Saturday, December 21, 2013

Wacana Konflik Kasta dalam Feminisme dan Struktualisme Genetik Mengkaji Buku Kumpulan Puisi ‘Patiwangi’ Karya Oka Rusmini


 
DIANOVKA KUSUMASTUTY
Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta


Oka Rusmini, seorang perempuan Bali keturunan kasta Brahmana dan tetiba jatuh cinta dengan pria muslim bernama Arief Prasetya ini tlah membuat saya ingin menyingkap buku kumpulan puisi ‘Patiwangi’, karyanya sendiri. Masyarakat Bali sendiru, dikenal tegas soal urusan kasta. Maka itulah, sejak cinta yang dimulai dari pertentangan keluarga dengan alasan kasta dan agama, lahirlah sebuah karya kumpulan-kumpulan puisi Oka yang begitu menggambarkan sosoknua dengan gamblang dihantui pilihan antara cinta dan adat. Bagaimana unsur feminis dan sturktural genetik melihat kasus ini pada puisi-puisi Oka?

P

uisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mengandung unsur keindahan. Puisi dapat dikatakan sebagai suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang obyeknya adalah manusia dengan kehidupannya. Sebagai karya sastra, selain memberikan kenikmatan seni,tentu saja puisi tersebut sarat dengan makna yang dapat dipetik untuk memperbaiki dan memperkaya kehidupan batin. Akan tetapi makna dalam puisi biasanya tidak mudah untuk dipahami dan cara penyampaian: implisit, sugestif, dan penuh dengan ambiguitas. Di samping itu, seseorang tidak dapat memahami puisi tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna. Oleh karena itu, diperlukan penalaran dan daya apresiasi yang tinggi guna memahami puisi. Pengkajian yang salah, akan menghasilkan penafsiran yang salah pula.

            Saat ini, pengkajian puisi cenderung dilakukan hanya pada penelaahan teksnya saja. Dalam artian, pengkajian dilakukan hanya dengan melihat unsur — unsur yang membangun karya tersebut dari dalam, sedangkan unsur di luar teks seperti peranan pengarang cenderung diabaikan. Hal ini tentunya tidaklah tepat,karena pemaknaan teks sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas,kepribadian, cita-cita, dan juga norma — norma yang dipegang teguh oleh pengarang. Berpijak dari pengalaman ini, hendaknya pengkajian puisi dilakukan secara keseluruhan: pengkajian dipusatkan pada unsur — unsur yang membangun dari dalam, kemudian dipadukan dengan unsur — unsur di luar puisi tersebut. Salah satu kajian yang memenuhi kriteria di atas ialah kajian strukturalisme genetik. Dengan kajian ini, dapat dipastikan penikmat akan mendapatkan makna totalitas puisi.

            Dan uraian — uraian di atas kita menyadari bahwa betapa pentingnya sastra dalam kehidupan. Oleh karena itu, pengajaran sastra perlu mendapatkan perhatian dan lebih diintensifkan lagi dan guru pembina sastra, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sejauh ini pengajaran sastra Indonesia masih mengalami hambatan. Hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak yang berkecimpung dalam sastra Indonesia untuk selalu berusaha menemukan alternatif pemecahannya. Kegiatan mengapresiasi sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup. Puisi dibangun dalam bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Setiap unsur dalam puisi mempunyai fungsi tertentu dan selalu mempunyai hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.





