DIANOVKA KUSUMASTUTY
Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Universitas Negeri Jakarta
Oka Rusmini, seorang
perempuan Bali keturunan kasta Brahmana dan tetiba jatuh cinta dengan pria
muslim bernama Arief Prasetya ini tlah membuat saya ingin menyingkap buku
kumpulan puisi ‘Patiwangi’, karyanya sendiri. Masyarakat Bali sendiru, dikenal
tegas soal urusan kasta. Maka itulah, sejak cinta yang dimulai dari
pertentangan keluarga dengan alasan kasta dan agama, lahirlah sebuah karya
kumpulan-kumpulan puisi Oka yang begitu menggambarkan sosoknua dengan gamblang
dihantui pilihan antara cinta dan adat. Bagaimana unsur feminis dan sturktural
genetik melihat kasus ini pada puisi-puisi Oka?
P
|
Saat ini,
pengkajian puisi cenderung dilakukan hanya pada penelaahan teksnya saja. Dalam
artian, pengkajian dilakukan hanya dengan melihat unsur — unsur yang membangun
karya tersebut dari dalam, sedangkan unsur di luar teks seperti peranan
pengarang cenderung diabaikan. Hal ini tentunya tidaklah tepat,karena pemaknaan
teks sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan berbahaya
karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas,kepribadian, cita-cita,
dan juga norma — norma yang dipegang teguh oleh pengarang. Berpijak dari
pengalaman ini, hendaknya pengkajian puisi dilakukan secara keseluruhan:
pengkajian dipusatkan pada unsur — unsur yang membangun dari dalam, kemudian
dipadukan dengan unsur — unsur di luar puisi tersebut. Salah satu kajian yang
memenuhi kriteria di atas ialah kajian strukturalisme genetik. Dengan kajian
ini, dapat dipastikan penikmat akan mendapatkan makna totalitas puisi.
Dan uraian
— uraian di atas kita menyadari bahwa betapa pentingnya sastra dalam kehidupan.
Oleh karena itu, pengajaran sastra perlu mendapatkan perhatian dan lebih
diintensifkan lagi dan guru pembina sastra, mulai dari jenjang pendidikan dasar
hingga pendidikan tinggi. Sejauh ini pengajaran sastra Indonesia masih
mengalami hambatan. Hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak yang
berkecimpung dalam sastra Indonesia untuk selalu berusaha menemukan alternatif
pemecahannya. Kegiatan mengapresiasi sastra berkaitan erat dengan latihan
mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat,
budaya, dan lingkungan hidup. Puisi dibangun dalam bentuk ciptaan yang utuh dan
menyatu. Setiap unsur dalam puisi mempunyai fungsi tertentu dan selalu
mempunyai hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.
Dalam kesusastraan konvensional dinyatakan bahwa puisi
adalah salah satu karya sastra yang terikat dengan bait dan irama, tetapi dalam
perkembangan selanjutnya puisi tidak terikat lagi dengan konvensi tersebut. Ada beberapa pengertian puisi
yang dikemukakan oleh beberapa ahli seperti di bawah ini.
Menurut
Wordsworth dalam Pradopo (1987: 6), bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang
imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sedangkan Auden
masih dalam Pradopo (1987 : 6), mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan
pernyataan perasaan yang bercampur baur.
Walaupun
kedua batasan puisi di atas memberikan tekanan pada segi perasaan, tetapi
terdapat juga beberapa perbedaan. Hal ini tidaklah perlu diherankan, karena
yang satu menitikberatkan pada pernyataan perasaan yang imajinatif, sedangkan
yang lainnya memberikan tekanan pada pernyataan perasaan yang bercampur baur.
Tetapi keduanya sependapat bahwa sarana untuk itu adalah bahasa emosional,
bahasa berirama yang matang dan tepat guna.
Selanjutnya
Mulyana dalam Antara (1986 : 79), menjelaskan bahwa puisi adalah sintesis dan
berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan proses jiwa
yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam
salah satu bentuk.
Dan ketiga
pandangan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ekspresi dan
pengalaman jiwa yang menggunakan bahasa yang matang dan tepat guna yang
tersusun dalam salah satu bentuk. Oleh karena setiap puisi merupakan ekspresi
dan pengalaman jiwa, maka pertama sekali yang diperoleh bila membaca puisi
adalah pengalaman. Semakin banyak seseorang membaca puisi serta menikmatinya,
maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh dan dinikmatinya, terlebih
lagi pengalaman kehidupan batin.
