Friday, June 24, 2016

AKU dan BUKU


oleh: Dianovka Kusumastuty

            Dari judulnya saja, saya harus “mengakukan” sebuah benda bernama buku. Sekumpulan kertas dipadukan dengan sampul dan halaman belakang. Benda yang pernah membuat saya dicaci beberapa orang dengan julukan kesepian dan tidak punya teman. Setidaknya, benda yang selalu membuat kacamata saya berfungsi dengan semestinya.

                                                                        ***

            Siapa yang tidak (paling tidak) membaca sebuah buku dalam satu hari? Dia tidak perlu menjadi seseorang yang cerdas, doyan membaca atau katakanlah kutu buku, penggiat donasi melaluinya (baca: buku) untuk segala perbuatan terpuji melalui anak-anak, atau sekadar pengutip sebaris-dua baris kalimat apik musabab: aih, gue banget nih quote!

            Aku dan Buku. Di sini saya akan mengganti subjek saya menjadi aku. Katakanlah supaya lebih protektif pada sebuah benda biar ajektifa ini tidak hanya milik sepasang kekasih semata. Baik. Buku, kami berteman sudah sangat lama. Apakah sejak namaku lahir menjadi Dianovka? Aku menyukai dirinya sejak Ibu Guru selalu membagikan buku-buku tiap pergantian semester. Dan aku, hanya teralihkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia (pada bagian cerpennya saja). Kebiasaan itu terus bergulir sampai aku menyadari betapa buku bukan hanya barang yang lebih menyenangkan dari sebuah permen atau waktu bermain. Dia lebih sekadar candu! Bahkan, dia pernah membuatku kekurangan uang demi mengikutsertakannya ke dalam Lomba Membaca Puisi, 2012 silam.

            Buku adalah candu. Sebuah pernyataan klasik dan pada akhirnya berdalih pada puisi. Apalagi ditambah dielu-elukan “Gila loe, anak sastra banget gak sih” dan masih banyak lagi momok perihal buku. Selama menjejaki bangku perkuliahan, tidak afdol bagiku setiap hari tidak menyelipkan buku bacaan di sela-sela tumpukkan foto kopian tugas, materi dosen, buku materi. Sehari saja lupa menyelipkannya di antara mereka, aku merasa kehilangan banyak momen. Ya! Membaca buku sehari saja bagiku seperti menjelajah dunia beribu kali. Aku bisa berimajinasi, menangkup hal-hal yang belum pernah kuketahui, menambah hal-hal yang sudah diketahui, bahkan bisa membuatku tahu ciri-ciri orang yang jatuh cinta denganku. Aw!

Oh, tidak seberlebihan itu.
            Bagiku, buku tidak pernah ada kekurangan sedikitpun. Biar cacat fisik, banyak kesalahan editor yang masih perlu dibenahi, kesensian terhadap pengarang, harga buku bagi mahasiswa berkantong pas-pasan, atau berdebu karena tak laku-laku di toko buku. Buku selalu mempunyai esensi sendiri melawan isi kepala orang-orang. Baik pemahaman diksi maupun daya tarik sampul. Percayalah.

            Aku pernah membenci buku. Libur membaca sastra dan tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Bahkan, pernah membiarkannya kedinginan dan tertumpuk begitu saja. Padahal, jika ditelaah aku harus membacanya. Bagaimanapun aku ingin menulis, aku perlu membaca. Dan harus membaca. Tidak begitu saja mata atau daya ingat bisa menuangkan ide-ide gila yang pasti tidak akan terlepas oleh sebuah buku yang pernah dibaca. Apakah sampai sini kalian masih belum percaya keajaiban sebuah buku terhadap tulisan kalian?

