Saturday, December 21, 2013

Wacana Konflik Kasta dalam Feminisme dan Struktualisme Genetik Mengkaji Buku Kumpulan Puisi ‘Patiwangi’ Karya Oka Rusmini


 
DIANOVKA KUSUMASTUTY
Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta


Oka Rusmini, seorang perempuan Bali keturunan kasta Brahmana dan tetiba jatuh cinta dengan pria muslim bernama Arief Prasetya ini tlah membuat saya ingin menyingkap buku kumpulan puisi ‘Patiwangi’, karyanya sendiri. Masyarakat Bali sendiru, dikenal tegas soal urusan kasta. Maka itulah, sejak cinta yang dimulai dari pertentangan keluarga dengan alasan kasta dan agama, lahirlah sebuah karya kumpulan-kumpulan puisi Oka yang begitu menggambarkan sosoknua dengan gamblang dihantui pilihan antara cinta dan adat. Bagaimana unsur feminis dan sturktural genetik melihat kasus ini pada puisi-puisi Oka?

P

uisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengandung unsur keindahan. Puisi dapat dikatakan sebagai suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang obyeknya adalah manusia dengan kehidupannya. Sebagai karya sastra, selain memberikan kenikmatan seni,tentu saja puisi tersebut sarat dengan makna yang dapat dipetik untuk memperbaiki dan memperkaya kehidupan batin. Akan tetapi makna dalam puisi biasanya tidak mudah untuk dipahami dan cara penyampaian: implisit, sugestif, dan penuh dengan ambiguitas. Di samping itu, seseorang tidak dapat memahami puisi tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna. Oleh karena itu, diperlukan penalaran dan daya apresiasi yang tinggi guna memahami puisi. Pengkajian yang salah, akan menghasilkan penafsiran yang salah pula.

            Saat ini, pengkajian puisi cenderung dilakukan hanya pada penelaahan teksnya saja. Dalam artian, pengkajian dilakukan hanya dengan melihat unsur — unsur yang membangun karya tersebut dari dalam, sedangkan unsur di luar teks seperti peranan pengarang cenderung diabaikan. Hal ini tentunya tidaklah tepat,karena pemaknaan teks sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas,kepribadian, cita-cita, dan juga norma — norma yang dipegang teguh oleh pengarang. Berpijak dari pengalaman ini, hendaknya pengkajian puisi dilakukan secara keseluruhan: pengkajian dipusatkan pada unsur — unsur yang membangun dari dalam, kemudian dipadukan dengan unsur — unsur di luar puisi tersebut. Salah satu kajian yang memenuhi kriteria di atas ialah kajian strukturalisme genetik. Dengan kajian ini, dapat dipastikan penikmat akan mendapatkan makna totalitas puisi.

            Dan uraian — uraian di atas kita menyadari bahwa betapa pentingnya sastra dalam kehidupan. Oleh karena itu, pengajaran sastra perlu mendapatkan perhatian dan lebih diintensifkan lagi dan guru pembina sastra, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sejauh ini pengajaran sastra Indonesia masih mengalami hambatan. Hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak yang berkecimpung dalam sastra Indonesia untuk selalu berusaha menemukan alternatif pemecahannya. Kegiatan mengapresiasi sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Puisi dibangun dalam bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Setiap unsur dalam puisi mempunyai fungsi tertentu dan selalu mempunyai hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.