Sebagaimana
telah diketahui, bahwa suatu karya sastra (puisi) sebenarnya merupakan hasil
pekerjaan kreatif, yang dibangun dan dua unsur pokok yaitu unsur intrinsik
sebagai unsur dalam dan unsur ekstninsik sebagai unsur luar. Unsur — unsur yang
terkandung dalam kedua unsur tersebut masing — masing memiliki fungsi, namun
demikian, unsur yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Selain itu,
telah disepakati bahwa ramuan suatu keindahan adalah dapat dilihat dan segi
tata bentuknya. Tata bentuk pada dasarnya menunjuk pada kepastian dan
keterpaduan bentuk — bentuk itu. Itulah wujud pemahaman unsur — unsur pembangun
sebuah karya sastra (puisi), atau dapat juga dikatakan anatomi puisi, seperti
karya sastra selain prosa dan drama, yang dapat dikaji dan bermacam — macam
aspeknya. Karena itu, dalam konsep analisa puisi in akan dibicarakan bagaimana
menganalisa puisi berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik sehingga dapat
dipahami totalitas maknanya.
Penelitian
strukturalisme genetik, menelaah karya sastra dan dua sudut yaitu intrinsik dan
ekstrinsik. Studi diawali dan kajian unsur intrinsik ( kesatuan dan
koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan
berbagai unsur dengan realitas masyarakatnya. Karya sastra dipandang sebagai
sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik,
ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa — peristiwa penting dan zamannya akan
dihubungkan langsung dengan unsur — unsur intrinsik karya sastra.
Puisi
(sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu
dianalisis sehingga dapat diketahui bagian — bagian serta jalinannya secara
nyata. Analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian dua bentuk dan isi
belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek dan
Warren, via Pradopo, 1987: 14).
Untuk
menganalisa puisi setepat — tepatnya perlulah diketahui apakah sesungguhnya
puisi itu. Puisi sebagai suatu hasil karya kreatif manusia, yang merupakan
perwujudan rekaman dan interpretasi pengalaman dan pemikiran manusia yang
digubah dalam wujud yang paling berkesan dengan menggunakan bahasa sebagai
media, itu harus dimengerti sebagai sebuah struktur. Jadi, kesatuan unsur —
unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal — hal atau
benda yang berdiri sendiri melainkan hal — hal itu sating terkait, dan saling
bergantung.
Strukturalisme
genetik merupakan salah satu pendekatan untuk memahami puisi. Kajian mi
mendasarkan pendekatannya dengan dua prinsip pokok yaitu strukturalisme dan
genetik, tetapi kelemahan strukturalisme dikoreksi dengan memasukkan faktor
genetik di dalam pemahaman sastra. Genetik karya sastra artinya asal — usul
karya sastra itu, dalam hal mi adalah pengarang dan latar belakang pengarang
yang melatarbelakangi penciptaan sastra itu (Teeuw, 1984:153).
Sementara
itu Damono dalam Djojosuroto (2005 : 37) mengungkapkan bahwa karya sastra
sebagai hasil kegiatan kultural tidak dapat dipahami di luar totalitas
kehidupan dalam masyarakat yang telah melahirkan karya tersebut. Karya sastra
tidak dapat ditafsirkan maknanya secara sahih jika diceraikan dan pengarangnya
dan hubungan sosio historis yang telah terlihat di dalamnya. Apabila kedua
faktor itu ditiadakan maka hasil penafsiran itu akan berupa gambaran sepihak
atau hanya berupa sebagian dan kenyataan yang harus dikemukakan.
Dan dua
pendapat di atas, dapat disimpulkan strukturalisme genetik berusaha meneliti
teks sastra dan segi struktur, dengan melihat komponen-komponen yang
membangunnya dan hubungan antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuan
dan keutuhan teks, lalu dicari hubungannya dengan aspek sosial-budaya yang
melatarbelakanginya.
Teeuw
mengungkapkan bahwa penafsiran terhadap karya sastra yang mengabaikan pengarang
sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya karena penafsiran tersebut akan
mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma- norma yang
dipegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu (1984 : 173).
Pengabaian
unsur masyarakat berarti pengkajian sastra menjadi pincang. Pandangan dunia
yang ditampilkan pengarang lewat permasalahan tokohnya merupakan suatu struktur
global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang
bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang
dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. Pandangan dunia itu
memperoleh bentuk konkret di dalam karya sastra. Pandangan dunia bukan fakta.