(oh, Tuhan.. aku tidak sedang menebar sugesti di tulisan ini)
            Selain pernah libur membaca buku, aku pernah dianggap sebagai seseorang yang sangat kesepian dan tidak punya teman. Padahal bagiku, buku lebih menyenangkan jadi lawan bicara daripada manusia. Namun, ditelaah secara logis tidak mungkin buku rampung begitu saja tanpa manusia. Kejadian itu kira-kira dua tahun silam. Padahal, aku tidak pernah membaca buku di tengah-tengah orang bicara, menghalang seseorang yang sedang lalu-lalang atau membaca ketika dosen sedang amat membosankan di dalam kelas (dengan suasana pengecualian). Buku selalu kuselipkan di antara tumpukkan foto kopian materi dosen dengan buku catatan kuliah (yang isinya lebih banyak catatan asal daripada materi kuliah). Ketika dikepung dan terus diocehi bahwa aku harus mempunyai teman dan butuh teman, hanya sesekali aku memberi jeda beberapa orang di depanku, dan kembali membaca. Apakah karena memang mereka tidak suka membaca? Dengan mudahnya berkata bahwa buku pertanda benda bagi orang-orang penyendiri dan kesepian. Ah, omong kosong. Siapapun tidak bisa menghindari buku, pikirku. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua orang tentu akan menjamahnya.
            Banyak berkelindan dengan buku, akhirnya waktu memutar balik kejadian menyakitkan. Orang-orang sekitar penasaran tentang apa saja yang pernah dan sedang kubaca. Antara kepepet tugas dari dosen maupun memang ingin lebih mencintai buku dengan membaca. Jadilah aku perpustakaan berjalan di antara teman-teman. Lambat laun buku yang kubawa bisa 3-5buku untuk dipinjamkan (pesanan dari beberapa hari lalu). Namun, aku justru senang. Cinta memang seharusnya mengalir adanya. Kita tidak pernah bisa memungkinkan suatu hal yang akan berubah-ubah di depan. Dan ini semua terjadi pada minat baca teman-teman di lingkungan sekitar.

Buku apa yang sudah kamu baca? Buku favoritmu apa? Sudah berapa banyak buku yang kamu beli? Jenis buku apa yang paling sering kamu baca?
-serta segenap pertanyaan lain dan klasik pembicaraan antara orang-orang yang sudah tahu berminat di satu ruang baca. Aku dan buku-bukuku pernah bersedih. Memang tidak banyak buku yang aku punya. Ditambah buku perpustakaan yang enggan aku kembalikan sampai sekarang. Entah mengapa aku cemburu dengan bukuku bila dikembalikan dalam keadaan tidak seperti semula atau terlipat di beberapa bagian kertasnya. Aku paling tidak pernah ingin melipat kertas untuk menandai. Bagiku, itu seperti menyakiti buku. Atau memang setiap orang punya cara tersendiri untuk merawat buku? Entahlah, namun itu caraku terhadap buku.

            Pada buku-buku milikku, 85% adalah pemberian. Mereka yang memberi secara cuma-cuma selalu tidak pernah absen untuk kupintakan satu-dua buah kalimat, tanda tangan, serta kapan buku itu diberikan. Dan mereka, yang memberikan buku-buku adalah penggila buku yang hebat. Aku masih ingat betul bagaimana buku hadiah itu selalu sampai kepadaku. Semua memberikan kesan yang baik. Aku tidak pernah mematok buku apa saja untuk kuterima. Semua kuterima, dan ternyata memang buku-buku menyenangkan yang kuterima.

            Aku tidak terlalu menyukai buku puisi karangan lelaki. Aku lebih menyukai buku-buku jender, novel feminis ataupun jurnal-jurnal sajak. Bilapun novel, Rusia lebih memegang tandingku untuk kupahami. Aku tidak bisa berkata bahwa aku membaca semua jenis buku. Namun, agak terlalu hati-hati dalam berkata lebih memilah buku bacaan. Mengatakan sejujurnya bagiku lebih baik tidak suka daripada tulisan itu tidak layak untuk dibaca. Karena menyelesaikan selembar-lima lembar alur cerita tidaklah mudah, bagaimana sebuah buku?

            Setiap jenis buku, tentu mempunyai idola mereka masing-masing. Bagiku, buku diterbitkan secara sadar maupun tidak akan memberikan dampak walaupun kita sendiri sering mengalaminya. Barangkali, hadirnya buku lebih mewakili lidah yang tak mampu menyampaikan secara acapkali. Sekalipun kalimat sakit hati.