Dalam kesusastraan konvensional dinyatakan bahwa puisi adalah salah satu karya sastra yang terikat dengan bait dan irama, tetapi dalam perkembangan selanjutnya puisi tidak terikat lagi dengan konvensi tersebut. Ada beberapa pengertian puisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli seperti di bawah ini.
            Menurut Wordsworth dalam Pradopo (1987: 6), bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Sedangkan Auden masih dalam Pradopo (1987 : 6), mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur baur.
            Walaupun kedua batasan puisi di atas memberikan tekanan pada segi perasaan, tetapi terdapat juga beberapa perbedaan. Hal ini tidaklah perlu diherankan, karena yang satu menitikberatkan pada pernyataan perasaan yang imajinatif, sedangkan yang lainnya memberikan tekanan pada pernyataan perasaan yang bercampur baur. Tetapi keduanya sependapat bahwa sarana untuk itu adalah bahasa emosional, bahasa berirama yang matang dan tepat guna.
            Selanjutnya Mulyana dalam Antara (1986 : 79), menjelaskan bahwa puisi adalah sintesis dan berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.
            Dan ketiga pandangan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah ekspresi dan pengalaman jiwa yang menggunakan bahasa yang matang dan tepat guna yang tersusun dalam salah satu bentuk. Oleh karena setiap puisi merupakan ekspresi dan pengalaman jiwa, maka pertama sekali yang diperoleh bila membaca puisi adalah pengalaman. Semakin banyak seseorang membaca puisi serta menikmatinya, maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh dan dinikmatinya, terlebih lagi pengalaman kehidupan batin.
            Sebagaimana telah diketahui, bahwa suatu karya sastra (puisi) sebenarnya merupakan hasil pekerjaan kreatif, yang dibangun dan dua unsur pokok yaitu unsur intrinsik sebagai unsur dalam dan unsur ekstninsik sebagai unsur luar. Unsur — unsur yang terkandung dalam kedua unsur tersebut masing — masing memiliki fungsi, namun demikian, unsur yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Selain itu, telah disepakati bahwa ramuan suatu keindahan adalah dapat dilihat dan segi tata bentuknya. Tata bentuk pada dasarnya menunjuk pada kepastian dan keterpaduan bentuk — bentuk itu. Itulah wujud pemahaman unsur — unsur pembangun sebuah karya sastra (puisi), atau dapat juga dikatakan anatomi puisi, seperti karya sastra selain prosa dan drama, yang dapat dikaji dan bermacam — macam aspeknya. Karena itu, dalam konsep analisa puisi in akan dibicarakan bagaimana menganalisa puisi berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik sehingga dapat dipahami totalitas maknanya.
            Penelitian strukturalisme genetik, menelaah karya sastra dan dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dan kajian unsur intrinsik ( kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan realitas masyarakatnya. Karya sastra dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa — peristiwa penting dan zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur — unsur intrinsik karya sastra.
            Puisi (sajak) merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu dianalisis sehingga dapat diketahui bagian — bagian serta jalinannya secara nyata. Analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian dua bentuk dan isi belumlah dapat memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan (Wellek dan Warren, via Pradopo, 1987: 14).
            Untuk menganalisa puisi setepat — tepatnya perlulah diketahui apakah sesungguhnya puisi itu. Puisi sebagai suatu hasil karya kreatif manusia, yang merupakan perwujudan rekaman dan interpretasi pengalaman dan pemikiran manusia yang digubah dalam wujud yang paling berkesan dengan menggunakan bahasa sebagai media, itu harus dimengerti sebagai sebuah struktur. Jadi, kesatuan unsur — unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal — hal atau benda yang berdiri sendiri melainkan hal — hal itu sating terkait, dan saling bergantung.
            Strukturalisme genetik merupakan salah satu pendekatan untuk memahami puisi. Kajian mi mendasarkan pendekatannya dengan dua prinsip pokok yaitu strukturalisme dan genetik, tetapi kelemahan strukturalisme dikoreksi dengan memasukkan faktor genetik di dalam pemahaman sastra. Genetik karya sastra artinya asal — usul karya sastra itu, dalam hal mi adalah pengarang dan latar belakang pengarang yang melatarbelakangi penciptaan sastra itu (Teeuw, 1984:153).
