Bekasi
dalam Kenangan
Salam kenangan.
1998, Cibitung-Bekasi. Ayah
membeli rumah di sini. Aku yang baru lulus sebuah taman kanak-kanak di Kebon
Nanas, Jakarta Timur dan saat itu sedang diwisuda tanpa orangtua. Ya. Ayah
sedang bekerja dan Mama sibuk menata barang-barang untuk diangkut sedemikian
rupa untuk kami sekeluarga pindah rumah. Sebenarnya tak rela meninggalkan
Jakarta, tempat kelahiranku. Di sini sudah banyak teman dari kecil apalagi
dididik dan diasuh oleh kakek-nenek karena kedua orangtua sibuk bekerja. Disaat
semua bahagia karena didampingi orangtua saat diwisuda, kecuali aku yang hanya
berdandan ala kadarnya, dibantu Ibu Guru tercinta. Usai wisuda, sore kami
berangkat ke Cibitung. Mendengar namanya saja saya sudah sangat asing. Ayah
memilih sebuah perumahan yang belum terlalu ramai bahkan hanya beberapa yang
baru berpenghuni karena perumahan ini baru selesai dan masih harus dibangun
kembali.
Perumahan Bekasi Regensi 2, disini rumah baru kami. Tetangga bisa dihitung dengan jari. Aku, yang sewaktu itu masih menjadi anak tunggal dan sangat bosan di rumah. Umurku belum mencukupi karena lulus TK terlalu dini. Sepi. Sangat sepi. Hanya beberapa yang baru kami kenal. Ah ya, dari logat berbicara disini pun aneh. Aku selalu tertawa geli bersama Mama kalau ada yang berkata 'Het deh bocah ora danta pisan' 'bagenin bae' 'bocah mablang ya mpok' dsb. Lucu sekali. Apalagi kalau ada nenek-nenek 'ngangon' kambing lewat di depan rumah kami. Logatnya selalu begitu. Tidak Beliau saja, ada juga tukang sayur dengan teriakkan khasnya 'mpok nyayur mpok lah ini kita udah bawa sayuran banyak inih' apalagi kalau menawarkan dagangannya sambil masuk ke dalam rumah 'yeuila mpok rumahnya gede bangat da ah inih kita copot sendal duluyak tar ubinnya kotor.' Haduh, sungguh lucu. Seiring waktu, keluarga kami pun lekas akrab dengan para tetangga. Bahkan kami lebih dari disebut layaknya keluarga. Cibitung, 2000 aku mulai bersekolah di SDN Wanasari 12 dan Mama baru melahirkan adik lelaki aku beberapa bulan lalu. Karena perumahan kami pada waktu itu masih terlalu angker dan sangat sepi, bahkan harus melewati kali yang begitu seram dan bersebrangan langsung dengan sebuah kampung. Di sekolah, ternyata tidak hanya aku saja yang bukan warga asli Bekasi. Dan setelah lulus SD aku mempunyai impian untuk melanjutkan ke salah satu SMP Negeri favorit di Tambun Selatan, SMPN 1 TamSel. Apalah takdir berkata enggan, aku tergeser dengan mereka yang menyogok. Padahal, aku merasa mampu dan bisa ketika menjalani tes tulis serta pencapaian nilai-nilaiku semasa SD. Ayah tentu kecewa denganku. Ia, hampir menyekolahkanku di salah satu sekolah swasta islam di Tambun. Tetapi Mama berusaha menyekolahkanku di negeri bagaimanapun caranya. Singkat cerita, Mama menemukan salah satu SMP Negeri di kecamatan Cibitung yang memang masih membutuhkan siswa. Spontan aku sangat gembira karena sekolah yang masih negeri tanpa tes.