Dalam kesusastraan konvensional dinyatakan bahwa puisi adalah salah satu karya sastra yang terikat dengan bait dan irama, tetapi dalam perkembangan selanjutnya puisi tidak terikat lagi dengan konvensi tersebut. Ada beberapa pengertian puisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli seperti di bawah ini.
            Menurut Wordsworth dalam Pradopo (1987: 6), bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sedangkan Auden masih dalam Pradopo (1987 : 6), mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur baur.
            Walaupun kedua batasan puisi di atas memberikan tekanan pada segi perasaan, tetapi terdapat juga beberapa perbedaan. Hal ini tidaklah perlu diherankan, karena yang satu menitikberatkan pada pernyataan perasaan yang imajinatif, sedangkan yang lainnya memberikan tekanan pada pernyataan perasaan yang bercampur baur. Tetapi keduanya sependapat bahwa sarana untuk itu adalah bahasa emosional, bahasa berirama yang matang dan tepat guna.
            Selanjutnya Mulyana dalam Antara (1986 : 79), menjelaskan bahwa puisi adalah sintesis dan berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.
            Dan ketiga pandangan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ekspresi dan pengalaman jiwa yang menggunakan bahasa yang matang dan tepat guna yang tersusun dalam salah satu bentuk. Oleh karena setiap puisi merupakan ekspresi dan pengalaman jiwa, maka pertama sekali yang diperoleh bila membaca puisi adalah pengalaman. Semakin banyak seseorang membaca puisi serta menikmatinya, maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh dan dinikmatinya, terlebih lagi pengalaman kehidupan batin.
            Sebagaimana telah diketahui, bahwa suatu karya sastra (puisi) sebenarnya merupakan hasil pekerjaan kreatif, yang dibangun dan dua unsur pokok yaitu unsur intrinsik sebagai unsur dalam dan unsur ekstninsik sebagai unsur luar. Unsur — unsur yang terkandung dalam kedua unsur tersebut masing — masing memiliki fungsi, namun demikian, unsur yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Selain itu, telah disepakati bahwa ramuan suatu keindahan adalah dapat dilihat dan segi tata bentuknya. Tata bentuk pada dasarnya menunjuk pada kepastian dan keterpaduan bentuk — bentuk itu. Itulah wujud pemahaman unsur — unsur pembangun sebuah karya sastra (puisi), atau dapat juga dikatakan anatomi puisi, seperti karya sastra selain prosa dan drama, yang dapat dikaji dan bermacam — macam aspeknya. Karena itu, dalam konsep analisa puisi in akan dibicarakan bagaimana menganalisa puisi berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik sehingga dapat dipahami totalitas maknanya.
            Penelitian strukturalisme genetik, menelaah karya sastra dan dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dan kajian unsur intrinsik ( kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan realitas masyarakatnya. Karya sastra dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa — peristiwa penting dan zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur — unsur intrinsik karya sastra.
            Puisi (sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu dianalisis sehingga dapat diketahui bagian — bagian serta jalinannya secara nyata. Analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian dua bentuk dan isi belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek dan Warren, via Pradopo, 1987: 14).
            Untuk menganalisa puisi setepat — tepatnya perlulah diketahui apakah sesungguhnya puisi itu. Puisi sebagai suatu hasil karya kreatif manusia, yang merupakan perwujudan rekaman dan interpretasi pengalaman dan pemikiran manusia yang digubah dalam wujud yang paling berkesan dengan menggunakan bahasa sebagai media, itu harus dimengerti sebagai sebuah struktur. Jadi, kesatuan unsur — unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal — hal atau benda yang berdiri sendiri melainkan hal — hal itu sating terkait, dan saling bergantung.
            Strukturalisme genetik merupakan salah satu pendekatan untuk memahami puisi. Kajian mi mendasarkan pendekatannya dengan dua prinsip pokok yaitu strukturalisme dan genetik, tetapi kelemahan strukturalisme dikoreksi dengan memasukkan faktor genetik di dalam pemahaman sastra. Genetik karya sastra artinya asal — usul karya sastra itu, dalam hal mi adalah pengarang dan latar belakang pengarang yang melatarbelakangi penciptaan sastra itu (Teeuw, 1984:153).
            Sementara itu Damono dalam Djojosuroto (2005 : 37) mengungkapkan bahwa karya sastra sebagai hasil kegiatan kultural tidak dapat dipahami di luar totalitas kehidupan dalam masyarakat yang telah melahirkan karya tersebut. Karya sastra tidak dapat ditafsirkan maknanya secara sahih jika diceraikan dan pengarangnya dan hubungan sosio historis yang telah terlihat di dalamnya. Apabila kedua faktor itu ditiadakan maka hasil penafsiran itu akan berupa gambaran sepihak atau hanya berupa sebagian dan kenyataan yang harus dikemukakan.
            Dan dua pendapat di atas, dapat disimpulkan strukturalisme genetik berusaha meneliti teks sastra dan segi struktur, dengan melihat komponen-komponen yang membangunnya dan hubungan antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuan dan keutuhan teks, lalu dicari hubungannya dengan aspek sosial-budaya yang melatarbelakanginya.
            Teeuw mengungkapkan bahwa penafsiran terhadap karya sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma- norma yang dipegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu (1984 : 173).
            Pengabaian unsur masyarakat berarti pengkajian sastra menjadi pincang. Pandangan dunia yang ditampilkan pengarang lewat permasalahan tokohnya merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. Pandangan dunia itu memperoleh bentuk konkret di dalam karya sastra. Pandangan dunia bukan fakta. Pandangan dunia tidak memiliki eksistensi obyektif, tetapi merupakan ekspresi teoritis dan kondisi dan kepentingan suatu golongan masyarakat tertentu.
            Sejalan dengan pandangan di atas, lebih lanjut Budiman mencetuskan gagasan sastra kontekstual, yang berarti, karya sastra tidak dapat dipisahkan dan konteks masyarakat baik asal maupun tujuannya. Asal artinya sumber penciptaan karya sastra tidak dapat lepas dan konteks sosial budaya penyair. Tujuan artinya karya sastra ditujukan untuk masyarakat pembaca tertentu yang konteksnya sudah dibayangkan oleh penyair. Konteks penyair dan keadaan sosial budaya begitu kuat berpengaruh pada karya sastra. Oleh karana itu, penafsiran makna puisi harus mempertimbangkan konteks penyair dan sosial budayanya (Djojosuroto, 2005 : 38).
            Akhirnya dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalisme genetik mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi,apabila pengkajiannya sendiri tidak melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memperhatikan faktor - faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi.
            Penyair sebagai kreator tidak akan bisa melepaskan latar belakang sosial dan kenyataan-kenyataan yang telah dialami (mimesis). Misalnya, pandangan penyair mengenai filsafat, sosial, psikologi dan religinya. Oleh karena itu, untuk memperkuat gagasan tentang pendekatan ini dalam pemahaman puisi, maka berikut ini akan ditemukan uraian tentang relevansi pendekatan strukturalisme genetik dalam membahas puisi Indonesia, antara lain:
1.   Puisi-puisi W.S. Rendra sebagian besar adalah rekaman kehidupan pribadinya dan kenyataan sosial masyarakat. Kumpulan puisinya, Romansa, Blues untuk Bonie, dan Potret Pembangunan dalam Puisi berhubungan dengan latar belakang kehidupan penyair dan kenyataan sosial yang terjadi pada saat puisi itu diciptakan. Romansa menggambarkan kisah percintaan Rendra dan Sunarti Suwandi. Blues untuk Bonie melukiskan kritik sosial terhadap situasi sosial di sekitar Rendra dan berhubungan dengan krisis iman dalam din penyair (Kinayati Djojosuroto, 2005:40-41).
2.   Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Telinga” berhubungan dengan cerita Jawa “Dewa Ruci” (Damono, 1983:9). Selanjutnya kembali puisi Sapardi yang berjudul “Pertapa” harus ditafsirkan berdasarkan cerita Jawa Bagawan Mintaraga. Puisi Sapardi yang berjudul “Perahu Kertas” harus ditafsirkan berdasarkan cerita “Nabi Nuh” (Damono, 198:46).
            Demikianlah relevansi pendekatan strukturalisme genetik jika digunakan untuk menafsirkan makna puisi Indonesia. Banyak kata — kata khas yang hanya dapat ditafsirkan dengan memahami konteks penyair dan latar belakang proses penciptaan. Hubungan antara penyair dan proses penciptaan sangat besar peranannya dalam memberi jawaban atas makna puisi itu.
Oleh sebab itu kedua unsur itu sulit untuk dilepaskan.