            Sementara itu Damono dalam Djojosuroto (2005 : 37) mengungkapkan bahwa karya sastra sebagai hasil kegiatan kultural tidak dapat dipahami di luar totalitas kehidupan dalam masyarakat yang telah melahirkan karya tersebut. Karya sastra tidak dapat ditafsirkan maknanya secara sahih jika diceraikan dan pengarangnya dan hubungan sosio historis yang telah terlihat di dalamnya. Apabila kedua faktor itu ditiadakan maka hasil penafsiran itu akan berupa gambaran sepihak atau hanya berupa sebagian dan kenyataan yang harus dikemukakan.
            Dan dua pendapat di atas, dapat disimpulkan strukturalisme genetik berusaha meneliti teks sastra dan segi struktur, dengan melihat komponen-komponen yang membangunnya dan hubungan antar komponen tersebut. Setelah mendapatkan kesatuan dan keutuhan teks, lalu dicari hubungannya dengan aspek sosial-budaya yang melatarbelakanginya.
            Teeuw mengungkapkan bahwa penafsiran terhadap karya sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma- norma yang dipegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu (1984 : 173).
            Pengabaian unsur masyarakat berarti pengkajian sastra menjadi pincang. Pandangan dunia yang ditampilkan pengarang lewat permasalahan tokohnya merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. Pandangan dunia itu memperoleh bentuk konkret di dalam karya sastra. Pandangan dunia bukan fakta. Pandangan dunia tidak memiliki eksistensi obyektif, tetapi merupakan ekspresi teoritis dan kondisi dan kepentingan suatu golongan masyarakat tertentu.
            Sejalan dengan pandangan di atas, lebih lanjut Budiman mencetuskan gagasan sastra kontekstual, yang berarti, karya sastra tidak dapat dipisahkan dan konteks masyarakat baik asal maupun tujuannya. Asal artinya sumber penciptaan karya sastra tidak dapat lepas dan konteks sosial budaya penyair. Tujuan artinya karya sastra ditujukan untuk masyarakat pembaca tertentu yang konteksnya sudah dibayangkan oleh penyair. Konteks penyair dan keadaan sosial budaya begitu kuat berpengaruh pada karya sastra. Oleh karana itu, penafsiran makna puisi harus mempertimbangkan konteks penyair dan sosial budayanya (Djojosuroto, 2005 : 38).
            Akhirnya dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalisme genetik mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi,apabila pengkajiannya sendiri tidak melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra, di samping memperhatikan faktor - faktor sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi.
            Penyair sebagai kreator tidak akan bisa melepaskan latar belakang sosial dan kenyataan-kenyataan yang telah dialami (mimesis). Misalnya, pandangan penyair mengenai filsafat, sosial, psikologi dan religinya. Oleh karena itu, untuk memperkuat gagasan tentang pendekatan ini dalam pemahaman puisi, maka berikut ini akan ditemukan uraian tentang relevansi pendekatan strukturalisme genetik dalam membahas puisi Indonesia, antara lain:
1.   Puisi-puisi W.S. Rendra sebagian besar adalah rekaman kehidupan pribadinya dan kenyataan sosial masyarakat. Kumpulan puisinya, Romansa, Blues untuk Bonie, dan Potret Pembangunan dalam Puisi berhubungan dengan latar belakang kehidupan penyair dan kenyataan sosial yang terjadi pada saat puisi itu diciptakan. Romansa menggambarkan kisah percintaan Rendra dan Sunarti Suwandi. Blues untuk Bonie melukiskan kritik sosial terhadap situasi sosial di sekitar Rendra dan berhubungan dengan krisis iman dalam din penyair (Kinayati Djojosuroto, 2005:40-41).
2.   Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Telinga” berhubungan dengan cerita Jawa “Dewa Ruci” (Damono, 1983:9). Selanjutnya kembali puisi Sapardi yang berjudul “Pertapa” harus ditafsirkan berdasarkan cerita Jawa Bagawan Mintaraga. Puisi Sapardi yang berjudul “Perahu Kertas” harus ditafsirkan berdasarkan cerita “Nabi Nuh” (Damono, 198:46).
            Demikianlah relevansi pendekatan strukturalisme genetik jika digunakan untuk menafsirkan makna puisi Indonesia. Banyak kata — kata khas yang hanya dapat ditafsirkan dengan memahami konteks penyair dan latar belakang proses penciptaan. Hubungan antara penyair dan proses penciptaan sangat besar peranannya dalam memberi jawaban atas makna puisi itu.
Oleh sebab itu kedua unsur itu sulit untuk dilepaskan.

