oleh: Dianovka Kusumastuty
Dari judulnya saja, saya harus
“mengakukan” sebuah benda bernama buku.
Sekumpulan kertas dipadukan dengan sampul dan halaman belakang. Benda yang
pernah membuat saya dicaci beberapa orang dengan julukan kesepian dan tidak punya
teman. Setidaknya, benda yang selalu membuat kacamata saya berfungsi dengan
semestinya.
***
Siapa yang tidak (paling tidak)
membaca sebuah buku dalam satu hari? Dia tidak perlu menjadi seseorang yang
cerdas, doyan membaca atau katakanlah
kutu buku, penggiat donasi melaluinya (baca: buku) untuk segala perbuatan
terpuji melalui anak-anak, atau sekadar pengutip sebaris-dua baris kalimat apik
musabab: aih, gue banget nih quote!
Aku
dan Buku. Di sini saya akan mengganti subjek saya menjadi aku. Katakanlah supaya lebih protektif pada sebuah benda biar
ajektifa ini tidak hanya milik sepasang kekasih semata. Baik. Buku, kami
berteman sudah sangat lama. Apakah sejak namaku lahir menjadi Dianovka? Aku menyukai dirinya sejak
Ibu Guru selalu membagikan buku-buku tiap pergantian semester. Dan aku, hanya
teralihkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia (pada bagian cerpennya saja).
Kebiasaan itu terus bergulir sampai aku menyadari betapa buku bukan hanya
barang yang lebih menyenangkan dari sebuah permen atau waktu bermain. Dia lebih
sekadar candu! Bahkan, dia pernah membuatku kekurangan uang demi
mengikutsertakannya ke dalam Lomba Membaca Puisi, 2012 silam.
Buku adalah candu. Sebuah pernyataan
klasik dan pada akhirnya berdalih pada puisi. Apalagi ditambah dielu-elukan
“Gila loe, anak sastra banget gak sih” dan masih banyak lagi momok perihal
buku. Selama menjejaki bangku perkuliahan, tidak afdol bagiku setiap hari tidak
menyelipkan buku bacaan di sela-sela tumpukkan foto kopian tugas, materi dosen,
buku materi. Sehari saja lupa menyelipkannya di antara mereka, aku merasa
kehilangan banyak momen. Ya! Membaca buku sehari saja bagiku seperti menjelajah
dunia beribu kali. Aku bisa berimajinasi, menangkup hal-hal yang belum pernah
kuketahui, menambah hal-hal yang sudah diketahui, bahkan bisa membuatku tahu
ciri-ciri orang yang jatuh cinta denganku. Aw!
Oh,
tidak seberlebihan itu.
Bagiku, buku tidak pernah ada
kekurangan sedikitpun. Biar cacat fisik, banyak kesalahan editor yang masih
perlu dibenahi, kesensian terhadap pengarang, harga buku bagi mahasiswa
berkantong pas-pasan, atau berdebu karena tak laku-laku di toko buku. Buku
selalu mempunyai esensi sendiri melawan isi kepala orang-orang. Baik pemahaman
diksi maupun daya tarik sampul. Percayalah.
Aku pernah membenci buku. Libur
membaca sastra dan tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Bahkan, pernah
membiarkannya kedinginan dan tertumpuk begitu saja. Padahal, jika ditelaah aku
harus membacanya. Bagaimanapun aku ingin menulis, aku perlu membaca. Dan harus
membaca. Tidak begitu saja mata atau daya ingat bisa menuangkan ide-ide gila
yang pasti tidak akan terlepas oleh sebuah buku yang pernah dibaca. Apakah
sampai sini kalian masih belum percaya keajaiban sebuah buku terhadap tulisan
kalian?
