Sudah tiga tahun
lamanya, aku terkurung di dalam paksaan yang membuatku ingin cepat-cepat bebas.
Dan sudah tiga tahun itu pula, aku menyukai dunia puisi. Entahlah.
Dalam masa-masa penjara, dari teknologi
internet aku pun sering cari tahu tentang perkumpulan yang aku sendiri merasa
ingin cepat-cepat bergabung ketika lulus nanti. Bergulat dengan waktu yang
sangat mengancam, pada akhirnya aku diizinkan untuk bertemu dengan orang-orang
yang biasanya hanya ku perhatikan dari jauh, ya….. lewat internet. Ketika sudah
menyandang ‘calon Mahasiswa’ aku pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan orang
sekelilingku tentang organisasi kampus yang akan ku ikuti dan tentu saja ku
minati, “Bengkel Sastra,”Jawabku pasti.
Alasanku dengan mantap ingin sekali
mengikuti Bengkel Sastra karena aku tlah jatuh cinta kepada sastra dengan cara
tiba-tiba, puisi terutama. Ya. Sedari awal aku masuk dunia teknik namun ketika
di luar jam pelajaran aku begitu aktif di kegiatan seni peran. Di dalam
pelajaran pun, yang paling aku tunggu-tunggu adalah pelajaran Bahasa Indonesia
ya walaupun memang seminggu hanya sekali dan hanya dua jam lamanya, tetapi aku
begitu menikmati apalagi kalau soal pembahasan kajian puisi.
Cara ketika aku di gulatkan oleh pilihan yang sangat sulit
antara membantah Ayah atau dengan pilihanku namun akan mengecewakan Ayah
tentunya. Ketika itu aku mencoba untuk membuktikan dengan berbagai macam cara
supaya Ayah percaya dan memperbolehkanku mendalami ilmu sastra di universitas
itu, terutama ikut Bengkel Sastra. Sejauh aku menjuarai beberapa lomba baca
puisi tingkat sekolah bahkan tingkat pelajar SMA/SMK di daerahku, namun kedua
orang tuaku tidak mengetahuinya. Entahlah apa jadinya kalau mereka
mengetahuinya……… Belum tentu mereka bangga padaku. Aku meyakinkan dengan
nilai-nilaiku disekolah serta keaktifanku diorganisasi yang pernah aku pimpn,
kemudian kepada Ibu Guru Bahasa Indonesiaku yang selalu aku ajak untuk
berdiskusi masalahku dengan Ayahku, Ia begitu mengerti. Bahkan, Ia pun sempat
bertemu dengan Ayahku supaya aku diperbolehkan di sastra.
Mengapa Ayahku melarangku di sastra? Ayah berpendapat
bahwa sastra itu tidak jelas, seperti orang tidak waras dan masa depannya tidak
menentu. Artinya, Ayah amat sangat tidak mengizinkanku untuk melanjutkan kuliah
bidang sastra. Ia tetap ingin aku menjadi perempuan teknik, seperti apa yang Ia
dambakan. Apa yang terjadi denganku? Aku diam saja? Oh tentu tidak. Aku
berusaha menjelaskan baik-baik bahwa kuliah sangat berbeda dengan sekolah. Dulu
memang aku nurut apa kata Ayah supaya aku di teknik, supaya dunia kerja lebih
mudah dan aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, hebatnya itu kata
Ayah. Aku juga menjelaskan bahwa bukti-bukti prestasiku di sastra serta aku
ikut andil dalam penerbitan salah satu Koran nomor satu di Bekasi, Ayah
akhirnya mengalah.
Siapa-siapa saja yang menentangku selain Ayah? Banyak.
Teman-temanku kini di universitas pun agak aneh ketika mengetahui aku dulu
lulusan teknik. Belum lagi saudara-saudaraku dan lagi-lagi Ayah pun sempat
berkata, “Kak, kamu dulu Ayah sekolahin nggak murah lho. Habis berjuta-juta dan
Ayah agak kcewa kamu malah mau ambil sastra”. Aku pun tersenyum menyinyir.
Dimana tempat pertama kali aku bisa menginjakkan kakiku
dengan dunia Bengkel Sastra? Wah, itu sulit dilupakan. Ketika aku selesai
wawancara jurusan kemudian aku diajak untuk buka puasa bersama. Aku pun
menyetujui. Ku kira entah di tempat mana aku sudah berandai-andai. Ketika aku
tlah sampai, Yayasan Lingkar Pena. Ya! Aku pernah melihatnya di internet dahulu.
Bunda Helvy! Aku bertemu dengannya! Padahal dahulu aku sangat mengidam-idamkan
bertemu dengannya sampai aku memohon di twitter agar aku diucapkan ulang tahun ketika
ulang tahunku yang ke-17, ulang tahun yang bertanggal sama seperti anaknya. Aku
juga sempat mengikuti lomba baca puisi yang pernah Ia adakan di Youtube. Aku
serasa mimpi kala itu. Aku bersama senior-seniorku yang pasti mereka adalah
orang-orang hebat tentunya.
Aku juga berterima kasih kepada Kak Risty Sivareza dan
Kak Nilam karena mereka adalah orang yang pertama kali aku kenal di dunia
Bengsas. Aku juga merasa beruntung karena kakak-kakak cantik ini tlah baik
memberiku banyak cerita agar aku siap menghadapi dunia kampus dan dunia ketika
di Bengsas. Terima kasih, Kak!
Dan kini, waktu trus berjalan hingga aku sampai pada
Latihan Alam 4 Bengkel Sastra. Ya, aku kini mengikuti kegiatan Bengkel Sastra.
Aku merasa amat sangat nyaman di Bengkel. Bertemu dengan pemain-pemain hebat
dan suasana yang membuat ini menjadi sebuah keluarga besar, walaupun aku baru
beberapa bulan di Bengkel. Aku bahkan tujuanku kuliah bukan untuk mengikuti
mata kuliah tetapi aku ingin Bengsas! Ya! Itu yang ku tunggu-tunggu tiap senja.
Allah, terima kasih tlah mengizinkanku untuk tetap pada pilihanku dan juga pada
pertemuanku pada orang-orang hebat seperti mereka. Untuk kedua orang tuaku,
terutama Ayah…. Aku tidak akan pernah lupa kepada janjiku bahwa aku pada
pilihanku namun aku akan membuktikan bahwa sastra bukanlah hal yang negatif
untukku bahkan ketika aku mengikuti kegiatan yang masih bernaung pada sastra,
Bengkel Sastra.
Kamis, 8 November 2012
23:07 WIB
Dianovka Kusumastuty-1G
Sastra Indonesia
UNIVERSITAS NEGERI
JAKARTA
2012
No comments:
Post a Comment