Ternyata, sekolah yang akan aku tempati adalah sekolah di lokasi terpencil jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Apalagi, kehidupan di perumahan sudah mulai ramai pada waktu itu. Harus 2x naik angkot untuk menuju ke sana. Yap. SMPN 3 Cibitung tepatnya di Desa Kertamukti. Sekolahnya ternyata masih menumpang dengan SD. Aku sungguh malu. Sebab, dahulu aku bersekolah di SDN yang bertaraf nasional juga teman-teman yang mayoritas bukan warga asli Bekasi. Tapi disini? Hampir rasanya tidak mau bersekolah di sini. Sekolah di kampung dengan teman-teman yang mayoritas tak ku kenal. Ada beberapa teman SD juga satu perumahan denganku dan sekarang pun satu SMP. Hanya beberapa. Kemana-mana kami bersama bahkan sempat terjadi konflik pertemanan ketika kami sedang membeli jajan, sekelompok geng terkenal dan mereka asli Bekasi pada waktu itu berkata "ih pegih yuk ada bocah perumahan ora mau begaul ama kita. sombong." Aduh, siapa juga yang nggak mau bergaul dengan kalian, kita cuma takut. pun, bahasa mereka nggak sepenuhnya kami tahu maknanya apa, kataku dalam hati. Soal makanan pun jujur aku sempat jijik karena didominasi oleh petai dan jengkol yang di rumah tidak pernah mama masak. Baunya sangat menyengat membuatku kadang tidak nafsu makan ketika jam istirahat berlangsung. Di tahun kedua bersekolah di sini, aku dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua OSIS. Rasanya senang cuma agak sedikit takut jika mengatur tingkah laku mereka yang aku anggap berbeda denganku dan beberapa teman lainnya (yang tinggal di perumahan juga). Semua tlah dilewati. Menjenguk teman sakit, berdiskusi soal pelajaran dan organisasi, tegur sapa, senda gurau, dan semua perihal adaptasiku kini mulai luntur dengan mereka. Ternyata, di balik itu semua, aku jadi tahu soal bagaimana sisi lain dari Bekasi dari mereka yang ternyata warga asli sini. Dari cara berpikir, logat, kesenian hingga jenis makanan. Terkadang, kita selalu tidak mau ingin tahu soal kehidupan yang sama sekali berbeda jauh dengan kita. Padahal, itu merupakan pengalaman berharga yang takkan datang di lain kedua. Kesederhanaan mereka, selalu kuingat sampai detik ini. Bahkan, hanya untuk belajar mengetik (TIK) pun kami harus jauh ke SMPN 1 Tambelang (sungguh ini sangat jauh, padahal jarak rumahku ke SMPN 3 Cibitung sudah kuanggap paling jauh), hanya karena sekolah kami tidak memadai dari segi fasilitas. Padahal, dulu sewaktu SD ketika ingin TIK bisa segera mengunjungi ruang komputer. Atau ketika di rumah, langsung saja menyalakan komputer yang Ayah belikan baru beberapa bulan lalu untukku. Lagi-lagi aku belajar bagaimana susahnya untuk hidup dan jauh dari keramaian. Ya, sekolahku dua kali menumpang di SD yang berbeda. Kedua, di salah satu SD di kampung Pisang Batu. Sekolah yang kami harus lewati sebuah kali CBL (Cibitung Batas Laut) dan setiap berangkat ke sekolah, aku harus berjubel dengan para ‘mpok-mpok’ dengan bau beraneka rupa lantaran mereka usai pulang dari pasar atau sekedar keliling berjualan. 2008, SMPN 3 Cibitung resmi memiliki gedung sendiri.
Awalnya, ketika aku belum mengetahui dimana gedung baru sekolah sendiri, nyatanya terkaget-kaget karena setelah aku melihatnya, sekolah yang dihimpit kanan-kiri-depan-belakang sawah semuanya. Sungguh indah sekolahku. Belum lagi, ketika ingin menuju ke sekolah harus berjalan kaki masuk ke dalamnya walaupun dekat dengan jalan raya. Selama SMP, aku mengikuti perlombaan di salah satu SMA di daerah kota Bekasi. Sebagai SMP yang hanya berada di kawasan perkampungan, aku dan teman-teman berusaha dengan kemampuan yang kami bisa dalam bidang PMR. Ya, walaupun kami datang berbondong-bondong hanya dengan koasi yang kami sewa secara bersama. Tidak ada keminderan dalam diri ini, hanya saja sering kuingat temanku bilang ‘Set da ah, ini kolaan bagus pisan ya Pik. Kolaan kita kapan begini inih?’ aku tertawa geli mendengar logat temanku. Lucu sekali. Ingatanku setiap pulang sekolah, teman-teman yang lelaki selalu menaiki bagian atas koasi. Kelucuanku jatuh pada ingatan ketika sedang jajan. Sekolah kami tidak mempunya kantin, setiap hari kami jajan di rumah salah satu warga yang membuka warung. Ketika aku ingin mengambil suatu jajanan dan kesusahan mengambilnya, sang Ibu/mpok mereka biasa memanggilnya--Ibu warung berkata, ‘Neng, dibetot bae Neng dibetot.’ Karena aku tidak mengerti apa artinya, aku tidak menggubrisnya. Si Ibu menertawakan aku, dan kembali berkata, ‘Lu orang perumahan ora ngarti betot yak? Betot itu artinya tarik. Daritadi gue pan bilang betot bae Neng….’ Aku terdiam sangat malu disusul tawa teman-teman yang juga sedang jajan disitu. Ah, ya satu lagi. Soal penamaan di kampung tersebut sangatlah unik. Ada yang bernama Pisang Batu, Ceger, Bulak Kunyit, Kedaung dan beberapa lagi yang aku sudah agak lupa. Tetapi, tidak melupakan kenangan di dalamnya. Dan aku sangat bersyukur betul sebab bersekolah di kampung rupanya membuat kesederhanaan tidak bisa dibayar mahal begitu saja. Juga pelajaran berharga kesetiaan sesame kawan. Cibitung, 2002. Banjir besar melanda Bekasi, termasuk perumahan kami. Ya, semua disapu habis oleh banjir. Tak ada yang tersisa pada waktu itu rumah kami belum direnovasi, masih BTN asli. Setiap kali turun hujan, perumahan kami selalu dilanda banjir. Atau mungkin karena terlalu dekat dengan kali pembuangan sampah dan anehnya terkadang di antara gang lainnya, gang rumah kami-lah yang paling khusyu terendam air bah.
