Beberapa langkah dari tempatku beristirahat,
terdengar jejak langkah yang semakin mendekat. Aku merasa tak biasa dengan
langkah yang semakin lama semakin dekat menuju ke arahku.
Ternyata,
kamu bersama istri barumu………………………………..
***
Kapal pesiar itu menjadi penghantar
perpisahan kami. Padahal masih ada 2 malaikat yang harus kami rawat sampai
mereka berubah menjadi bidadari, bagaimana bisa? Aku dan pangeranku tlah
merencanakannya sejak kemarin, kemarin ketika kami masih baru menjadi sepasang
ajal. Tuhan pun memutuskan sampai batas titik akhir laut memudar, Aku menangis
menatapi bayang-bayang diriku sendiri.
Aku suka senja, setidaknya Ia adalah perbatasan
mengapa kami bertemu. Mengapa kami hidup bersama sampai kini sampai esok sampai
senja kembali sampai aku mati. Tetapi senja-lah yang memisahkanku juga,
senja-lah yang beri jawaban atasku, senja-lah yang membuatku hidupku hancur
detik itu juga.
“Kamu ingat? Pasir-pasir ini adalah saksi
kita. Mungkin hanya Aku saja wanita di dunia ini yang ingin di akad hanya pada
senja datang. Aku ingin merasakan temaram! Aku ingin menjadi bayang-bayang di
pantai ini atau bahkan Aku ingin terus ada di qalbumu sampai Aku mati nanti…..”
Celotehku pada tumpukkan kertas-kertas yang Ku simpan 13 tahun lalu.
Kemudian tak lama, hidupku terkikis oleh
harapanku untuk hidup. Aku mulai lemah, Aku lebih banyak membuang-buang waktuku
hanya karna penyakitku sendiri.
“Tuhan…..tolong sampai Dia kembali…Ku mohon
Tuhan” Rintihku dalam batin.
Kedua malaikatku, ku titipkan kedua orang
tuaku. Mereka masih terlalu lugu untuk ini, Aku hanya tidak ingin menjadi Ibu
yang gagal. Setiap senja, Aku habiskan menatapi ujung air laut sampai kapal itu
kembali. Ya! Sampai kembali. Bahkan tanpa Ku sadari, hidupku semakin ringkih.
Apa penyebabnya? takdir Tuhan rupanya…
Senja manis
di bebutir pasir lembut. Lengkap dengan temaramnya…
“Semercik angin, Ku mohon cepat kembalikan
asa yang tlah lama ku ukir dibatas hidupku”, Aku tiba-tiba bergores pada
penaku.
“…………Lalu apa yang sudah ku capai selama ini?
Apa aku harus menunjukkan keputusasaanku? Apa tetap berjalan melambai sampai
pada titik rindu? Arrrrrrrgh aku sudah sayup rupanya. Aku bergerus pada
reruntuhan emosiku sendiri………………….” Lanjutku pada lembar-lembarku.
Ku toleh kembali lingkaran indah yang
melingkar pada jari manisku. Rasanya ingin ku ikutesertakan ke syurga nanti,
Ya! Aku biarkan sampai Aku tergerus ajal. Tiba-tiba pikiranku kembali
berkecambuk keadaan kedua malaikatku. Mereka akan menjadi apa nanti? Aku
termangu, langit pun ikut termangu.
Tlah ku putuskan untuk meninggalkan senja
hari itu. Di kamar, aku hanya meninggalkan beberapa lembar potongan novel yang
belum kelar. Hatiku sebenarnya enggan, kasihan anakku nanti. Tapi aku harus
egois, ya. Egois. Aku nekat pergi ke negeri manapun supaya aku sembuh. Tanpa
suamiku. Aku sudah tidak memikirkan dia. Dia yang seperti apa, dia yang
bagaimana keadaannya sekarang atau dia yang sudah bersama siapa sekarang.
Pulanglah sayang…..
Sebenarnya aku malas mendengarkan dokter
bilang apa, dengan terbata-bata Ia menyebutkan jenis penyakit itu. Ia
mengatakan pula kalau aku tidak bisa sembuh, bisa tetapi tidak total. Aku lekas
meninggalkan ruangan itu. Ku coba menghubungi pangeranku sepanjang perjalanan
pulang. Tidak bisa, sudah biasa. Aku sudah biasa sejak berbulan-bulan lalu. Dan
kini aku tak bisa akan terus berlama-lama di rumah Aku tak tega dan harus jawab
apa kepada mereka yang ku sebut malaikat.
Seperti biasa, lamunanku terus menjalar
ditemani senja. Aku kembali meneruskan tulisan-tulisan ini, padahal aku sudah
kehabisan ide. Maka ku percepat alur cerita, aku membiarkan diriku seperti
penulis tidak tahu diri. Namun aku marah kepada Tuhan, mengapa Dia tidak bisa mempercepat
kisah piluku sekarang? Mempercepat agar Ia kembali atau mempercepat kematianku.
Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menjadi hambaNya. Aku merasa sedang
dibunuh pelan-pelan oleh pangeranku sendiri. 26 Desember 2006 ketika semua
dilanda musibah, aku lagi-lagi diuji
oleh Tuhan. Kehilangan malaikat-malaikatku, orang tuaku dan kenangan kita.
Sampai sudah bencana menyertaiku dengan lengkap, kamu masih saja enggan pulang.
Ada apa?
Dag..Dig..Dug..
Malam itu. Senangnya, kamu yang akan pulang
setelah sekian lama. Aku rasanya ingin mencium senja. Tiba-tiba setelah
menerima telepon darimu, aku merasa jantungku tidak lagi berdegup. Bahkan
sepertinya aku sudah merasa diriku tak hidup. Benar saja, ternyata aku sudah di
dalam kubur.
“Ibu ingin menyusul kalian Nak, Ma tunggu
aku. Akhirnya…….” Kataku setengah berbisik.
***
Mei
2011
No comments:
Post a Comment