Wednesday, October 1, 2014

PUJANGGA MALAM

Pujangga Malam

Terduduk aku pada bibir trotoar dan ditemani belasan anak jalanan yang kelaparan. Pada genangan bekas hujan tadi sore, aku melihat tulisan-tulisanku abai dihempas kontemporer. Pada paragraf kedua di puisi keenam belas yang kubuat sewaktu SMP, aksaranya luntur. Anak jalanan masih kelaparan. Sedangkan aku, masih mematung menyelesaikan tulisan. Tak tahu sebetulnya aku menulis untuk apa, siapa dan mengapa tulisan ini harus ada.
                “Jangan suka asal menulis puisi, nanti ditolak redaksi,” kata si Isteri. Aku pusing setengah mati. Sebab, tidak ada yang lebih dipikiri selain bagaimana caranya membeli susu untuk bayi kami. Menjadi pemburu berita lalu menyerahkannya kepada editor supaya naik cetak sebetulnya tidak mudah. Sebab lagi, sastra rupanya kurang bisa diandalkan untuk mengganjal perut. Demi kelangsungan hidup, kutanya lagi isteri alasannya mau dijadikan sampai ke pernikahan. Karena, sudah termakan banyak rayuan jawabnya. Rayuanku?
                                                                                                                ***

Esok pagi, ini sudah harus menjadi berita yang paling menggegerkan. Gedung yang sudah cukup lama menjadi acuan berbahasa, katanya sementara dipindahkan. Aku membuat berita tersebut dengan semena-mena. Kutulis di sana bahwasannya ini tidak lepas dari para ahli yang menjadi korban politik berdalih. Ingat, ini demi membeli susu untuk bayi kami. Namun beruntunglah aku memperisteri yang tidak terlalu banyak menuntut. Seperti katanya tempo hari, Ia ingin kunikahi lantaran kenyang puisi. Ini agak membuatku bernafas lega. Dan malam ini, masih dengan anak jalanan yang kelaparan aku terbentur satu tulisan (yang tidak bisa kuselesaikan). Entah apa sebabnya, akhir-akhir ini aku sering banyak pikiran. Padahal kukira otakku sudah mau pecah hanya karena sekerdus susu bayi. Aku dan isteri kelaparan sebetulnya tak apa, kita masih punya tetangga. Kutengok kembali tulisanku, sebetulnya darinya aku bisa dapat apalagi selain susu bayi? Kupandangi, kubaca lagi, kueja kembali barangkali ada diksi yang tidak puisi. Bahkan ini bisa jadi membawaku pada jeruji besi. Ah, kupikir hanya barangkali…
Tak seperti siang yang terik, lampu lalu lintas yang jatuh pada merah justru sepi diantri kendaraan. Aku masih belum bisa bergegas dari tulisan ini. Kutengok ke arah anak jalanan, mereka telah diranggas malam yang semakin kuduk. Lalu di sini, akupun masih saja terduduk.

                Guyonan isteriku ada benarnya juga. Jangan asal menulis puisi, katanya. Sambil mengaduk kopi sisa memungut dari pasar Pagi. Maklum, kami ini keluarga yang hanya bertengger pada puisi. Beberapa kali aku mangkir dari redaksi. Ini semua tidak banyak untuk menghasilkan uang, tidak terlalu menjadikan perut kenyang. Tapi lagi-lagi cuma puisi yang paling budi pekerti.

Jaket pemberian mantan pacar sewaktu SMA dulu rupanya tak bisa menghangatkanku malam ini. Sama rupanya seperti yang pernah kami jalani, karena hanya ingin didapati lalu lenyap ditelan birahi. Seharusnya sudah tak kupakai lagi jaket ini. Tapi bisa apa, aku cuma punya ini. Kembali lagi ke persoalan tulisan, apakah Ia bisa menjadi sebungkus makanan atau akan menjadi penolakan yang begitu memalukan? Aku ketar-ketir sebetulnya. Pukul satu pagi. Percayalah, hutang yang paling abadi bukanlah uang melainkan tulisan. Jujur, sudah berapa banyak tulisan yang molor kukerjakan. Jangan tulisan, naskah orang lain pun menumpuk di surat elektronik dan belum sempat kurampungi. Maklum lagi, aku masih memikirkan susu bayi. Kalau hanya permintaan tolong dari seorang teman kupikir tidak apa. Soal menulis, aku memang sangat berada di dalam fantasi pada tengah malam begini. Malam ini kupilih di trotoar. Di depan layar komputer menurutku sudah diambil alih oleh para penulis kancil yang hanya satu-dua tahun terkenal lalu rilis buku. Dengan kertas seadanya, pena dengan tinta hampir habis kucoba selesaikan tulisan:

Malam bertambah dingin,
Dilarung sepi
Pujangga seperti aku ini.
Hanya beberapa bait puisi,
Sebab
Aku ini terus ditikam kata-kata
(yang tak boleh kehabisan kata-kata),
pula.

                                                                                     Rawamangun Muka, 1 Oktober 2014 

No comments:

Post a Comment