            Sebuah buku memang menumpuk di kamar kosku. Namun, tidak semudah itu membawa sebuah buku ke dalam rumahku. Aku tidak bisa leluasa untuk membaca buku (apalagi buku-buku bertentangan). Buku dengan judul yang mengerikan, mungkin bagi orang awam, tentu akan berkali-kali menimbulkan orang mengernyitkan dahi dan melihat siapa pembacanya. Aku.
Aku senang membaca hal-hal rumit. Seperti membaca dirimu. Oh, bukan. Isi kepala orang yang membaca tentu akan berbeda sekali dengan orang yang tidak suka membaca. Membaca buku tentunya. Buku ataupun bukan buku, hasil bicara dan tulisan akan berbeda. Untuk persaingan zaman sekarang, banyak buku tercipta bukan berbentuk fisik kertas. Rasanya sangat berbeda. Membaca tetap membaca aksara. Namun, buku yang berbentuk kertas dengan sampul dan desain sampul tentu memiliki esensi jauh dengan buku digital. Itu menurutku. Buku tetaplah buku.

            Beberapa orang menghadapi sehalaman buku kemudian kalah dengan rasa kantuk. Aku pernah kesulitan membuat beberapa orang untuk tidak lekas bosan membaca. Faktor human error ternyata lekat sekali dengan kebosanan: mengantuk, tidak menarik, atau terlalu lelah sedangkan waktu senggang hanya pada saat itu saja dalam membaca. Beda dengan orang yang nyaris seluruh waktunya lebih senang membaca. Di tengah keramaian sekalipun, aku tetap bisa membaca biar sebentar. Lagi-lagi buku memang benda ajaib untuk sekadar ditengok semenit-dua menit perhalaman. Ternyata, aku menyadari bahwa minat baca pada seseorang terletak pada buku apa yang paling dia sukai. Kemudian, melatihnya untuk membaca satu hari minimal 10 halaman. Dan, aku pernah berhasil membuat hal itu terjadi.

Setelah membaca, buku tidak kubiarkan untuk begitu saja berlalu di kepala. Aku perlu teman bicara (selain buku) untuk membicarakan buku yang pernah kubaca ini. Setidaknya, kalaupun tidak bisa dengan buku yang sama, aku membicarakan isi buku atau sesuatu yang masih berkaitan dengan kilas balik. Untuk para blogger mungkin sudah hal lumrah membuat ulasan mengenai buku. Manfaatnya, bisa untuk referensi orang lain dan memberikan reward terhadap penulis buku tersebut. Memang menyenangkan sekali bila aku bertemu orang-orang penggila buku dengan bacaan serupa.

            Buku ibarat telur. Menulis adalah hal paling sering disepelekan. Membaca adalah kegiatan yang seharusnya setiap orang wajib memulainya sebelum dia benar-benar ingin terjun ke dalam kepenulisan apapun genre bacaannya. Penulis adalah suatu profesi remeh bagi beberapa kaum yang merasa pekerjaan mereka lebih oke, mungkin, daripada penulis itu sendiri. Dan sastra, adalah bacaan tebal membosankan dengan diksi-diksi sulit dipahami bagi sebagian orang.

            Namun, kita tilik sekarang. Sudah banyak sekali orang yang mudah merangkai kata-kata, berpuisi, menulis cerpen, menerbitkan buku dengan berbagai jenis bacaan, dan lainnya. Aku melihat buku seperti sesuatu yang istimewa. Kala peluncuran, buku akan diperkosa habis baik-buruknya. Semua orang menanti-nanti dari sampul hingga penutup. Buku disorot begitu hebat. Harusnya, seseorang yang terjun ke dalam profesi kepenulisan, pandai menyusun diksi, ahli menulis, mengedit, cerdas berbahasa, patut berbangga hati. Karena dengan bahasa dan buku, semua bidang membutuhkannya. Aku terus memuji buku, bagaimana aku lebih bersemangat mengunjungi rak sastra paling pojok di sebuah mall dengan pengarang-pengarang mumpuni.




Jadi, apakah kalian yakin bahwa mencintai buku atau mencintai seseorang yang mencintai buku akan lebih membuatmu jatuh cinta----dengan cara dia menggenggammu lewat kata dan juga menjadikanmu sebagai alasan berkarya, yakinkah?





Bekasi, 24 Juni