***
1387641416117.jpg
Sebelum mengupas adanya kekentalan feminisme dan  mengupas secara struktualisme genetik pada puisi-puisi Oka Rusmini, pada jurnal ini hanya suatu penelitian kecil dalam puisi-puisi pengarang perempuan Indonesia modern yang melakukan pemberontakan melalui tulisan-tulisannya dengan latar belakang kehidupannya di Bali sebagai keturunan Brahmana. Kemudian menikah dengan pria muslim dan beda kasta pula. Maka, geramlah Ayah Oka yang membawa Oka kepada upacara Adat yang disebut ‘Patiwangi’. Dengan adanya pengkajian melalui kajian feminisme dan unsur strukturalisme genetik, kita semua dapat memahami mengapa Oka Rusmini selalu menulis karya-karyanya (puisi; seperti yang akan kita bahas dalam jurnal ini).

Upacara Berdampak Psikologis

            Kehidupan kelam Oka Rusmini yang Ia tulis dalam sajak-sajaknya merupakan suatu penyegaran dalam kesusasteraan modern di kalangan pengarang perempuan Indonesia, mengangkay kisah nyatanya sendiri karena penindasan kaum patriarki juga dengan asal-usulnya sebagai keturunan kasta Brahmana, berujung duka karena harus melakukan uoacara patiwangi. Patiwangi sendiri merupakan upacara yang dilakukan perempuan bangsawan di Pura Desa untuk menghilangkan kebangsawananya, karena menikahi laki-laki yang berkasta rendah.
            Berikut salah satu sajak dalam buku kumpulan puisi kara Oka Rusmini:
Patiwangi

Inilah tanah baruku
Mata air menentukan hidupnya
Ikan-ikan memulai percintaan baru
Batang-batang yang menopang daun-daun muda
Membuat upacara penguburan
Telah kucium beragam bunga
Dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah
Suara genta menyumbat mata angin
Tak mampu mengantar dewa pulanh

Kubuat peta di pura
Puta
Mengantar warnaku pada silsilah matahari
Bumi mengeram, tanah memendam amarah
Tak ada pecahan suara menyelamatkan warnaku

Para lelaki menantang matahari Penunggu warna peremouan pilihannya
Tak ada upacara untuknya di setiap sudut Pura

Para pemangku hanya mencium bangkai dupa
Terlalu banyak dewa yang harus diingat
Dan para lelaki terus meminang

Karena namaku, kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak kumandikan dari pilihan ini.

(1995, bagian kedua hal. 98)

Puisi diatas dengan gamblang menjelaskan perjalanan Oka selama upacara patiwangi berlangsung. Bagaimana Ia sebenarnya sangat yakin denngan pilhannya: pria muslim yang Ia nikahkan dan lunturnya citra bangsawan pada dirinya.
Walau pasti keluarga akan malu menanggung keputusannya itu, namun di bait terakhir Ia mengatakan dengan tegas (mempunyai makna kira-kira begini); kelak Ia mempunyai keturunan dari percampuran perempua ‘bekas’ bangsawan dengan lelaki kasta yang lebih rendah darinya. Kehidupan amat sangat baru akan dijalani Oka. Ia akan tahu betul bagaimana akan membawa anakanaknya menjadi keturunan dengan julukan apa, kelak.
Disamping soal feminis, sajak-sajak Oka pun menyiratkan unsur-unsur struktualisme genetik: adanya ketidakadilan terhadap kaum perempuan berkasta dan pertentangan sekaligus protesnya terhadap upacara adat patiwangi. Ini sebab menjadi tekanan psikologi terhadap Oka Rusmini yang terus berada dalam lingkup masyarakat Bali terutama kalangan bangsawan lengkap dengan konflik kasta didalamnya.

