Pujangga Malam
Terduduk aku pada bibir
trotoar dan ditemani belasan anak jalanan yang kelaparan. Pada genangan bekas
hujan tadi sore, aku melihat tulisan-tulisanku abai dihempas kontemporer. Pada
paragraf kedua di puisi keenam belas yang kubuat sewaktu SMP, aksaranya luntur.
Anak jalanan masih kelaparan. Sedangkan aku, masih mematung menyelesaikan
tulisan. Tak tahu sebetulnya aku menulis untuk apa, siapa dan mengapa tulisan
ini harus ada.
“Jangan suka asal menulis puisi,
nanti ditolak redaksi,” kata si Isteri. Aku pusing setengah mati. Sebab, tidak
ada yang lebih dipikiri selain bagaimana caranya membeli susu untuk bayi kami.
Menjadi pemburu berita lalu menyerahkannya kepada editor supaya naik cetak
sebetulnya tidak mudah. Sebab lagi, sastra rupanya kurang bisa diandalkan untuk
mengganjal perut. Demi kelangsungan hidup, kutanya lagi isteri alasannya mau
dijadikan sampai ke pernikahan. Karena, sudah termakan banyak rayuan jawabnya.
Rayuanku?
***
Esok pagi, ini
sudah harus menjadi berita yang paling menggegerkan. Gedung yang sudah cukup
lama menjadi acuan berbahasa, katanya sementara dipindahkan. Aku membuat berita
tersebut dengan semena-mena. Kutulis di sana bahwasannya ini tidak lepas dari
para ahli yang menjadi korban politik berdalih. Ingat, ini demi membeli susu
untuk bayi kami. Namun beruntunglah aku memperisteri yang tidak terlalu banyak
menuntut. Seperti katanya tempo hari, Ia ingin kunikahi lantaran kenyang puisi.
Ini agak membuatku bernafas lega. Dan malam ini, masih dengan anak jalanan yang
kelaparan aku terbentur satu tulisan (yang tidak bisa kuselesaikan). Entah apa
sebabnya, akhir-akhir ini aku sering banyak pikiran. Padahal kukira otakku
sudah mau pecah hanya karena sekerdus susu bayi. Aku dan isteri kelaparan
sebetulnya tak apa, kita masih punya tetangga. Kutengok kembali tulisanku,
sebetulnya darinya aku bisa dapat apalagi selain susu bayi? Kupandangi, kubaca
lagi, kueja kembali barangkali ada diksi yang tidak puisi. Bahkan ini bisa jadi
membawaku pada jeruji besi. Ah, kupikir hanya barangkali…
Tak seperti siang
yang terik, lampu lalu lintas yang jatuh pada merah justru sepi diantri
kendaraan. Aku masih belum bisa bergegas dari tulisan ini. Kutengok ke arah
anak jalanan, mereka telah diranggas malam yang semakin kuduk. Lalu di sini,
akupun masih saja terduduk.
Guyonan isteriku ada benarnya
juga. Jangan asal menulis puisi, katanya. Sambil mengaduk kopi sisa memungut
dari pasar Pagi. Maklum, kami ini keluarga yang hanya bertengger pada puisi.
Beberapa kali aku mangkir dari redaksi. Ini semua tidak banyak untuk
menghasilkan uang, tidak terlalu menjadikan perut kenyang. Tapi lagi-lagi cuma
puisi yang paling budi pekerti.
Jaket pemberian
mantan pacar sewaktu SMA dulu rupanya tak bisa menghangatkanku malam ini. Sama
rupanya seperti yang pernah kami jalani, karena hanya ingin didapati lalu
lenyap ditelan birahi. Seharusnya sudah tak kupakai lagi jaket ini. Tapi bisa
apa, aku cuma punya ini. Kembali lagi ke persoalan tulisan, apakah Ia bisa
menjadi sebungkus makanan atau akan menjadi penolakan yang begitu memalukan?
Aku ketar-ketir sebetulnya. Pukul satu pagi. Percayalah, hutang yang paling
abadi bukanlah uang melainkan tulisan. Jujur, sudah berapa banyak tulisan yang molor kukerjakan. Jangan tulisan, naskah
orang lain pun menumpuk di surat elektronik dan belum sempat kurampungi. Maklum
lagi, aku masih memikirkan susu bayi. Kalau hanya permintaan tolong dari
seorang teman kupikir tidak apa. Soal menulis, aku memang sangat berada di
dalam fantasi pada tengah malam begini. Malam ini kupilih di trotoar. Di depan
layar komputer menurutku sudah diambil alih oleh para penulis kancil yang hanya
satu-dua tahun terkenal lalu rilis buku. Dengan kertas seadanya, pena dengan
tinta hampir habis kucoba selesaikan tulisan:
Malam bertambah dingin,
Dilarung sepi
Pujangga seperti aku ini.
Hanya beberapa bait puisi,
Sebab
Aku ini terus ditikam kata-kata
(yang tak boleh kehabisan
kata-kata),
pula.
Rawamangun Muka, 1
Oktober 2014
No comments:
Post a Comment