Tahun demi tahun sudah kami lewati sekeluarga, dan banjir terparah setelah 2002 menimpa kami di th 2012 dan th 2013. Rumah kami kini sudah direnovasi, bahkan tangga di depan rumah kami sangat tinggi untuk mengantisipasi terjadinya banjir lagi. Terakhir dilanda banjir, di ruang tamu setinggi paha orang dewasa. Apa kabar di luar? Setinggi leher orang dewasa. masyaAllah sungguh nikmat tinggal di Cibitung ini. Dulu, aku sangat malu ketika ditanya teman-teman di Jakarta 'sekarang tinggal di mana?' Jawabku, 'Cibitung.' Mereka kembali bertanya, 'Di mana tuh?' Lantas aku hanya terdiam. Juga teman-teman SD-ku dahulu bertanya 'sekarang SMP di mana Vik?' aku cuma menjawab 'SMP gue mah pelosok. Kalian pasti nggak ada yang tahu' sontak mereka meyorak dan menertawaiku terbahak-bahak. Ya sudah, bagiku sudah biasa diperolok hanya karena tinggal di Cibitung ini. Aku dan adik-adik kelasku semasa SMK pernah diundang menonton pementasan teater Arah dimana isinya mengenai pertunjukan rakyat khas Bekasi dipimpin oleh Bang Ical dimana Beliau adalah pelatih teater kami semasa SMK. Mengapa Ia mengadakan pementasan tidak di gedung teater? Agar, teater dan seni bisa lebih dekat ke penonton, begitu ujarnya. Pementasan ini gratis dan menyuguhkan beberapa kesenian tradisional khas Bekasi seperti lenong yang menggunakan logat Bekasi serta menyelipkan beberapa jenis makanan khas Bekasi yang alhasil mengundang tawa selama kami menontonnya dan sebuah tari topeng Bekasi yang dibawakan oleh seorang penari tradisional yang masih sangat belia. Disuguhkan pula silat khas Bekasi yang mana merupakan bagian dari komunitas asli Bekasi. Di Bekasi ini, aku mulai mengikuti komunitas Malam Puisi Bekasi (MPB) sejak 2013. Juga salah satu komunitas bahasa yakni Fakta Bahasa Bekasi, atau komunitas lainnya di Bekasi yang ternyata sekarang pemuda-pemudi Bekasi cenderung kreatif menyalurkannya ke dalam bentuk hal positif melalui komunitas tersebut. Bahkan, bisa dilihat jika malam minggu tiba, di tempat strategis seperti Alun-alun Kota Bekasi sangat ramai dipenuhi oleh berbagai komunitas baik dari bidang seni hingga pecinta binatang. Kembali ke ceritaku, Ayahku bekerja di Jakarta Utara, jika berangkat ke kantor harus pukul lima pagi. Dahulu, belum mempunyai kendaraan dan sangat jarang angkutan umum. Alhasil, Ayah sering naik becak yang setia menunggu di depan perumahan kami. Pemandangan itu sudah tidak adalagi. Ya, becak sudah tergeser dengan motor anak-anak muda yang ugal-ugalan atau nongkrong di kedai makanan. Bergaul dengan banyak teman yang tidak hanya dari Cibitung, usut punya usut dari dahulu yang terkenal gaul adalah anak-anak daerah Tambun. Entah dari segi ekonomi, fasilitas yang mereka punyai lebih lengkap seperti kedai makanan atau baju atau pelayanan publik. Pasar Induk Cibitung, dahulu sangat bersih dan rapi apalagi masih ada satu supermarket di sana. Kini, jika melewatinya pasti disuguhi bau sayur-mayur yang sudah membusuk ditambah tidak terlihat lagi aspal di dalam pasar yang dahulu dangat bersih kini tertumpuk sayur dan kotoran yang sangat becek. Sangat bau. Ditambah jika melewatinya ketika hujan tiba. Jangan harap kamu bisa lancar melewatinya dan tidak terlilit sayuran pada ban-ban kendaraanmu. Ya itulah. Justru pasar induk Cibitung menjadi patokan untuk menuju ke rumah. 'pasar induk masuk dalam udah nanti lewatin rel KA lurus terus sampai ketemu perumahan bekasi regensi 2 sebelah kanan' pasti begitu. Sebuah rel KA Cibitung yang selalu kami sebrangi, juga banyak menelan korban. Entah karena kelalaian petugas serta ketiadaan fasilitas yang sangat minim, petugas yang tidak berpengalaman serta kecerobohan pengguna jalan yang terus menerobos selama kereta belum melintas padahal sudah ada bunyi peringatan dan batas pawang diturunkan. Lalu siapakah yang patut disalahkan?