Adat Istiadat yang Feodal

Diawal, saya sudah menuliskan bahwa Oka mempunyai hidup yang sangat prihatin. Disamping keluarganya tidak setuju akibat keputusannya untuk memilih pasangan hidup pria muslim dan berkasta lebih rendah darinya, ikut Ayahnya hijrah ke Jakarta dan Ia sempat tinggal dengan Ayahnya di asrama tentara yang sangat disiplin dan keras. Kemudian, Ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan maka lengkaplah penderitaan Oka. Itulah sebabnya, karya-karya Oka baik cerpen, novel maupun kumpulan puisi yang sekarang kita bahas merupakan paduan antara feminisme dan unsur gen (keturunan) serta latar belakang kehidupan si pengarang dalam karya-karya yang dihasilkan.

***

Buku kumpulan puisi karya Oka Rusmini ini, bisa menjadi salah satu penyemangat bagi kaum perempuan Bali yang bersilsilahkan bangsawan dan terjebak antara cinta dan kekangan adat. Juga, menjadikan kaum patriarki jika ingin menikah dengan perempuan Bali berkasta tinggi tidak dengan ‘seenak jidat’ untuk bebas memilih yang mereka suka. Sebab, bentuk keadilan tentu terlihat jelas dan nyata pada posisi si Perempuan. Mengapa? Karena, seorang perempuan berkasta tinggi, akan menanggung beberapa beban seperti tidak akan dipercaya lagi oleh keluarga walaupun dengan pilihannya sendiri, status sosial dalam masyarakat yang dari dulu melekat sebagai perempuan bangsawan bahkan sampai menentukan status keturunannya nanti terhadap hasil percampuran dua kasta yang jauh berbeda. Belum lagi soal sang Ayah yang menjadikannya sebuah tuntutan kehidupan yang keras, pun karena lingkungan yang sempat Ia tinggali di Jakarta. Menjadi urban dari Bali ke Jakarta tidaklah mudah, membuat Ia menuliskan sajak-sajak hasil kehidupan nyatanya selama tinggal bersama Ayah yang kemudian menikah lagi dengan perempuan lain, Antara Ayah dan Suami membuatnya semakin merasakan tekanan psikologi, bukan?

Dan para lelaki terus meminang

Karena namaku, kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak kumandikan dari pilihan ini.

            Potongan sajak diatas, cukup menjelaskan mengapa Oka Rusmini mengumpulkan 113 sajak diselektifkan menjadikannya sebuah buku dan diambil pula patiwangi menjadi sebuah judul buku tersebut.

Kepustakaan
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : Sinar Baru.
Antara, I.G.P. 1985. Apresiasi Puisi. Denpasar : CV Kayu Mas.
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas.
Atmazaki. 1990. Analisis Sajak Metodelogi dan Aplikasi. Bandung : Angkasa.
Damono, Sapardi Djoko. 1976. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta : Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djupriyanto. 1992. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya : Kandang Sari.
Djojosuroto, Kinayanti. 2005. Puisi Pendekatan dan Pembelajaran. Bandung : Nuansa.
Jassin, H,B. 1967. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta: Gunung Agung.
Jurnal Kritik Teori & Kajian Sastra Nomor 4 Tahun III, 2003
Rusmini, Oka. 2003. Patiwangi. Bentang Budaya.
Tarigan, Hendry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
Tjahyono, Liberates Tangsu. 1984. Teori Sastra Indonesia. Jakarta : PT. Intan.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.
Wiryo Soedarmo, Soekono. 1984. Pengantar Ke Arah Studi Teori Sastra Indonesia. Jember : PT. Intan.



PENULIS EDISI INI

Dianovka Kusumastuty, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kini sedang menempuh S1 prodi Sastra Indonesia tingkat 2 di Universitas Negeri Jakarta. Pernah menjabat sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 45 Bekasi periode 2008-2009 dan Ketua HUMAS Palang Merah Remaja Red-Cross 45 (2008-2009), Ketua Umum Kreasi Seni Budaya SMK Negeri 2 Kabupaten Bekasi (2011-2012) yang meliputi Divisi Teater dan Lenong, Divisi Musik (Alat musik tradisional, Paduan Suara, Perkusi dan Band), Divisi Tari (Tradisional dan Modern Dance), Ketua Pelaksana Ikatan Organisasi Seni antar-pelajar SMK Negeri 1&2 Kabupaten Bekasi (AKSARA&KSB) dalam acara Seni Bekasi (2011).
Menyukai bahasa Indonesia sejak SMP dengan menciptakan musikalisasi puisi th. 2008 kemudian menyukai puisi sejak SMK. Pernah mengikuti beberapa perlombaan di bidang seni, diantaranya Juara II Qori’ tingkat SMP Kota Bekasi (2008), Juara III Baca Puisi Bulan Bahasa (2010), Juara II baca puisi tingkat SMA/SMK Bekasi, Cerpennya Menulis Sastra di Kepala (2011) mendapat Juara II Lomba Majalah Dinding di sekolah, Juara III Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Bekasi di Universitas 45 Bekasi, Juara I Lomba Baca Puisi Bulan Bahasa (2012), Juri Baca Puisi Bulan Bahasa (2013), Pementasan ‘teater semut’ Festival Teater Jakarta di Universitas Darma Persada (2011). Puisinya Rancu, Ayah Sebagai Sastra Dunia dan Pening (2011) pernah terpilih sebagai puisi terbaik di rubrik Bekasi Muda (BEKSMUD) tingkat pelajar SMA/SMK  dan pernah mengisi rubrik BeksMud Radar Bekasi hingga tahun 2012, juga di website TGP Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Waktu Kian Sendu, Kerut-Kerut Manis (2013), dan Ayah (2013).