***
1387641416117.jpg
Sebelum mengupas adanya kekentalan feminisme dan  mengupas secara struktualisme genetik pada puisi-puisi Oka Rusmini, pada jurnal ini hanya suatu penelitian kecil dalam puisi-puisi pengarang perempuan Indonesia modern yang melakukan pemberontakan melalui tulisan-tulisannya dengan latar belakang kehidupannya di Bali sebagai keturunan Brahmana. Kemudian menikah dengan pria muslim dan beda kasta pula. Maka, geramlah Ayah Oka yang membawa Oka kepada upacara Adat yang disebut ‘Patiwangi’. Dengan adanya pengkajian melalui kajian feminisme dan unsur strukturalisme genetik, kita semua dapat memahami mengapa Oka Rusmini selalu menulis karya-karyanya (puisi; seperti yang akan kita bahas dalam jurnal ini).

Upacara Berdampak Psikologis

            Kehidupan kelam Oka Rusmini yang Ia tulis dalam sajak-sajaknya merupakan suatu penyegaran dalam kesusasteraan modern di kalangan pengarang perempuan Indonesia, mengangkay kisah nyatanya sendiri karena penindasan kaum patriarki juga dengan asal-usulnya sebagai keturunan kasta Brahmana, berujung duka karena harus melakukan uoacara patiwangi. Patiwangi sendiri merupakan upacara yang dilakukan perempuan bangsawan di Pura Desa untuk menghilangkan kebangsawananya, karena menikahi laki-laki yang berkasta rendah.
            Berikut salah satu sajak dalam buku kumpulan puisi kara Oka Rusmini:
Patiwangi

Inilah tanah baruku
Mata air menentukan hidupnya
Ikan-ikan memulai percintaan baru
Batang-batang yang menopang daun-daun muda
Membuat upacara penguburan
Telah kucium beragam bunga
Dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah
Suara genta menyumbat mata angin
Tak mampu mengantar dewa pulanh

Kubuat peta di pura
Puta
Mengantar warnaku pada silsilah matahari
Bumi mengeram, tanah memendam amarah
Tak ada pecahan suara menyelamatkan warnaku

Para lelaki menantang matahari Penunggu warna peremouan pilihannya
Tak ada upacara untuknya di setiap sudut Pura

Para pemangku hanya mencium bangkai dupa
Terlalu banyak dewa yang harus diingat
Dan para lelaki terus meminang

Karena namaku, kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak kumandikan dari pilihan ini.

(1995, bagian kedua hal. 98)

Puisi diatas dengan gamblang menjelaskan perjalanan Oka selama upacara patiwangi berlangsung. Bagaimana Ia sebenarnya sangat yakin denngan pilhannya: pria muslim yang Ia nikahkan dan lunturnya citra bangsawan pada dirinya.
Walau pasti keluarga akan malu menanggung keputusannya itu, namun di bait terakhir Ia mengatakan dengan tegas (mempunyai makna kira-kira begini); kelak Ia mempunyai keturunan dari percampuran perempua ‘bekas’ bangsawan dengan lelaki kasta yang lebih rendah darinya. Kehidupan amat sangat baru akan dijalani Oka. Ia akan tahu betul bagaimana akan membawa anakanaknya menjadi keturunan dengan julukan apa, kelak.
Disamping soal feminis, sajak-sajak Oka pun menyiratkan unsur-unsur struktualisme genetik: adanya ketidakadilan terhadap kaum perempuan berkasta dan pertentangan sekaligus protesnya terhadap upacara adat patiwangi. Ini sebab menjadi tekanan psikologi terhadap Oka Rusmini yang terus berada dalam lingkup masyarakat Bali terutama kalangan bangsawan lengkap dengan konflik kasta didalamnya.

Adat Istiadat yang Feodal

Diawal, saya sudah menuliskan bahwa Oka mempunyai hidup yang sangat prihatin. Disamping keluarganya tidak setuju akibat keputusannya untuk memilih pasangan hidup pria muslim dan berkasta lebih rendah darinya, ikut Ayahnya hijrah ke Jakarta dan Ia sempat tinggal dengan Ayahnya di asrama tentara yang sangat disiplin dan keras. Kemudian, Ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan maka lengkaplah penderitaan Oka. Itulah sebabnya, karya-karya Oka baik cerpen, novel maupun kumpulan puisi yang sekarang kita bahas merupakan paduan antara feminisme dan unsur gen (keturunan) serta latar belakang kehidupan si pengarang dalam karya-karya yang dihasilkan.