Perumahan Bekasi Regensi 2, disini rumah baru kami. Tetangga bisa dihitung dengan jari. Aku, yang sewaktu itu masih menjadi anak tunggal dan sangat bosan di rumah. Umurku belum mencukupi karena lulus TK terlalu dini. Sepi. Sangat sepi. Hanya beberapa yang baru kami kenal. Ah ya, dari logat berbicara disini pun aneh. Aku selalu tertawa geli bersama Mama kalau ada yang berkata 'Het deh bocah ora danta pisan' 'bagenin bae' 'bocah mablang ya mpok' dsb. Lucu sekali. Apalagi kalau ada nenek-nenek 'ngangon' kambing lewat di depan rumah kami. Logatnya selalu begitu. Tidak Beliau saja, ada juga tukang sayur dengan teriakkan khasnya 'mpok nyayur mpok lah ini kita udah bawa sayuran banyak inih' apalagi kalau menawarkan dagangannya sambil masuk ke dalam rumah 'yeuila mpok rumahnya gede bangat da ah inih kita copot sendal duluyak tar ubinnya kotor.' Haduh, sungguh lucu. Seiring waktu, keluarga kami pun lekas akrab dengan para tetangga. Bahkan kami lebih dari disebut layaknya keluarga. Cibitung, 2000 aku mulai bersekolah di SDN Wanasari 12 dan Mama baru melahirkan adik lelaki aku beberapa bulan lalu. Karena perumahan kami pada waktu itu masih terlalu angker dan sangat sepi, bahkan harus melewati kali yang begitu seram dan bersebrangan langsung dengan sebuah kampung. Di sekolah, ternyata tidak hanya aku saja yang bukan warga asli Bekasi. Dan setelah lulus SD aku mempunyai impian untuk melanjutkan ke salah satu SMP Negeri favorit di Tambun Selatan, SMPN 1 TamSel. Apalah takdir berkata enggan, aku tergeser dengan mereka yang menyogok. Padahal, aku merasa mampu dan bisa ketika menjalani tes tulis serta pencapaian nilai-nilaiku semasa SD. Ayah tentu kecewa denganku. Ia, hampir menyekolahkanku di salah satu sekolah swasta islam di Tambun. Tetapi Mama berusaha menyekolahkanku di negeri bagaimanapun caranya. Singkat cerita, Mama menemukan salah satu SMP Negeri di kecamatan Cibitung yang memang masih membutuhkan siswa. Spontan aku sangat gembira karena sekolah yang masih negeri tanpa tes.