Saturday, October 5, 2013

MEMORANDUM BEKU


LALU KITA saling diam. Tak ada yang terlontar, kecuali tatapan. Duduk di ruang tengah dengan makan malam yang sudah dingin, kau memilih masuk kamar.

                                                                           ***

Kaumemilih untuk menempelkan jejak-jejak kaki pada salju yang kian merapat di sepanjang aspal. Mulutmu takjarang mengepulkan embun tanda kau sangat kedinginan. Sedang disini saya baru mulai menggigil. Sambil menulis sebuah pesan singkat di beberapa kertas, rupanya saya lupa mematikan pemanggang roti. Dan lagi-lagi masih tentang kau dengan jaket kulit yang sayaberi setahun lalu. Apa masih kaukenakan? Baiklah. Saya mulai cerita bangsat ini dengan kehangatan penuh paksaan. Sambil berendam di bak mandi, takpeduli bebutir yang mulai menyelinap di kutang saya. Makin lama makin penuh seisi rumah ini. Mereka menempel di ventilasi,dinding kamar kita,patung kuda di depan latar rumah dan mereka semakin banyak. Saya kelimpungan. Bagaimana bisa, sedang saya sudah merasa sangat hangat. Bukan dengan kau. Cuma saya, sendiri…. Coba lihat, Sayang. Rupanya bekas sarapan tadi pagi mulai berkerak. Kaupun tak kunjung datang. Padahal saya berusaha menutup jendela rapat-rapat. Saya beranjak ke dapur, mencoba membuat sup hangat barangkali kau ingin pulang dan memakannya. Juga menidurkan saya. Seperti malam-malam sebelumnya. Duapuluh empat jam, sudah. Saya simpulkan kau takmau kembali. Saya gerah, bukan karena suhu. Melainkan dengan kau, juga kita. Pagi hari ketika tetangga sebelah sedang akur dengan keluarga mereka, saya iseng  duduk memandangi mereka sambil minum secangkir kopi. Takbiasanya saya keluar rumah. Cuma bisa nyinyir, apalagi jika ditanya “suamimu mana?”.  Kaumenyetir ugal-ugalan, padahal sudah saya katakana pulang saja. Kau amat sangat kedinginan. Menabrak seluruh kandang milik juragan ternak, kautertawa terbahak-bahak. Saya disini masih meringkuk di dekat perapian, menunggu kaupulang. Supnya sudah basi. Juga sudah dingin tercampur darah dari kelingking saat saya memotong kentang, kesukaanmu bukan? Sudah tiga malam saya taktidur, hanya untuk menunggu kau. Saya merasa menjadi istri yang sudah gila bahkan para tetangga mengira saya sudah mati di dalam rumah dan kita sudah bercerai. Tetiba saya ingat dengan beberapa lembar kertas untuk kau, saya bergegas ke kamar dan sempat-sempatnya saya melirik bingkai foto amat besar. Foto perkawinan kita. Kertaskertas itu terselip di tumpukkan celana dalammu yang rupanya sengaja tak sayacuci, hanya untuk mengenang kau. Itu cara saya, taksalah bukan? Lantas kadar cinta duapuluh tahun lalu, sesempit ini kaudustakan? Bertubi-tubi layaknya istri simpanan saya juga ingin terlihat elegan. Dengan gaun perkawinan pertama kali, saya kenakan. Saya bergincu dan tersenyum bahagia layaknya saya akan berangkat ke gereja untuk dikawini kau. Menari-nari di dalam kamar, berbicara sendiri sedang saya takmampu lagi menahan dingin. Lelah sudah paling ujung menahan dingin menahan kantuk bahkan menahan kau untuk pergi. Bahkan rupanya kenyataanpun lebih enggan untuk menahanmu. Saya mengencangkan sanggul, menatap cermin sambil tersenyum. Padahal dapur sangat berantakan dan keran kamar mandi mulai rusak. Keluar rumah tengah malam, dengan gaun saya. Dan kau….kembali ke rumah tanpa permisi. Membaca, membolak-balik kertas isi pesan saya kemudian pergi. Ternyata selama ini kau bermalam di perkampungan para pelacur. Oh, saya 
tidak lebih menghangatkan kau ketimbang mereka. Selebihnya tentang luka adalah mencintaimu ketika gugur tiba. Selamat hari perkawinan.
                                                                                                                                                                                                                                                             
