Saturday, September 14, 2013

Sudah tiga tahun lamanya, aku terkurung di dalam paksaan yang membuatku ingin cepat-cepat bebas. Dan sudah tiga tahun itu pula, aku menyukai dunia puisi. Entahlah.
          Dalam masa-masa penjara, dari teknologi internet aku pun sering cari tahu tentang perkumpulan yang aku sendiri merasa ingin cepat-cepat bergabung ketika lulus nanti. Bergulat dengan waktu yang sangat mengancam, pada akhirnya aku diizinkan untuk bertemu dengan orang-orang yang biasanya hanya ku perhatikan dari jauh, ya….. lewat internet. Ketika sudah menyandang ‘calon Mahasiswa’ aku pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan orang sekelilingku tentang organisasi kampus yang akan ku ikuti dan tentu saja ku minati, “Bengkel Sastra,”Jawabku pasti.
          Alasanku dengan mantap ingin sekali mengikuti Bengkel Sastra karena aku tlah jatuh cinta kepada sastra dengan cara tiba-tiba, puisi terutama. Ya. Sedari awal aku masuk dunia teknik namun ketika di luar jam pelajaran aku begitu aktif di kegiatan seni peran. Di dalam pelajaran pun, yang paling aku tunggu-tunggu adalah pelajaran Bahasa Indonesia ya walaupun memang seminggu hanya sekali dan hanya dua jam lamanya, tetapi aku begitu menikmati apalagi kalau soal pembahasan kajian puisi.
            Cara ketika aku di gulatkan oleh pilihan yang sangat sulit antara membantah Ayah atau dengan pilihanku namun akan mengecewakan Ayah tentunya. Ketika itu aku mencoba untuk membuktikan dengan berbagai macam cara supaya Ayah percaya dan memperbolehkanku mendalami ilmu sastra di universitas itu, terutama ikut Bengkel Sastra. Sejauh aku menjuarai beberapa lomba baca puisi tingkat sekolah bahkan tingkat pelajar SMA/SMK di daerahku, namun kedua orang tuaku tidak mengetahuinya. Entahlah apa jadinya kalau mereka mengetahuinya……… Belum tentu mereka bangga padaku. Aku meyakinkan dengan nilai-nilaiku disekolah serta keaktifanku diorganisasi yang pernah aku pimpn, kemudian kepada Ibu Guru Bahasa Indonesiaku yang selalu aku ajak untuk berdiskusi masalahku dengan Ayahku, Ia begitu mengerti. Bahkan, Ia pun sempat bertemu dengan Ayahku supaya aku diperbolehkan di sastra.
            Mengapa Ayahku melarangku di sastra? Ayah berpendapat bahwa sastra itu tidak jelas, seperti orang tidak waras dan masa depannya tidak menentu. Artinya, Ayah amat sangat tidak mengizinkanku untuk melanjutkan kuliah bidang sastra. Ia tetap ingin aku menjadi perempuan teknik, seperti apa yang Ia dambakan. Apa yang terjadi denganku? Aku diam saja? Oh tentu tidak. Aku berusaha menjelaskan baik-baik bahwa kuliah sangat berbeda dengan sekolah. Dulu memang aku nurut apa kata Ayah supaya aku di teknik, supaya dunia kerja lebih mudah dan aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain, hebatnya itu kata Ayah. Aku juga menjelaskan bahwa bukti-bukti prestasiku di sastra serta aku ikut andil dalam penerbitan salah satu Koran nomor satu di Bekasi, Ayah akhirnya mengalah.
            Siapa-siapa saja yang menentangku selain Ayah? Banyak. Teman-temanku kini di universitas pun agak aneh ketika mengetahui aku dulu lulusan teknik. Belum lagi saudara-saudaraku dan lagi-lagi Ayah pun sempat berkata, “Kak, kamu dulu Ayah sekolahin nggak murah lho. Habis berjuta-juta dan Ayah agak kcewa kamu malah mau ambil sastra”. Aku pun tersenyum menyinyir.
            Dimana tempat pertama kali aku bisa menginjakkan kakiku dengan dunia Bengkel Sastra? Wah, itu sulit dilupakan. Ketika aku selesai wawancara jurusan kemudian aku diajak untuk buka puasa bersama. Aku pun menyetujui. Ku kira entah di tempat mana aku sudah berandai-andai. Ketika aku tlah sampai, Yayasan Lingkar Pena. Ya! Aku pernah melihatnya di internet dahulu. Bunda Helvy! Aku bertemu dengannya! Padahal dahulu aku sangat mengidam-idamkan bertemu dengannya sampai aku memohon di twitter agar aku diucapkan ulang tahun ketika ulang tahunku yang ke-17, ulang tahun yang bertanggal sama seperti anaknya. Aku juga sempat mengikuti lomba baca puisi yang pernah Ia adakan di Youtube. Aku serasa mimpi kala itu. Aku bersama senior-seniorku yang pasti mereka adalah orang-orang hebat tentunya.
            Aku juga berterima kasih kepada Kak Risty Sivareza dan Kak Nilam karena mereka adalah orang yang pertama kali aku kenal di dunia Bengsas. Aku juga merasa beruntung karena kakak-kakak cantik ini tlah baik memberiku banyak cerita agar aku siap menghadapi dunia kampus dan dunia ketika di Bengsas. Terima kasih, Kak!
            Dan kini, waktu trus berjalan hingga aku sampai pada Latihan Alam 4 Bengkel Sastra. Ya, aku kini mengikuti kegiatan Bengkel Sastra. Aku merasa amat sangat nyaman di Bengkel. Bertemu dengan pemain-pemain hebat dan suasana yang membuat ini menjadi sebuah keluarga besar, walaupun aku baru beberapa bulan di Bengkel. Aku bahkan tujuanku kuliah bukan untuk mengikuti mata kuliah tetapi aku ingin Bengsas! Ya! Itu yang ku tunggu-tunggu tiap senja. Allah, terima kasih tlah mengizinkanku untuk tetap pada pilihanku dan juga pada pertemuanku pada orang-orang hebat seperti mereka. Untuk kedua orang tuaku, terutama Ayah…. Aku tidak akan pernah lupa kepada janjiku bahwa aku pada pilihanku namun aku akan membuktikan bahwa sastra bukanlah hal yang negatif untukku bahkan ketika aku mengikuti kegiatan yang masih bernaung pada sastra, Bengkel Sastra.
           
Kamis, 8 November 2012 23:07 WIB
Dianovka Kusumastuty-1G Sastra Indonesia
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012

No comments:

Post a Comment