***

Buku kumpulan puisi karya Oka Rusmini ini, bisa menjadi salah satu penyemangat bagi kaum perempuan Bali yang bersilsilahkan bangsawan dan terjebak antara cinta dan kekangan adat. Juga, menjadikan kaum patriarki jika ingin menikah dengan perempuan Bali berkasta tinggi tidak dengan ‘seenak jidat’ untuk bebas memilih yang mereka suka. Sebab, bentuk keadilan tentu terlihat jelas dan nyata pada posisi si Perempuan. Mengapa? Karena, seorang perempuan berkasta tinggi, akan menanggung beberapa beban seperti tidak akan dipercaya lagi oleh keluarga walaupun dengan pilihannya sendiri, status sosial dalam masyarakat yang dari dulu melekat sebagai perempuan bangsawan bahkan sampai menentukan status keturunannya nanti terhadap hasil percampuran dua kasta yang jauh berbeda. Belum lagi soal sang Ayah yang menjadikannya sebuah tuntutan kehidupan yang keras, pun karena lingkungan yang sempat Ia tinggali di Jakarta. Menjadi urban dari Bali ke Jakarta tidaklah mudah, membuat Ia menuliskan sajak-sajak hasil kehidupan nyatanya selama tinggal bersama Ayah yang kemudian menikah lagi dengan perempuan lain, Antara Ayah dan Suami membuatnya semakin merasakan tekanan psikologi, bukan?

Dan para lelaki terus meminang

Karena namaku, kuharus punya sejarah upacara
Anakanak kelak kumandikan dari pilihan ini.

            Potongan sajak diatas, cukup menjelaskan mengapa Oka Rusmini mengumpulkan 113 sajak diselektifkan menjadikannya sebuah buku dan diambil pula patiwangi menjadi sebuah judul buku tersebut.

Kepustakaan
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang : Sinar Baru.
Antara, I.G.P. 1985. Apresiasi Puisi. Denpasar : CV Kayu Mas.
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas.
Atmazaki. 1990. Analisis Sajak Metodelogi dan Aplikasi. Bandung : Angkasa.
Damono, Sapardi Djoko. 1976. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta : Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djupriyanto. 1992. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya : Kandang Sari.
Djojosuroto, Kinayanti. 2005. Puisi Pendekatan dan Pembelajaran. Bandung : Nuansa.
Jassin, H,B. 1967. Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta: Gunung Agung.
Jurnal Kritik Teori & Kajian Sastra Nomor 4 Tahun III, 2003
Rusmini, Oka. 2003. Patiwangi. Bentang Budaya.
Tarigan, Hendry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
Tjahyono, Liberates Tangsu. 1984. Teori Sastra Indonesia. Jakarta : PT. Intan.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.
Wiryo Soedarmo, Soekono. 1984. Pengantar Ke Arah Studi Teori Sastra Indonesia. Jember : PT. Intan.



PENULIS EDISI INI

Dianovka Kusumastuty, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kini sedang menempuh S1 prodi Sastra Indonesia tingkat 2 di Universitas Negeri Jakarta. Pernah menjabat sebagai Ketua OSIS SMP Negeri 45 Bekasi periode 2008-2009 dan Ketua HUMAS Palang Merah Remaja Red-Cross 45 (2008-2009), Ketua Umum Kreasi Seni Budaya SMK Negeri 2 Kabupaten Bekasi (2011-2012) yang meliputi Divisi Teater dan Lenong, Divisi Musik (Alat musik tradisional, Paduan Suara, Perkusi dan Band), Divisi Tari (Tradisional dan Modern Dance), Ketua Pelaksana Ikatan Organisasi Seni antar-pelajar SMK Negeri 1&2 Kabupaten Bekasi (AKSARA&KSB) dalam acara Seni Bekasi (2011).
Menyukai bahasa Indonesia sejak SMP dengan menciptakan musikalisasi puisi th. 2008 kemudian menyukai puisi sejak SMK. Pernah mengikuti beberapa perlombaan di bidang seni, diantaranya Juara II Qori’ tingkat SMP Kota Bekasi (2008), Juara III Baca Puisi Bulan Bahasa (2010), Juara II baca puisi tingkat SMA/SMK Bekasi, Cerpennya Menulis Sastra di Kepala (2011) mendapat Juara II Lomba Majalah Dinding di sekolah, Juara III Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Bekasi di Universitas 45 Bekasi, Juara I Lomba Baca Puisi Bulan Bahasa (2012), Juri Baca Puisi Bulan Bahasa (2013), Pementasan ‘teater semut’ Festival Teater Jakarta di Universitas Darma Persada (2011). Puisinya Rancu, Ayah Sebagai Sastra Dunia dan Pening (2011) pernah terpilih sebagai puisi terbaik di rubrik Bekasi Muda (BEKSMUD) tingkat pelajar SMA/SMK  dan pernah mengisi rubrik BeksMud Radar Bekasi hingga tahun 2012, juga di website TGP Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta Waktu Kian Sendu, Kerut-Kerut Manis (2013), dan Ayah (2013).