                                                                                                          Rawamangun, 5 Oktober



Wednesday, September 25, 2013

Tetralogi Senja

Beberapa langkah dari tempatku beristirahat, terdengar jejak langkah yang semakin mendekat. Aku merasa tak biasa dengan langkah yang semakin lama semakin dekat menuju ke arahku.
Ternyata, kamu bersama istri barumu………………………………..
                                                            ***
Kapal pesiar itu menjadi penghantar perpisahan kami. Padahal masih ada 2 malaikat yang harus kami rawat sampai mereka berubah menjadi bidadari, bagaimana bisa? Aku dan pangeranku tlah merencanakannya sejak kemarin, kemarin ketika kami masih baru menjadi sepasang ajal. Tuhan pun memutuskan sampai batas titik akhir laut memudar, Aku menangis menatapi bayang-bayang diriku sendiri.
Aku suka senja, setidaknya Ia adalah perbatasan mengapa kami bertemu. Mengapa kami hidup bersama sampai kini sampai esok sampai senja kembali sampai aku mati. Tetapi senja-lah yang memisahkanku juga, senja-lah yang beri jawaban atasku, senja-lah yang membuatku hidupku hancur detik itu juga.
“Kamu ingat? Pasir-pasir ini adalah saksi kita. Mungkin hanya Aku saja wanita di dunia ini yang ingin di akad hanya pada senja datang. Aku ingin merasakan temaram! Aku ingin menjadi bayang-bayang di pantai ini atau bahkan Aku ingin terus ada di qalbumu sampai Aku mati nanti…..” Celotehku pada tumpukkan kertas-kertas yang Ku simpan 13 tahun lalu.
Kemudian tak lama, hidupku terkikis oleh harapanku untuk hidup. Aku mulai lemah, Aku lebih banyak membuang-buang waktuku hanya karna penyakitku sendiri.
“Tuhan…..tolong sampai Dia kembali…Ku mohon Tuhan” Rintihku dalam batin.
Kedua malaikatku, ku titipkan kedua orang tuaku. Mereka masih terlalu lugu untuk ini, Aku hanya tidak ingin menjadi Ibu yang gagal. Setiap senja, Aku habiskan menatapi ujung air laut sampai kapal itu kembali. Ya! Sampai kembali. Bahkan tanpa Ku sadari, hidupku semakin ringkih. Apa penyebabnya? takdir Tuhan rupanya…
Senja manis di bebutir pasir lembut. Lengkap dengan temaramnya…
“Semercik angin, Ku mohon cepat kembalikan asa yang tlah lama ku ukir dibatas hidupku”, Aku tiba-tiba bergores pada penaku.
“…………Lalu apa yang sudah ku capai selama ini? Apa aku harus menunjukkan keputusasaanku? Apa tetap berjalan melambai sampai pada titik rindu? Arrrrrrrgh aku sudah sayup rupanya. Aku bergerus pada reruntuhan emosiku sendiri………………….” Lanjutku pada lembar-lembarku.
Ku toleh kembali lingkaran indah yang melingkar pada jari manisku. Rasanya ingin ku ikutesertakan ke syurga nanti, Ya! Aku biarkan sampai Aku tergerus ajal. Tiba-tiba pikiranku kembali berkecambuk keadaan kedua malaikatku. Mereka akan menjadi apa nanti? Aku termangu, langit pun ikut termangu.
                                               
Tlah ku putuskan untuk meninggalkan senja hari itu. Di kamar, aku hanya meninggalkan beberapa lembar potongan novel yang belum kelar. Hatiku sebenarnya enggan, kasihan anakku nanti. Tapi aku harus egois, ya. Egois. Aku nekat pergi ke negeri manapun supaya aku sembuh. Tanpa suamiku. Aku sudah tidak memikirkan dia. Dia yang seperti apa, dia yang bagaimana keadaannya sekarang atau dia yang sudah bersama siapa sekarang. Pulanglah sayang…..
Sebenarnya aku malas mendengarkan dokter bilang apa, dengan terbata-bata Ia menyebutkan jenis penyakit itu. Ia mengatakan pula kalau aku tidak bisa sembuh, bisa tetapi tidak total. Aku lekas meninggalkan ruangan itu. Ku coba menghubungi pangeranku sepanjang perjalanan pulang. Tidak bisa, sudah biasa. Aku sudah biasa sejak berbulan-bulan lalu. Dan kini aku tak bisa akan terus berlama-lama di rumah Aku tak tega dan harus jawab apa kepada mereka yang ku sebut malaikat.
Seperti biasa, lamunanku terus menjalar ditemani senja. Aku kembali meneruskan tulisan-tulisan ini, padahal aku sudah kehabisan ide. Maka ku percepat alur cerita, aku membiarkan diriku seperti penulis tidak tahu diri. Namun aku marah kepada Tuhan, mengapa Dia tidak bisa mempercepat kisah piluku sekarang? Mempercepat agar Ia kembali atau mempercepat kematianku. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menjadi hambaNya. Aku merasa sedang dibunuh pelan-pelan oleh pangeranku sendiri. 26 Desember 2006 ketika semua dilanda musibah, aku lagi-lagi  diuji oleh Tuhan. Kehilangan malaikat-malaikatku, orang tuaku dan kenangan kita. Sampai sudah bencana menyertaiku dengan lengkap, kamu masih saja enggan pulang. Ada apa?
Dag..Dig..Dug..
Malam itu. Senangnya, kamu yang akan pulang setelah sekian lama. Aku rasanya ingin mencium senja. Tiba-tiba setelah menerima telepon darimu, aku merasa jantungku tidak lagi berdegup. Bahkan sepertinya aku sudah merasa diriku tak hidup. Benar saja, ternyata aku sudah di dalam kubur.
“Ibu ingin menyusul kalian Nak, Ma tunggu aku. Akhirnya…….” Kataku setengah berbisik.
                                                            ***