(oh,
Tuhan.. aku tidak sedang menebar sugesti di tulisan ini)
Selain pernah libur membaca buku,
aku pernah dianggap sebagai seseorang yang sangat kesepian dan tidak punya
teman. Padahal bagiku, buku lebih menyenangkan jadi lawan bicara daripada
manusia. Namun, ditelaah secara logis tidak mungkin buku rampung begitu saja
tanpa manusia. Kejadian itu kira-kira dua tahun silam. Padahal, aku tidak
pernah membaca buku di tengah-tengah orang bicara, menghalang seseorang yang
sedang lalu-lalang atau membaca ketika dosen sedang amat membosankan di dalam
kelas (dengan suasana pengecualian). Buku selalu kuselipkan di antara tumpukkan
foto kopian materi dosen dengan buku catatan kuliah (yang isinya lebih banyak
catatan asal daripada materi kuliah). Ketika dikepung dan terus diocehi bahwa
aku harus mempunyai teman dan butuh teman, hanya sesekali aku memberi jeda
beberapa orang di depanku, dan kembali membaca. Apakah karena memang mereka
tidak suka membaca? Dengan mudahnya berkata bahwa buku pertanda benda bagi
orang-orang penyendiri dan kesepian. Ah, omong kosong. Siapapun tidak bisa
menghindari buku, pikirku. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua orang tentu
akan menjamahnya.
Banyak berkelindan dengan buku,
akhirnya waktu memutar balik kejadian menyakitkan. Orang-orang sekitar
penasaran tentang apa saja yang pernah dan sedang kubaca. Antara kepepet tugas dari dosen maupun memang
ingin lebih mencintai buku dengan membaca. Jadilah aku perpustakaan berjalan di
antara teman-teman. Lambat laun buku yang kubawa bisa 3-5buku untuk dipinjamkan
(pesanan dari beberapa hari lalu). Namun, aku justru senang. Cinta memang
seharusnya mengalir adanya. Kita tidak pernah bisa memungkinkan suatu hal yang
akan berubah-ubah di depan. Dan ini semua terjadi pada minat baca teman-teman
di lingkungan sekitar.
Buku apa yang sudah
kamu baca? Buku favoritmu apa? Sudah berapa banyak buku yang kamu beli? Jenis
buku apa yang paling sering kamu baca?
-serta segenap
pertanyaan lain dan klasik pembicaraan antara orang-orang yang sudah tahu
berminat di satu ruang baca. Aku dan buku-bukuku pernah bersedih. Memang tidak
banyak buku yang aku punya. Ditambah buku perpustakaan yang enggan aku
kembalikan sampai sekarang. Entah mengapa aku cemburu dengan bukuku bila
dikembalikan dalam keadaan tidak seperti semula atau terlipat di beberapa
bagian kertasnya. Aku paling tidak pernah ingin melipat kertas untuk menandai.
Bagiku, itu seperti menyakiti buku. Atau memang setiap orang punya cara
tersendiri untuk merawat buku? Entahlah, namun itu caraku terhadap buku.
Pada buku-buku milikku, 85% adalah
pemberian. Mereka yang memberi secara cuma-cuma selalu tidak pernah absen untuk
kupintakan satu-dua buah kalimat, tanda tangan, serta kapan buku itu diberikan.
Dan mereka, yang memberikan buku-buku adalah penggila buku yang hebat. Aku
masih ingat betul bagaimana buku hadiah itu selalu sampai kepadaku. Semua
memberikan kesan yang baik. Aku tidak pernah mematok buku apa saja untuk
kuterima. Semua kuterima, dan ternyata memang buku-buku menyenangkan yang
kuterima.
Aku tidak terlalu menyukai buku
puisi karangan lelaki. Aku lebih menyukai buku-buku jender, novel feminis
ataupun jurnal-jurnal sajak. Bilapun novel, Rusia lebih memegang tandingku
untuk kupahami. Aku tidak bisa berkata bahwa aku membaca semua jenis buku.
Namun, agak terlalu hati-hati dalam berkata lebih memilah buku bacaan.
Mengatakan sejujurnya bagiku lebih baik tidak suka daripada tulisan itu tidak
layak untuk dibaca. Karena menyelesaikan selembar-lima lembar alur cerita
tidaklah mudah, bagaimana sebuah buku?
Setiap jenis buku, tentu mempunyai
idola mereka masing-masing. Bagiku, buku diterbitkan secara sadar maupun tidak
akan memberikan dampak walaupun kita sendiri sering mengalaminya. Barangkali,
hadirnya buku lebih mewakili lidah yang tak mampu menyampaikan secara acapkali.
Sekalipun kalimat sakit hati.