Ternyata, sekolah yang akan aku tempati adalah sekolah di lokasi terpencil jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Apalagi, kehidupan di perumahan sudah mulai ramai pada waktu itu. Harus 2x naik angkot untuk menuju ke sana. Yap. SMPN 3 Cibitung tepatnya di Desa Kertamukti. Sekolahnya ternyata masih menumpang dengan SD. Aku sungguh malu. Sebab, dahulu aku bersekolah di SDN yang bertaraf nasional juga teman-teman yang mayoritas bukan warga asli Bekasi. Tapi disini? Hampir rasanya tidak mau bersekolah di sini. Sekolah di kampung dengan teman-teman yang mayoritas tak ku kenal. Ada beberapa teman SD juga satu perumahan denganku dan sekarang pun satu SMP. Hanya beberapa. Kemana-mana kami bersama bahkan sempat terjadi konflik pertemanan ketika kami sedang membeli jajan, sekelompok geng terkenal dan mereka asli Bekasi pada waktu itu berkata "ih pegih yuk ada bocah perumahan ora mau begaul ama kita. sombong." Aduh, siapa juga yang nggak mau bergaul dengan kalian, kita cuma takut. pun, bahasa mereka nggak sepenuhnya kami tahu maknanya apa, kataku dalam hati. Soal makanan pun jujur aku sempat jijik karena didominasi oleh petai dan jengkol yang di rumah tidak pernah mama masak. Baunya sangat menyengat membuatku kadang tidak nafsu makan ketika jam istirahat berlangsung. Di tahun kedua bersekolah di sini, aku dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua OSIS. Rasanya senang cuma agak sedikit takut jika mengatur tingkah laku mereka yang aku anggap berbeda denganku dan beberapa teman lainnya (yang tinggal di perumahan juga). Semua tlah dilewati. Menjenguk teman sakit, berdiskusi soal pelajaran dan organisasi, tegur sapa, senda gurau, dan semua perihal adaptasiku kini mulai luntur dengan mereka. Ternyata, di balik itu semua, aku jadi tahu soal bagaimana sisi lain dari Bekasi dari mereka yang ternyata warga asli sini. Dari cara berpikir, logat, kesenian hingga jenis makanan. Terkadang, kita selalu tidak mau ingin tahu soal kehidupan yang sama sekali berbeda jauh dengan kita. Padahal, itu merupakan pengalaman berharga yang takkan datang di lain kedua. Kesederhanaan mereka, selalu kuingat sampai detik ini. Bahkan, hanya untuk belajar mengetik (TIK) pun kami harus jauh ke SMPN 1 Tambelang (sungguh ini sangat jauh, padahal jarak rumahku ke SMPN 3 Cibitung sudah kuanggap paling jauh), hanya karena sekolah kami tidak memadai dari segi fasilitas. Padahal, dulu sewaktu SD ketika ingin TIK bisa segera mengunjungi ruang komputer. Atau ketika di rumah, langsung saja menyalakan komputer yang Ayah belikan baru beberapa bulan lalu untukku. Lagi-lagi aku belajar bagaimana susahnya untuk hidup dan jauh dari keramaian. Ya, sekolahku dua kali menumpang di SD yang berbeda. Kedua, di salah satu SD di kampung Pisang Batu. Sekolah yang kami harus lewati sebuah kali CBL (Cibitung Batas Laut) dan setiap berangkat ke sekolah, aku harus berjubel dengan para ‘mpok-mpok’ dengan bau beraneka rupa lantaran mereka usai pulang dari pasar atau sekedar keliling berjualan. 2008, SMPN 3 Cibitung resmi memiliki gedung sendiri.
Awalnya, ketika aku belum mengetahui dimana gedung baru sekolah sendiri, nyatanya terkaget-kaget karena setelah aku melihatnya, sekolah yang dihimpit kanan-kiri-depan-belakang sawah semuanya. Sungguh indah sekolahku. Belum lagi, ketika ingin menuju ke sekolah harus berjalan kaki masuk ke dalamnya walaupun dekat dengan jalan raya. Selama SMP, aku mengikuti perlombaan di salah satu SMA di daerah kota Bekasi. Sebagai SMP yang hanya berada di kawasan perkampungan, aku dan teman-teman berusaha dengan kemampuan yang kami bisa dalam bidang PMR. Ya, walaupun kami datang berbondong-bondong hanya dengan koasi yang kami sewa secara bersama. Tidak ada keminderan dalam diri ini, hanya saja sering kuingat temanku bilang ‘Set da ah, ini kolaan bagus pisan ya Pik. Kolaan kita kapan begini inih?’ aku tertawa geli mendengar logat temanku. Lucu sekali. Ingatanku setiap pulang sekolah, teman-teman yang lelaki selalu menaiki bagian atas koasi. Kelucuanku jatuh pada ingatan ketika sedang jajan. Sekolah kami tidak mempunya kantin, setiap hari kami jajan di rumah salah satu warga yang membuka warung. Ketika aku ingin mengambil suatu jajanan dan kesusahan mengambilnya, sang Ibu/mpok mereka biasa memanggilnya--Ibu warung berkata, ‘Neng, dibetot bae Neng dibetot.’ Karena aku tidak mengerti apa artinya, aku tidak menggubrisnya. Si Ibu menertawakan aku, dan kembali berkata, ‘Lu orang perumahan ora ngarti betot yak? Betot itu artinya tarik. Daritadi gue pan bilang betot bae Neng….’ Aku terdiam sangat malu disusul tawa teman-teman yang juga sedang jajan disitu. Ah, ya satu lagi. Soal penamaan di kampung tersebut sangatlah unik. Ada yang bernama Pisang Batu, Ceger, Bulak Kunyit, Kedaung dan beberapa lagi yang aku sudah agak lupa. Tetapi, tidak melupakan kenangan di dalamnya. Dan aku sangat bersyukur betul sebab bersekolah di kampung rupanya membuat kesederhanaan tidak bisa dibayar mahal begitu saja. Juga pelajaran berharga kesetiaan sesame kawan. Cibitung, 2002. Banjir besar melanda Bekasi, termasuk perumahan kami. Ya, semua disapu habis oleh banjir. Tak ada yang tersisa pada waktu itu rumah kami belum direnovasi, masih BTN asli. Setiap kali turun hujan, perumahan kami selalu dilanda banjir. Atau mungkin karena terlalu dekat dengan kali pembuangan sampah dan anehnya terkadang di antara gang lainnya, gang rumah kami-lah yang paling khusyu terendam air bah.