                                                                                                            Mei 2011

Surat

Lantunan kidung jiwa yang mengalun
Diantara nafasnafas menggebu
Kemudian bibir yang sejenak terdiam
Dijamah suara loncenglonceng rindu yang menggema
Mencipta rangkai nada
Untuk seberkas cinta yang sudah terjalin
Diantara senja
Membakar bekunya darah yang menggumpal
Dan lagi
Ketika senja perlahan memasuki pelupuk mataku
Aku menikmati setiap silaunya
Kepada kamu;
Ku titipkan rindu yang menggebu
Dari semilirnya angin yang masuk
Lewat celah jendela kamarmu





22 Januari

Saturday, September 14, 2013

Sudah tiga tahun lamanya, aku terkurung di dalam paksaan yang membuatku ingin cepat-cepat bebas. Dan sudah tiga tahun itu pula, aku menyukai dunia puisi. Entahlah.
          Dalam masa-masa penjara, dari teknologi internet aku pun sering cari tahu tentang perkumpulan yang aku sendiri merasa ingin cepat-cepat bergabung ketika lulus nanti. Bergulat dengan waktu yang sangat mengancam, pada akhirnya aku diizinkan untuk bertemu dengan orang-orang yang biasanya hanya ku perhatikan dari jauh, ya….. lewat internet. Ketika sudah menyandang ‘calon Mahasiswa’ aku pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan orang sekelilingku tentang organisasi kampus yang akan ku ikuti dan tentu saja ku minati, “Bengkel Sastra,”Jawabku pasti.
          Alasanku dengan mantap ingin sekali mengikuti Bengkel Sastra karena aku tlah jatuh cinta kepada sastra dengan cara tiba-tiba, puisi terutama. Ya. Sedari awal aku masuk dunia teknik namun ketika di luar jam pelajaran aku begitu aktif di kegiatan seni peran. Di dalam pelajaran pun, yang paling aku tunggu-tunggu adalah pelajaran Bahasa Indonesia ya walaupun memang seminggu hanya sekali dan hanya dua jam lamanya, tetapi aku begitu menikmati apalagi kalau soal pembahasan kajian puisi.
            Cara ketika aku di gulatkan oleh pilihan yang sangat sulit antara membantah Ayah atau dengan pilihanku namun akan mengecewakan Ayah tentunya. Ketika itu aku mencoba untuk membuktikan dengan berbagai macam cara supaya Ayah percaya dan memperbolehkanku mendalami ilmu sastra di universitas itu, terutama ikut Bengkel Sastra. Sejauh aku menjuarai beberapa lomba baca puisi tingkat sekolah bahkan tingkat pelajar SMA/SMK di daerahku, namun kedua orang tuaku tidak mengetahuinya. Entahlah apa jadinya kalau mereka mengetahuinya……… Belum tentu mereka bangga padaku. Aku meyakinkan dengan nilai-nilaiku disekolah serta keaktifanku diorganisasi yang pernah aku pimpn, kemudian kepada Ibu Guru Bahasa Indonesiaku yang selalu aku ajak untuk berdiskusi masalahku dengan Ayahku, Ia begitu mengerti. Bahkan, Ia pun sempat bertemu dengan Ayahku supaya aku diperbolehkan di sastra.
            Mengapa Ayahku melarangku di sastra? Ayah berpendapat bahwa sastra itu tidak jelas, seperti orang tidak waras dan masa depannya tidak menentu. Artinya, Ayah amat sangat tidak mengizinkanku untuk melanjutkan kuliah bidang sastra. Ia tetap ingin aku menjadi perempuan teknik, seperti apa yang Ia dambakan. Apa yang terjadi denganku? Aku diam saja? Oh tentu tidak. Aku berusaha menjelaskan baik-baik bahwa kuliah sangat berbeda dengan sekolah. Dulu memang aku nurut apa kata Ayah supaya aku di teknik, supaya dunia kerja lebih mudah dan aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, hebatnya itu kata Ayah. Aku juga menjelaskan bahwa bukti-bukti prestasiku di sastra serta aku ikut andil dalam penerbitan salah satu Koran nomor satu di Bekasi, Ayah akhirnya mengalah.
            Siapa-siapa saja yang menentangku selain Ayah? Banyak. Teman-temanku kini di universitas pun agak aneh ketika mengetahui aku dulu lulusan teknik. Belum lagi saudara-saudaraku dan lagi-lagi Ayah pun sempat berkata, “Kak, kamu dulu Ayah sekolahin nggak murah lho. Habis berjuta-juta dan Ayah agak kcewa kamu malah mau ambil sastra”. Aku pun tersenyum menyinyir.
            Dimana tempat pertama kali aku bisa menginjakkan kakiku dengan dunia Bengkel Sastra? Wah, itu sulit dilupakan. Ketika aku selesai wawancara jurusan kemudian aku diajak untuk buka puasa bersama. Aku pun menyetujui. Ku kira entah di tempat mana aku sudah berandai-andai. Ketika aku tlah sampai, Yayasan Lingkar Pena. Ya! Aku pernah melihatnya di internet dahulu. Bunda Helvy! Aku bertemu dengannya! Padahal dahulu aku sangat mengidam-idamkan bertemu dengannya sampai aku memohon di twitter agar aku diucapkan ulang tahun ketika ulang tahunku yang ke-17, ulang tahun yang bertanggal sama seperti anaknya. Aku juga sempat mengikuti lomba baca puisi yang pernah Ia adakan di Youtube. Aku serasa mimpi kala itu. Aku bersama senior-seniorku yang pasti mereka adalah orang-orang hebat tentunya.
            Aku juga berterima kasih kepada Kak Risty Sivareza dan Kak Nilam karena mereka adalah orang yang pertama kali aku kenal di dunia Bengsas. Aku juga merasa beruntung karena kakak-kakak cantik ini tlah baik memberiku banyak cerita agar aku siap menghadapi dunia kampus dan dunia ketika di Bengsas. Terima kasih, Kak!
            Dan kini, waktu trus berjalan hingga aku sampai pada Latihan Alam 4 Bengkel Sastra. Ya, aku kini mengikuti kegiatan Bengkel Sastra. Aku merasa amat sangat nyaman di Bengkel. Bertemu dengan pemain-pemain hebat dan suasana yang membuat ini menjadi sebuah keluarga besar, walaupun aku baru beberapa bulan di Bengkel. Aku bahkan tujuanku kuliah bukan untuk mengikuti mata kuliah tetapi aku ingin Bengsas! Ya! Itu yang ku tunggu-tunggu tiap senja. Allah, terima kasih tlah mengizinkanku untuk tetap pada pilihanku dan juga pada pertemuanku pada orang-orang hebat seperti mereka. Untuk kedua orang tuaku, terutama Ayah…. Aku tidak akan pernah lupa kepada janjiku bahwa aku pada pilihanku namun aku akan membuktikan bahwa sastra bukanlah hal yang negatif untukku bahkan ketika aku mengikuti kegiatan yang masih bernaung pada sastra, Bengkel Sastra.
           
