Wednesday, January 1, 2014

Bagaimana tulisan kembali ke peraduan. Jalannya adalah titik temu bukan harus berdiri kokoh dibalik tembok besar dajjal. Kemarin sore, pertemuan kopi dan perempuan berlangsung selama 35 jam. Tidak gila bila belum berakhir di kamar hotel. Ada kerudung yang kembang kempis----sambil menari diatas pusara. Tak sekedar di toko buku, rakrak bedebu dan pesing karna sesak diisi karya sastra konyol (mungkin).

Jika masih ada pertanyaan mengenai seks yang mentok karena sastra, terlampau jauh bicara soal ini. Dimana kiblat terus berputar, bukan pada satu Mekkah rupanya. Lantas nasib calon sastrawan/sastrawati atau terlanjur penyair----katanya, di sebuah kampus apa iya harus ditetek’i terus? Malam adalah pilihan untuk mendiskusikan hasil leluhur, maka langkah kaki sendiri manalagi yang harus disalahkan?

Kalau buku tidak bisa menjadi teman, carilah naskah untuk pentas di panggung sendiri. Paling tidak, ketik naskah kemudian lakoni sendiri. Berdialoglah sendiri, seolah-olah tiga belas aktor adalah dirimu. Jika ya, maka patutlah sastra sebagai ancaman yang terus dipuja, dilaknat, disembah, dipanuti, atau adalagi julukan selain itu?

Kemudian, sosok berubah menjadi nyiur di pinggir ombak dan terus berteriak;

                                                                            “aku, sarjana sastra S,Kom”

*** 
(meluruh ke tanah)


                                                                                

No comments:

Post a Comment