Tahun demi tahun sudah kami lewati sekeluarga, dan banjir terparah setelah 2002 menimpa kami di th 2012 dan th 2013. Rumah kami kini sudah direnovasi, bahkan tangga di depan rumah kami sangat tinggi untuk mengantisipasi terjadinya banjir lagi. Terakhir dilanda banjir, di ruang tamu setinggi paha orang dewasa. Apa kabar di luar? Setinggi leher orang dewasa. masyaAllah sungguh nikmat tinggal di Cibitung ini. Dulu, aku sangat malu ketika ditanya teman-teman di Jakarta 'sekarang tinggal di mana?' Jawabku, 'Cibitung.' Mereka kembali bertanya, 'Di mana tuh?' Lantas aku hanya terdiam. Juga teman-teman SD-ku dahulu bertanya 'sekarang SMP di mana Vik?' aku cuma menjawab 'SMP gue mah pelosok. Kalian pasti nggak ada yang tahu' sontak mereka meyorak dan menertawaiku terbahak-bahak. Ya sudah, bagiku sudah biasa diperolok hanya karena tinggal di Cibitung ini. Aku dan adik-adik kelasku semasa SMK pernah diundang menonton pementasan teater Arah dimana isinya mengenai pertunjukan rakyat khas Bekasi dipimpin oleh Bang Ical dimana Beliau adalah pelatih teater kami semasa SMK. Mengapa Ia mengadakan pementasan tidak di gedung teater? Agar, teater dan seni bisa lebih dekat ke penonton, begitu ujarnya. Pementasan ini gratis dan menyuguhkan beberapa kesenian tradisional khas Bekasi seperti lenong yang menggunakan logat Bekasi serta menyelipkan beberapa jenis makanan khas Bekasi yang alhasil mengundang tawa selama kami menontonnya dan sebuah tari topeng Bekasi yang dibawakan oleh seorang penari tradisional yang masih sangat belia. Disuguhkan pula silat khas Bekasi yang mana merupakan bagian dari komunitas asli Bekasi. Di Bekasi ini, aku mulai mengikuti komunitas Malam Puisi Bekasi (MPB) sejak 2013. Juga salah satu komunitas bahasa yakni Fakta Bahasa Bekasi, atau komunitas lainnya di Bekasi yang ternyata sekarang pemuda-pemudi Bekasi cenderung kreatif menyalurkannya ke dalam bentuk hal positif melalui komunitas tersebut. Bahkan, bisa dilihat jika malam minggu tiba, di tempat strategis seperti Alun-alun Kota Bekasi sangat ramai dipenuhi oleh berbagai komunitas baik dari bidang seni hingga pecinta binatang. Kembali ke ceritaku, Ayahku bekerja di Jakarta Utara, jika berangkat ke kantor harus pukul lima pagi. Dahulu, belum mempunyai kendaraan dan sangat jarang angkutan umum. Alhasil, Ayah sering naik becak yang setia menunggu di depan perumahan kami. Pemandangan itu sudah tidak adalagi. Ya, becak sudah tergeser dengan motor anak-anak muda yang ugal-ugalan atau nongkrong di kedai makanan. Bergaul dengan banyak teman yang tidak hanya dari Cibitung, usut punya usut dari dahulu yang terkenal gaul adalah anak-anak daerah Tambun. Entah dari segi ekonomi, fasilitas yang mereka punyai lebih lengkap seperti kedai makanan atau baju atau pelayanan publik. Pasar Induk Cibitung, dahulu sangat bersih dan rapi apalagi masih ada satu supermarket di sana. Kini, jika melewatinya pasti disuguhi bau sayur-mayur yang sudah membusuk ditambah tidak terlihat lagi aspal di dalam pasar yang dahulu dangat bersih kini tertumpuk sayur dan kotoran yang sangat becek. Sangat bau. Ditambah jika melewatinya ketika hujan tiba. Jangan harap kamu bisa lancar melewatinya dan tidak terlilit sayuran pada ban-ban kendaraanmu. Ya itulah. Justru pasar induk Cibitung menjadi patokan untuk menuju ke rumah. 'pasar induk masuk dalam udah nanti lewatin rel KA lurus terus sampai ketemu perumahan bekasi regensi 2 sebelah kanan' pasti begitu. Sebuah rel KA Cibitung yang selalu kami sebrangi, juga banyak menelan korban. Entah karena kelalaian petugas serta ketiadaan fasilitas yang sangat minim, petugas yang tidak berpengalaman serta kecerobohan pengguna jalan yang terus menerobos selama kereta belum melintas padahal sudah ada bunyi peringatan dan batas pawang diturunkan. Lalu siapakah yang patut disalahkan?