Pandangan dunia tidak memiliki eksistensi obyektif, tetapi merupakan ekspresi teoritis
dan kondisi dan kepentingan suatu golongan masyarakat tertentu.
Sejalan
dengan pandangan di atas, lebih lanjut Budiman mencetuskan gagasan sastra
kontekstual, yang berarti, karya sastra tidak dapat dipisahkan dan konteks
masyarakat baik asal maupun tujuannya. Asal artinya sumber penciptaan karya
sastra tidak dapat lepas dan konteks sosial budaya penyair. Tujuan artinya
karya sastra ditujukan untuk masyarakat pembaca tertentu yang konteksnya sudah
dibayangkan oleh penyair. Konteks penyair dan keadaan sosial budaya begitu kuat
berpengaruh pada karya sastra. Oleh karana itu, penafsiran makna puisi harus
mempertimbangkan konteks penyair dan sosial budayanya (Djojosuroto, 2005 : 38).
Akhirnya
dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalisme genetik mempunyai segi-segi
yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi,apabila pengkajiannya sendiri tidak
melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya
sastra, di samping memperhatikan faktor - faktor sosiologis, serta menyadari
sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan
memanfaatkan faktor imajinasi.
Penyair
sebagai kreator tidak akan bisa melepaskan latar belakang sosial dan
kenyataan-kenyataan yang telah dialami (mimesis). Misalnya, pandangan penyair
mengenai filsafat, sosial, psikologi dan religinya. Oleh karena itu, untuk
memperkuat gagasan tentang pendekatan ini dalam pemahaman puisi, maka berikut
ini akan ditemukan uraian tentang relevansi pendekatan strukturalisme genetik
dalam membahas puisi Indonesia, antara lain:
1. Puisi-puisi W.S.
Rendra sebagian besar adalah rekaman kehidupan pribadinya dan kenyataan sosial
masyarakat. Kumpulan puisinya, Romansa,
Blues untuk Bonie, dan Potret Pembangunan dalam Puisi berhubungan dengan
latar belakang kehidupan penyair dan kenyataan sosial yang terjadi pada saat
puisi itu diciptakan. Romansa menggambarkan kisah percintaan Rendra dan Sunarti
Suwandi. Blues untuk Bonie melukiskan kritik sosial terhadap situasi sosial di
sekitar Rendra dan berhubungan dengan krisis iman dalam din penyair (Kinayati
Djojosuroto, 2005:40-41).
2. Puisi Sapardi
Djoko Damono yang berjudul “Telinga” berhubungan dengan cerita Jawa “Dewa Ruci”
(Damono, 1983:9). Selanjutnya kembali puisi Sapardi yang berjudul “Pertapa”
harus ditafsirkan berdasarkan cerita Jawa Bagawan Mintaraga. Puisi Sapardi yang
berjudul “Perahu Kertas” harus ditafsirkan berdasarkan cerita “Nabi Nuh”
(Damono, 198:46).
Demikianlah
relevansi pendekatan strukturalisme genetik jika digunakan untuk menafsirkan
makna puisi Indonesia. Banyak kata — kata khas yang hanya dapat ditafsirkan
dengan memahami konteks penyair dan latar belakang proses penciptaan. Hubungan
antara penyair dan proses penciptaan sangat besar peranannya dalam memberi
jawaban atas makna puisi itu.
Oleh sebab itu kedua unsur itu sulit untuk dilepaskan.
***

Sebelum mengupas adanya kekentalan
feminisme dan mengupas secara
struktualisme genetik pada puisi-puisi Oka Rusmini, pada jurnal ini hanya suatu
penelitian kecil dalam puisi-puisi pengarang perempuan Indonesia modern yang
melakukan pemberontakan melalui tulisan-tulisannya dengan latar belakang
kehidupannya di Bali sebagai keturunan Brahmana. Kemudian menikah dengan pria
muslim dan beda kasta pula. Maka, geramlah Ayah Oka yang membawa Oka kepada
upacara Adat yang disebut ‘Patiwangi’. Dengan
adanya pengkajian melalui kajian feminisme dan unsur strukturalisme genetik,
kita semua dapat memahami mengapa Oka Rusmini selalu menulis karya-karyanya
(puisi; seperti yang akan kita bahas dalam jurnal ini).