Sebuah buku memang menumpuk di kamar
kosku. Namun, tidak semudah itu membawa sebuah buku ke dalam rumahku. Aku tidak
bisa leluasa untuk membaca buku (apalagi buku-buku bertentangan). Buku dengan
judul yang mengerikan, mungkin bagi orang awam, tentu akan berkali-kali
menimbulkan orang mengernyitkan dahi dan melihat siapa pembacanya. Aku.
Aku senang
membaca hal-hal rumit. Seperti membaca dirimu. Oh, bukan. Isi kepala orang yang
membaca tentu akan berbeda sekali dengan orang yang tidak suka membaca. Membaca
buku tentunya. Buku ataupun bukan buku, hasil bicara dan tulisan akan berbeda.
Untuk persaingan zaman sekarang, banyak buku tercipta bukan berbentuk fisik
kertas. Rasanya sangat berbeda. Membaca tetap membaca aksara. Namun, buku yang
berbentuk kertas dengan sampul dan desain sampul tentu memiliki esensi jauh
dengan buku digital. Itu menurutku. Buku tetaplah buku.
Beberapa orang menghadapi sehalaman
buku kemudian kalah dengan rasa kantuk. Aku pernah kesulitan membuat beberapa
orang untuk tidak lekas bosan membaca. Faktor human error ternyata lekat sekali dengan kebosanan: mengantuk,
tidak menarik, atau terlalu lelah sedangkan waktu senggang hanya pada saat itu
saja dalam membaca. Beda dengan orang yang nyaris seluruh waktunya lebih senang
membaca. Di tengah keramaian sekalipun, aku tetap bisa membaca biar sebentar.
Lagi-lagi buku memang benda ajaib untuk sekadar ditengok semenit-dua menit
perhalaman. Ternyata, aku menyadari bahwa minat baca pada seseorang terletak
pada buku apa yang paling dia sukai. Kemudian, melatihnya untuk membaca satu
hari minimal 10 halaman. Dan, aku pernah berhasil membuat hal itu terjadi.
Setelah membaca,
buku tidak kubiarkan untuk begitu saja berlalu di kepala. Aku perlu teman
bicara (selain buku) untuk membicarakan buku yang pernah kubaca ini.
Setidaknya, kalaupun tidak bisa dengan buku yang sama, aku membicarakan isi
buku atau sesuatu yang masih berkaitan dengan kilas balik. Untuk para blogger mungkin sudah hal lumrah membuat
ulasan mengenai buku. Manfaatnya, bisa untuk referensi orang lain dan
memberikan reward terhadap penulis
buku tersebut. Memang menyenangkan sekali bila aku bertemu orang-orang penggila
buku dengan bacaan serupa.
Buku ibarat telur. Menulis adalah
hal paling sering disepelekan. Membaca adalah kegiatan yang seharusnya setiap
orang wajib memulainya sebelum dia benar-benar ingin terjun ke dalam
kepenulisan apapun genre bacaannya.
Penulis adalah suatu profesi remeh bagi beberapa kaum yang merasa pekerjaan
mereka lebih oke, mungkin, daripada penulis itu sendiri. Dan sastra, adalah
bacaan tebal membosankan dengan diksi-diksi sulit dipahami bagi sebagian orang.
Namun, kita tilik sekarang. Sudah
banyak sekali orang yang mudah merangkai kata-kata, berpuisi, menulis cerpen,
menerbitkan buku dengan berbagai jenis bacaan, dan lainnya. Aku melihat buku
seperti sesuatu yang istimewa. Kala peluncuran, buku akan diperkosa habis
baik-buruknya. Semua orang menanti-nanti dari sampul hingga penutup. Buku
disorot begitu hebat. Harusnya, seseorang yang terjun ke dalam profesi
kepenulisan, pandai menyusun diksi, ahli menulis, mengedit, cerdas berbahasa, patut
berbangga hati. Karena dengan bahasa dan buku, semua bidang membutuhkannya. Aku
terus memuji buku, bagaimana aku lebih bersemangat mengunjungi rak sastra
paling pojok di sebuah mall dengan pengarang-pengarang mumpuni.
Jadi, apakah
kalian yakin bahwa mencintai buku atau mencintai seseorang yang mencintai buku
akan lebih membuatmu jatuh cinta----dengan cara dia menggenggammu lewat kata
dan juga menjadikanmu sebagai alasan berkarya, yakinkah?