Cibitung.... terlalu banyak cerita, kenang serta suka-duka. SMK, bersekolah di salah satu SMK Negeri nomor 2 di Kab. Bekasi yang berlokasi di Cikarang yang kebanyakan orang menyebutnya kota industri. Bahkan jujur saja, aku baru mengetahui bahwa Cikarang adalah ibukota dari Kabupaten Bekasi. Tiga tahun mengenal Cikarang, juga sempat magang di salah satu perusahaan elektro di kawasan International Egypt membuatku masih belum mengenal Cikarang. Yang aku tahu hanya cukup sampai SGC. Ya, SGC disebut-sebut mal terbesar di Bekasi, entahlah. Sentra grosir paling ciamik di Bekasi. Cuma Bekasi yang menyuguhi mal sebagai pusat perbelanjaan di tengah-tengah kerumunan pasar. Mengenal Bekasi yang belum mahir rupanya, Tambun 2012 aku bersama kedua guru Bahasa Indonesia dari SMK turut menghadiri workshop sastra di Gedung Juang Tambun Selatan. Karena aku menggandrungi sastra, maka beliau-beliau ini mengajak aku untuk menyalurkan bakatku di bidang sastra dan bertujuan untuk mengenal teman-teman dari sekolah lain dan guru-guru se-Kabupaten Bekasi. Di gedung peninggalan Belanda yang sudah usang namun masih terlihat kokoh dan selalu mengeluarkan bau kotoran kelelawar ini, kami semua kedatangan salah satu penulis sastra senior di Indonesia, salah satu sastrawan. Dua hari menjalani workshop hingga membentuk kelompok musikalisasi puisi. Di sana, puisiku berkesempatan terpilih dan membacakan puisi kembali bersama rekan-rekan kelompok walaupun kita semua berbeda sekolah. Hadir pula Budayawan pantun Bekasi, Kong (aku lupa namanya). Kami diajarkan bahwa seni melalui pantun bisa saja dibuat menggunakan bahasa Bekasi, tak perlu malu dengan budaya sendiri. Beliau memberikan materi ‘situn’ yaitu puisi dan pantun. Selama workshop, aku pelan-pelan mengamati gedung juang bahkan sempat ke bagian belakang yang rupanya mempunyai sebuah sumur tua. Gedung yang akhirnya dijadikan lambang dan saksi perjuangan Kabupaten Bekasi ini rupanya menjerit untuk ditangani tidak hanya dipakai untuk sesekali dibanggakan dengan wilayah lain. Aku duduk tepat di belakang Bupati Bekasi pada waktu itu, Pak Sa'aduddin, yang turut membuka acara workshop ini. Dimeriahkan pula oleh padus Teater Korek dari Universitas Islam 45 Bekasi (perguruan tinggi kepunyaan Bekasi). Sempat membacakan puisi dan teater di Pemda, pada waktu itu diundang ekstrakurikuler kami untuk pentas di sana. Sempat pula bertengkar dengan para kakak panitia lomba baca puisi tingkat SMA se-Kota Bekasi karena mereka tidak mendahulukan sekolah kami yang memang satu-satunya yang berasal dari Kabupaten Bekasi dan alhamdulillah mendapatkan juara 3 bahkan diusir karena kesalahpahaman teknis pada waktu itu. Itulah perjuangan. Menjadi anak kabupaten yang minim fasilitas. Kabupaten yang tercinta, sudilah kiranya ternyata kita (yang katanya) mempunyai seorang Bupati yang masa bakti hampir beberapa tahun lagi. Juga melalui ajang duta pariwisata semoga kabupaten Bekasi tetap menjadi kabupaten yang masih ada budaya tertinggal baik belum/sudah diketahui dan bagaimana pula pintar dalam hal menjaga. Dan kini, Kota Bekasi menjadi lambang dalam pusat perbelanjaan kota. Sebut saja Mega Bekasi, BCP dan MM yang mereka saling berhadapan. Juga sekarang yang sedang naik daun adalah SMB (Summarecon Mall Bekasi) tempat nongkrongnya anak muda Bekasi. Tinggal di Kota ataupun Kabupaten, layaknya dua perbedaan yang menyaut diri kami adalah satu: Bekasi. 2014 karena dukungan orangtua dan teman-temanku mengikuti ajang Abang Mpok Kabupaten Bekasi. Ketika audisi pun hampir salah kostum dan belum ada persiapan dalam pendaftaran. Aku, menjawab beberapa pertanyaan juri.