Upacara Berdampak
Psikologis
Kehidupan kelam Oka
Rusmini yang Ia tulis dalam sajak-sajaknya merupakan suatu penyegaran dalam
kesusasteraan modern di kalangan pengarang perempuan Indonesia, mengangkay
kisah nyatanya sendiri karena penindasan kaum patriarki juga dengan
asal-usulnya sebagai keturunan kasta Brahmana, berujung duka karena harus
melakukan uoacara patiwangi.
Patiwangi sendiri merupakan upacara yang dilakukan perempuan bangsawan di Pura
Desa untuk menghilangkan kebangsawananya, karena menikahi laki-laki yang berkasta rendah.
Berikut salah satu
sajak dalam buku kumpulan puisi kara Oka Rusmini:
Patiwangi
Inilah tanah
baruku
Mata air
menentukan hidupnya
Ikan-ikan memulai
percintaan baru
Batang-batang
yang menopang daun-daun muda
Membuat upacara
penguburan
Telah kucium
beragam bunga
Dan sesajen
mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah
Suara genta
menyumbat mata angin
Tak mampu
mengantar dewa pulanh
Kubuat peta di
pura
Puta
Mengantar warnaku
pada silsilah matahari
Bumi mengeram,
tanah memendam amarah
Tak ada pecahan
suara menyelamatkan warnaku
Para lelaki
menantang matahari Penunggu warna peremouan pilihannya
Tak ada upacara
untuknya di setiap sudut Pura
Para pemangku
hanya mencium bangkai dupa
Terlalu banyak
dewa yang harus diingat
Dan para lelaki
terus meminang
Karena namaku,
kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak
kumandikan dari pilihan ini.
(1995, bagian kedua hal. 98)
Puisi diatas dengan gamblang
menjelaskan perjalanan Oka selama upacara patiwangi berlangsung. Bagaimana Ia
sebenarnya sangat yakin denngan pilhannya: pria muslim yang Ia nikahkan dan
lunturnya citra bangsawan pada dirinya.
Walau pasti keluarga akan malu
menanggung keputusannya itu, namun di bait terakhir Ia mengatakan dengan tegas (mempunyai
makna kira-kira begini); kelak Ia mempunyai keturunan dari percampuran perempua
‘bekas’ bangsawan dengan lelaki kasta
yang lebih rendah darinya. Kehidupan amat sangat baru akan dijalani Oka. Ia
akan tahu betul bagaimana akan membawa anakanaknya menjadi keturunan dengan
julukan apa, kelak.
Disamping soal feminis, sajak-sajak
Oka pun menyiratkan unsur-unsur struktualisme genetik: adanya ketidakadilan
terhadap kaum perempuan berkasta dan pertentangan sekaligus protesnya terhadap
upacara adat patiwangi. Ini sebab menjadi tekanan psikologi terhadap Oka
Rusmini yang terus berada dalam lingkup masyarakat Bali terutama kalangan
bangsawan lengkap dengan konflik kasta didalamnya.
Adat Istiadat
yang Feodal
Diawal, saya sudah menuliskan bahwa
Oka mempunyai hidup yang sangat prihatin. Disamping keluarganya tidak setuju
akibat keputusannya untuk memilih pasangan hidup pria muslim dan berkasta lebih
rendah darinya, ikut Ayahnya hijrah ke Jakarta dan Ia sempat tinggal dengan
Ayahnya di asrama tentara yang sangat disiplin dan keras. Kemudian, Ayahnya
menikah lagi dengan seorang perempuan maka lengkaplah penderitaan Oka. Itulah
sebabnya, karya-karya Oka baik cerpen, novel maupun kumpulan puisi yang
sekarang kita bahas merupakan paduan antara feminisme dan unsur gen (keturunan)
serta latar belakang kehidupan si pengarang dalam karya-karya yang dihasilkan.
***
Buku kumpulan puisi karya Oka Rusmini
ini, bisa menjadi salah satu penyemangat bagi kaum perempuan Bali yang
bersilsilahkan bangsawan dan terjebak antara cinta dan kekangan adat. Juga,
menjadikan kaum patriarki jika ingin menikah dengan perempuan Bali berkasta
tinggi tidak dengan ‘seenak jidat’ untuk bebas memilih yang mereka suka. Sebab,
bentuk keadilan tentu terlihat jelas dan nyata pada posisi si Perempuan.
