Bagaimana tulisan kembali
ke peraduan. Jalannya adalah titik temu bukan harus berdiri kokoh dibalik
tembok besar dajjal. Kemarin sore, pertemuan kopi dan perempuan berlangsung
selama 35 jam. Tidak gila bila belum berakhir di kamar hotel. Ada kerudung yang
kembang kempis----sambil menari diatas pusara. Tak sekedar di toko buku, rakrak
bedebu dan pesing karna sesak diisi karya sastra konyol (mungkin).
Jika masih ada pertanyaan
mengenai seks yang mentok karena sastra, terlampau jauh bicara soal ini. Dimana
kiblat terus berputar, bukan pada satu Mekkah rupanya. Lantas nasib calon sastrawan/sastrawati atau terlanjur penyair----katanya, di sebuah
kampus apa iya harus ditetek’i terus? Malam adalah pilihan untuk mendiskusikan
hasil leluhur, maka langkah kaki sendiri manalagi yang harus disalahkan?
Kalau buku tidak bisa
menjadi teman, carilah naskah untuk pentas di panggung sendiri. Paling tidak,
ketik naskah kemudian lakoni sendiri. Berdialoglah sendiri, seolah-olah tiga
belas aktor adalah dirimu. Jika ya, maka patutlah sastra sebagai ancaman yang
terus dipuja, dilaknat, disembah, dipanuti, atau adalagi julukan selain itu?
Kemudian, sosok berubah
menjadi nyiur di pinggir ombak dan terus berteriak;
“aku, sarjana sastra S,Kom”
(meluruh ke tanah)
No comments:
Post a Comment