Bernyanyi dan membaca puisi pun aku lakui. Lolos bersama peserta dari wilayah 5 dengan audisi ke tahap semifinal, aku rasa ini bukan ajang main-main. 8 Juni Hotel Grand Zuri---dihantar kedua orangtua dan berakhir hanya pada tahap semifinal dan ikut berbahagia kepada teman-teman seperjuangan lolos hingga tahap final. Semua yang kujalani adalah bagian mempelajari Bekasi, tidak hanya mendadak ketika ditanyakan oleh juri. Sejak 1998. Kini, menjalani kuliah di semester lima salah satu Universitas Negeri di Jakarta, membuatku tidak merasa minder menjadi 'bocah' Kabupaten. Jika ditanya kawan kampus, 'rumah lo di mana?' 'Cibitung' jawabku 'hah di mana tuh? emang kedeteksi sama google maps?' Dan aku hanya tersenyum simpul menjawabnya dalam hati 'kalian harus tahu, Cibitung, ada tawa duka pengalaman pelajaran berharga hingga kelucuan yang tak terhitung............'
Berikut kata-kata asli Bekasi
yang masih kuingat beberapa, selama bersekolah di SMPN 3 Cibitung:
ora = tidak
danta = jelas
tessi = sendok
bangen = biarin
awang = malas
ilok = masa
bae = aja
kecandak = kesampaian
orson = minuman seperti sirup
wadon = perempuan
murun = kali (bukan kali tempat air
bermuara)
gawean = kerjaan
betot = tarik
Nde = bibi
Sudah, hanya itu beberapa yang
masih kuingat.
"LAH BAGENIN BAE KITAMAH
BOCAH CIBITUNG. ORA MASALAH. APAKALIH MASALAH BUAT ELUH? BAGEN GEH RUMAH DI
BEKASI ORA DANTA. MANGNAPA?! KE BEKASI, BUDAYA BEKASI KALO BUKAN KITA NYANG
BUDAYAIN SIAPA LAGI SIH?"
Mohon maaf apabila ada kekhilafan
dalam penyampaian cerita ini, kurang lebih mohon dibukakan pintu maaf
sebesar-besarnya. Jadi, masih malu menjadi warga Bekasi?:))))
Salam.
Cibitung, 25 Agustus 2014 04:01
WIB
Tulisan ini saya buat sebagai
hadiah ulangtahun media @GoBekasi di usia menahun satu pada hari jadi.
Terimakasih @GoBekasi karena membuat saya mengingat kembali kenangan di ulu
hati. Apa dan siapa dalam mendo’a, selalu membungkus kita dalam semoga. Amin di
segala amin. Semangat selalu dalam kembang senyummu, utk para Redaksi staff dan
khususnya Pemred Radar Bekasi yang telah mendedikasikan diri utk Bekasi ini.
Hangatnya berita yang disampaikan, semoga menjadi kekal dalam ingatan. Aamiin.
Walaupun saya lebih jauh berumur ( ngga mau disebut tuwir, he he he ), saya salut dengan tulisannya, antara sedih & ketawa. Tahun 98 saya sudah 3 tahun kerja di Jakarta, aslinya jauh di Jateng. Tahun 2005 pindah ke Bekasi, baru akhir-akhir ini mulai menghayati kehidupan Bekasi. Tetap semangat.
ReplyDeleteternyata kakak ini alumni PMR SMPN 3 Cibitung ya. sebagai warga SMPN 3 Cibitung saya juga senang dengan suasana sekolah yang sebagian besar masih alami, hehehe
ReplyDelete