Kamis, 8 November 2012 23:07 WIB
Dianovka Kusumastuty-1G Sastra Indonesia
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012

SEBUAH KALENG



terselip di peron enam
melambai-lambai seperti
ingin dipungut
nyaring sekali
disusul harum
bekas minuman
sebuah kaleng
bekas ditenggak pemabuk ujung gang
mendadak kereta menampar dengan laju
yang sangat
bisa dibilang kencang
terlempar jauh dari stasiun
tempat sebelumnya
seminggu yang lalu

sebuah kaleng
tanpa nama












Oktober 2012

(buat FF)

Kamu berdiri

dihadapan kami

kemudian mengurai rambut

menyisir-nyisir lembut

sebentar melirik ke arahku

lirik lagi lalu tersenyum

'Allahu akbar'

kamu menyebutnya

sambil menguap

ternyata...

                                                                                             kamu ingin teh hangat




29 Mei, Teater Terbuka.
Disini. Kami tertahan oleh hujan. Bilik-bilik yang mulai basah. Tanah yang mulai merekah. Tawa yang makin sumringah. Ada dua pasang mata yang semakin tajam memandangi. Kemudian terdiam. Ternyata kami diperhatikan dengan seksama. Terdiam. Ada kalut diselimuti malam. Ada saja yang heran. Ketika langkah kian memudar. Lagi-lagi tertahan oleh hujan. Apa salah cemburu? Cemburu yang membabi buta, kata orang itu perumpamaan. Ketus lain kali aku benar-benar takingin menyapa lagi. Padahal nekat, sebentar aku melirik. Kemana? Ternyata ada. Sedang mengumpat, sebentar mengulir senyum. Indah namun pasi.

                   Larung pada embun, taklagi semu pada enggan yang ku namai sosok; Tuan




Aku terus mencibir pada sesuatu yang bernama rindu. Lagi. Kau bilang lagi, semalam aku ingat. Apa ini namanya? Coba beritahu... Aku....



Juni,2012.

HALAMAN BUKU

Dari buku
                Tanpa kulit muka
                Tanpa kulit belakang
inilah
                selembar halamannya
                dibuka tangan matahari pagi
                setelah jari telunjuknya
                sempat dijilat embun


Jangan tanya
                mana halaman sebelumnya
               

Inilah    
                selembar halaman baru
                terang karena sorot lampu neon


                                Apa bisamu
                                                hanya
                                                menatap
                                                saja?

                                               
                                                ***

Alangkah hiruk-pikuknya halaman ini
Pawai menjerit-jerit
Semua meneriakkan mimpi missal manusia
Arak-arakan pamflet
                bergerak dan bergerak terus
                huruf-huruf besar berjingkrak-jingkrak
                dari kuburan ke kuburan
Mereka semua mengaku bernama mimpi
                                mimpi kita sekalian, teriak mereka
                                termasuk mimpiku konon

Tapi kukenal mimpiku
Yang ini semua
                jelas
                                                : bukan!