun kedua.
Setiap hari puisi-puisi diciptakan di sini. Entah dari hati atau sekedar
tulisan basa-basi. Mereka yang katanya mengerti kata-kata dan mengindahkannya,
justru di mata saya merekalah yang menghancurkan estetika. Dan saya masih
mematung sepuluh langkah dari sini. Di sini masadepan akan bersulang: dimulai
atau pengakhiran. Layaknya sebuah masadepan siapalah yang tak ingin menatanya
dengan apik? Tentu, bukan tidak mungkin akan disisihi oleh masa depan sendiri.
Digelontor begitu saja. Dan masih
tentang airmata. Dan masih tentang masa depan juga segala pertemuan-pertemuan
yang sungguh tak diinginkan. Setiap hari kertas-kertas menumpuk di meja dosen,
di belakang dose nada asisten dosen yang malu-malu melempar angkuh; sebetulnya
saya sudah memahaminya. Di tiap tumpuan, kaki-kaki tidak melandaskannya pada
do’a. Ujungnya berkah tidak menyampaikannya pada alam dan tidak sampailah
mengaminkan bersama. Sudilah kiranya menengok setulis-tulisnya abad yang belum
berakhir begini. Canda, tawa, pesta, bahkan main perempuan. Di sini katanya
adalah tempat segala masa depan diampu.
Tepuk tangan pertama, akan datang pada
baju toga yang kebesaran. Juga bunga-bunga pemberian, di genggaman. Setebal apa
masa depan akan dibawa pulang atau mendulang kesuksesan? Atau dibawa hanya sampai
tahap pernikahan? Semua ini akan menemukan jawaban, ke depan. Ya, ke depan dari
tubuh yang sedari mematung di lobi kampus. Anak dan suami, bersama mobil-mobil
mewah akan dibawa saya, begitu dalam dada. Lain hal dengan yang sedulu-dulu
tidak ingin menjadi guru. Hanya asal-asalan atau ternyata tersesat disendirinya
pilihan.
“Terima kasih, Reza.” Ucap saya
hati-hati pada pria yang kini berdasi. Masih bergeming di tempat saya berdiri,
saya lihat pria itu mendekat. Langkah kakinya mantap.
“Untuk apa, Vika?” katanya sambil
melihat mata saya. Saya tidak ingat mengapa mata itu begitu teduh sedari dulu,
membuat saya ingin bersemayam saja di dalamnya. Tapi saya sadar, pria bermata
teduh itu hanya meninggalkan goresan pada hati saya.
“Untuk hal-hal yang kamu ajarkan kepada
saya. Apapun itu. Dan, selamat atas gelar sarjanamu,”
Pria itu semakin mendekat dan dalam gerakan singkat, ia memeluk
saya. Saya pernah merasakan ini beberapa tahun yang lalu sebelum saya
memutuskan untuk berhenti. Rangkulannya masih membuat saya menjadi jatuh dalam
tubuhnya. Menjadi utuh; menjadi luluh. Astaga, mengapa seperti ini?
“Maaf.” Hanya itu yang saya dengar dari
mulutnya, sedetik kemudian Reza melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan saya lagi. Dunia saya dibawa
bersama langkah kakinya. Saya lihat dia tersenyum kepada wanita itu; Alika.
Ingin rasanya menampar seluruh ingatan
yang ternyata belum lalu, belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh
bertabrakan dengan saya punya airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali
menelan ludah ternyata panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin
bicara dan ucapkan “terima kasih sebatas singgah.”
Bogor, 18 Desember 2014
Cerpen ini versi pertama "Reuni (yang akan datang)" ditulis pertama kali oleh Dianovka Kusumastuty.
No comments:
Post a Comment