Monday, December 22, 2014

            REUNIAN (yang akan Datang)
oleh: Nada Meita

Bergeming di hadapnya. Meluruh airmata saya. Rubuh tubuh. Ingin menampar seluruh ingatan yang ternyata belum lalu, belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh bertabrakan dengan saya punya airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali menelan ludah ternyata panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin bicara dan ucapkan “terima kasih sebatas singgah.”

Asing. Meninggalkan kampus dan seisinya. Enggan membuat saya menjadi barang paling ketiadaan. Dalam mereka duduk di kenamaan, apalah saya hanya lilitan koran yang tersangkut di ban tukang becak. Setiap mata kuliah setiap pertemuan dosen setiap obrolan di sudut kampus bahkan dedaunan di pinggir selokan, seraya berkata kepada saya “kembalilah pada dosa. Bukan terus menjalani kemauan.” Dosa apa sebenarnya yang dimaksud si daun?

Sesempat saya duduk di lorong kampus. Terkadang, ada yang inginnya digoda. Ada yang inginnya sejujur menuntut ilmu atau bahkan ada yang ingin dicampakkan oleh dirinya sendiri; menahun kedua. Setiap hari puisi-puisi diciptakan di sini. Entah dari hati atau sekedar tulisan basa-basi. Mereka yang katanya mengerti kata-kata dan mengindahkannya, justru di mata saya merekalah yang menghancurkan estetika. Dan saya masih mematung sepuluh langkah dari sini. Di sini masadepan akan bersulang: dimulai atau pengakhiran. Layaknya sebuah masadepan siapalah yang tak ingin menatanya dengan apik? Tentu, bukan tidak mungkin akan disisihi oleh masa depan sendiri.

Digelontor begitu saja. Dan masih tentang airmata. Dan masih tentang masa depan juga segala pertemuan-pertemuan yang sungguh tak diinginkan. Setiap hari kertas-kertas menumpuk di meja dosen, di belakang dose nada asisten dosen yang malu-malu melempar angkuh; sebetulnya saya sudah memahaminya. Di tiap tumpuan, kaki-kaki tidak melandaskannya pada do’a. Ujungnya berkah tidak menyampaikannya pada alam dan tidak sampailah mengaminkan bersama. Sudilah kiranya menengok setulis-tulisnya abad yang belum berakhir begini. Canda, tawa, pesta, bahkan main perempuan. Di sini katanya adalah tempat segala masa depan diampu.

Tepuk tangan pertama, akan datang pada baju toga yang kebesaran. Juga bunga-bunga pemberian, di genggaman. Setebal apa masa depan akan dibawa pulang atau mendulang kesuksesan? Atau dibawa hanya sampai tahap pernikahan? Semua ini akan menemukan jawaban, ke depan. Ya, ke depan dari tubuh yang sedari mematung di lobi kampus. Anak dan suami, bersama mobil-mobil mewah akan dibawa saya, begitu dalam dada. Lain hal dengan yang sedulu-dulu tidak ingin menjadi guru. Hanya asal-asalan atau ternyata tersesat disendirinya pilihan.

“Terima kasih, Reza.” Ucap saya hati-hati pada pria yang kini berdasi. Masih bergeming di tempat saya berdiri, saya lihat pria itu mendekat. Langkah kakinya mantap.

“Untuk apa, Vika?” katanya sambil melihat mata saya. Saya tidak ingat mengapa mata itu begitu teduh sedari dulu, membuat saya ingin bersemayam saja di dalamnya. Tapi saya sadar, pria bermata teduh itu hanya meninggalkan goresan pada hati saya.

“Untuk hal-hal yang kamu ajarkan kepada saya. Apapun itu. Dan, selamat atas gelar sarjanamu,”

Pria itu semakin  mendekat dan dalam gerakan singkat, ia memeluk saya. Saya pernah merasakan ini beberapa tahun yang lalu sebelum saya memutuskan untuk berhenti. Rangkulannya masih membuat saya menjadi jatuh dalam tubuhnya. Menjadi utuh; menjadi luluh. Astaga, mengapa seperti ini?

“Maaf.” Hanya itu yang saya dengar dari mulutnya, sedetik kemudian Reza melepaskan pelukannya dan beranjak meninggalkan saya lagi. Dunia saya dibawa bersama langkah kakinya. Saya lihat dia tersenyum kepada wanita itu; Alika.

Ingin rasanya menampar seluruh ingatan yang ternyata belum lalu, belum layu. Sesekali mengernyitkan dahi, peluh bertabrakan dengan saya punya airmata. Inilah kenyataan di depan mata. Seribu kali menelan ludah ternyata panggung drama baru saja dibuka. Ngilu walau hanya ingin bicara dan ucapkan “terima kasih sebatas singgah.”



Bogor, 18 Desember 2014

Cerpen ini versi pertama "Reuni (yang akan datang)" ditulis pertama kali oleh Dianovka Kusumastuty.

No comments:

Post a Comment