Mengapa? Karena, seorang perempuan berkasta tinggi, akan menanggung beberapa
beban seperti tidak akan dipercaya lagi oleh keluarga walaupun dengan
pilihannya sendiri, status sosial dalam masyarakat yang dari dulu melekat
sebagai perempuan bangsawan bahkan sampai menentukan status keturunannya nanti
terhadap hasil percampuran dua kasta yang jauh berbeda. Belum lagi soal sang
Ayah yang menjadikannya sebuah tuntutan kehidupan yang keras, pun karena
lingkungan yang sempat Ia tinggali di Jakarta. Menjadi urban dari Bali ke
Jakarta tidaklah mudah, membuat Ia menuliskan sajak-sajak hasil kehidupan
nyatanya selama tinggal bersama Ayah yang kemudian menikah lagi dengan
perempuan lain, Antara Ayah dan Suami membuatnya semakin merasakan tekanan
psikologi, bukan?
Dan para lelaki
terus meminang
Karena namaku,
kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak
kumandikan dari pilihan ini.
Potongan sajak diatas,
cukup menjelaskan mengapa Oka Rusmini mengumpulkan 113 sajak diselektifkan
menjadikannya sebuah buku dan diambil pula patiwangi
menjadi sebuah judul buku tersebut.
Kepustakaan
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : Sinar Baru.
Antara, I.G.P. 1985. Apresiasi Puisi. Denpasar : CV Kayu Mas.
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta:
Kompas.
Atmazaki. 1990. Analisis Sajak Metodelogi dan Aplikasi. Bandung : Angkasa.
Damono, Sapardi Djoko. 1976. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta
: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djupriyanto. 1992. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya : Kandang Sari.
Djojosuroto, Kinayanti. 2005. Puisi Pendekatan dan Pembelajaran.
Bandung : Nuansa.
Jassin, H,B. 1967. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta:
Gunung Agung.
Jurnal Kritik Teori & Kajian Sastra
Nomor 4 Tahun III, 2003
Rusmini, Oka. 2003. Patiwangi. Bentang Budaya.
Tarigan, Hendry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung :
Angkasa.
Tjahyono, Liberates Tangsu. 1984. Teori Sastra Indonesia. Jakarta : PT.
Intan.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka
Jaya.
Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta :
Erlangga.
Wiryo Soedarmo, Soekono. 1984. Pengantar Ke Arah Studi Teori Sastra
Indonesia. Jember : PT. Intan.
PENULIS EDISI INI
Dianovka
Kusumastuty, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang kini sedang menempuh S1 prodi Sastra Indonesia tingkat 2 di
Universitas Negeri Jakarta. Pernah menjabat sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 45
Bekasi periode 2008-2009 dan Ketua HUMAS Palang Merah Remaja Red-Cross 45
(2008-2009), Ketua Umum Kreasi Seni Budaya SMK Negeri 2 Kabupaten Bekasi
(2011-2012) yang meliputi Divisi Teater dan Lenong, Divisi Musik (Alat musik
tradisional, Paduan Suara, Perkusi dan Band), Divisi Tari (Tradisional dan Modern
Dance), Ketua Pelaksana Ikatan Organisasi Seni antar-pelajar SMK Negeri 1&2
Kabupaten Bekasi (AKSARA&KSB) dalam acara Seni Bekasi (2011).
Menyukai bahasa
Indonesia sejak SMP dengan menciptakan musikalisasi puisi th. 2008 kemudian
menyukai puisi sejak SMK. Pernah mengikuti beberapa perlombaan di bidang seni,
diantaranya Juara II Qori’ tingkat SMP Kota Bekasi (2008), Juara III Baca Puisi
Bulan Bahasa (2010), Juara II baca puisi tingkat SMA/SMK Bekasi, Cerpennya Menulis Sastra di Kepala (2011) mendapat
Juara II Lomba Majalah Dinding di sekolah, Juara III Baca Puisi Tingkat SMA/SMK
se-Bekasi di Universitas 45 Bekasi, Juara I Lomba Baca Puisi Bulan Bahasa
(2012), Juri Baca Puisi Bulan Bahasa (2013), Pementasan ‘teater semut’ Festival
Teater Jakarta di Universitas Darma Persada (2011). Puisinya Rancu, Ayah Sebagai Sastra Dunia dan Pening (2011) pernah terpilih sebagai
puisi terbaik di rubrik Bekasi Muda (BEKSMUD)
tingkat pelajar SMA/SMK dan pernah
mengisi rubrik BeksMud Radar Bekasi hingga tahun 2012, juga di website TGP
Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Waktu
Kian Sendu, Kerut-Kerut Manis (2013), dan Ayah (2013).